03 Februari 2008
Harga Baja Naik 30 Persen

Jakarta, Probisnis RM - Ketua Umum Asosiasi Pabrikan Tower Indonesia (Aspatindo), Ahmad Fahmi mengkhawatirkan dampak kenaikan harga baja hingga 30 persen saat ini bakal menghambat penyelesaian berbagai proyek konstruksi di tanah air.

"Dampak kenaikan bahan baku baja ini bisa memperlambat penyelesaian proyek karena para kontraktor lebih memilih menunda percepatan proyek sambil menunggu turunnya harga baja di pasaran," kata Ahmad Fahmi, di Jakarta, kemarin.

Ahmad mengatakan kenaikan harga baja sudah terjadi sejak enam bulan terakhir, tetapi kenaikan signifikan dirasakan dalam waktu dua bulan terakhir. Dua proyek besar yang kemungkinan ikut tertunda dengan naiknya harga baja dunia adalah proyek pembangkit listrik 10.000 Megawatt (MW) dan proyek pembangunan jalan tol.

"Berbagai proyek lainnya yang terganggu adalah pembangunan tower untuk telekomunikasi." Pada kuartal keempat terjadi kenaikan baja siku yang merupakan bahan baku pembuatan tower dari Rp 7.000 per kilogram menjadi Rp 9.700 per kilogram. Menurut dia, saat ini kontraktor yang telah terikat kontrak dengan PT PLN (Persero) dan pabrikan terkait dengan proyek 10.000 MW memang tidak terjerat masalah naiknya biaya produksi.

Namun bagi kontraktor yang telah menandatangani kontrak dengan PLN tetapi belum menandatangani kontrak dengan pabrikan menjadi gamang karena kenaikan biaya produksi yang drastis akibat kenaikan harga baja tersebut. "Karena itu kontraktor yang belum menandatangani kontrak lebih memilih menunggu hingga harga baja sedikit membaik. Yang juga mendapat imbas dari kenaikan harga baja dunia adalah industri baja yang tidak memiliki persediaan bahan baku," jelasnya.

Bagi pabrikan atau industri baja yang juga sudah terikat kontrak dengan kontraktor dan tidak memiliki persediaan bahan baku, mereka terpaksa menanggung kerugian akibat kenaikan biaya produk. Sementara industri yang masih memiliki persediaan bahan baku masih bisa mendapatkan keuntungan.

Saat ini, lanjut Ahmad, bahan baku baja di dunia semakin langka akibat ulah spekulan yang lebih memilih menahan baja hingga menyebabkan harga pasaran baja di dunia justru semakin tinggi. "Ini jelas semakin memperbesar biaya produksi. Parahnya lagi, biasanya setelah terjadi kenaikan maka harga baja tidak serta merta turun ke harga semula tetapi turun hingga level tertentu saja," tegasnya.

Ahmad menjelaskan untuk satu produksi tower biaya produksi unluk bahan baku baja mencapai 70 persen, sedangkan galvanising biasanya hanya menghabiskan biaya 20 hingga 25 persen.

Sumber : Rakyat Merdeka, Page : 20 

 

 

 Dilihat : 4607 kali