02 Februari 2008
Kenaikan Harga Baja Hambat Proyek Konstruksi

JAKARTA (Ml) : Kenaikan harga baja hingga 30% saat ini dikhawatirkan menghambat penyelesaian berbagai proyek konstruksi di Tanah Air.

"Dampak kenaikan bahan baku baja ini bisa memperlambat penyelesaian proyek karena para kontraktor lebih memilih menunda percepatan proyek sambil menunggu turunnya harga baja di pasaran," kata Ketua Umum Asosiasi Pabrikan Tower Indonesia (Aspatindo) Ahmad Fahmi, di Jakarta, kemarin.

Dua proyek besar yang mungkin ikut tertunda karena kenaikan harga baja dunia adalah proyek pembangkit listrik 10 ribu megawatt (Mw) dan proyek pembangunan jalan tol. Berbagai proyek lainnya yang terganggu adalah pembangunan menara untuk telekomunikasi.

Ahmad mengatakan kenaikan harga baja sudah terjadi sejak enam bulan terakhir, tetapi kenaikan signifikan dirasakan dalam waktu dua bulan terakhir. Pada kuartal keempat, terjadi kenaikan baja siku yang merupakan bahan baku pembuatan menara dari Rp7.000 per kg menjadi Rp9.700 per kg.

Menurut dia, saat ini kontraktor yang telah terikat kontrak dengan PT PLN (Persero) dan pabrikan terkait dengan proyek 10 ribu Mw memang tidak terjerat masalah kenaikan biaya produksi. Namun, kontraktor yang telah menandatangani kontrak dengan PLN tetapi belum menandatangani kontrak dengan pabrikan menjadi gamang karena kenaikan biaya produksi yang drastis akibat kenaikan harga baja tersebut.

"Karena itu, kontraktor yang belum menandatangani kontrak lebih memilih menunggu hingga harga baja sedikit membaik. Yang juga mendapat imbas dari kenaikan harga baja dunia adalah industri baja yang tidak memiliki persediaan bahan baku," ujar dia.

"Pabrikan atau industri baja yang juga sudah terikat kontrak dengan kontraktor dan tidak memiliki persediaan bahan baku terpaksa menanggung kerugian akibat kenaikan biaya produk," kata Ahmad.

Sementara itu, industri yang masih memiliki persediaan bahan baku masih bisa mendapatkan keuntungan. Saat ini, menurut Ahmad, bahan baku baja di dunia semakin langka akibat ulah spekulan yang lebih memilih menahan baja hingga menyebabkan harga pasaran baja di dunia justru semakin tinggi.

Jika beberapa industri baja Tanah Air biasa lebih memilih memberi serap atau besi tua untuk dilebur dan diproses menjadi bahan baku, seperti baja siku, H beam, ataupun pelat, saat ini industri atau pabrikan terpaksa mengimpor bahan baku seperti baja siku dan pelat yang banyak diperlukan untuk pembangunan pembangkit dan distribusi listrik. (Ant/E-2)

Sumber : Media Indonesia, Page : 13 

 Dilihat : 4100 kali