04 Februari 2008
35 Emiten IPO Tahun Ini

JAKARTA-Ancaman resesi ekonomi AS tidak menciutkan niat para calon emiten. Sekitar 35 perusahaan, 12 di antaranya BUMN, tetap go public tahun ini. Sebagian calon emiten justru bertekad mempercepat penawaran umum perdana (IPO) saham pada semester I-2008.

Setelah pada Januari tiga perusahaan sukses melakukan IPO di Bursa Efek Indonesia (BEI), tiga perusahaan lain segera menyusul pada Februari ini, yakni VT Elnusa Tbk, PT Yanaprima Hastapersada Tbk, dan PT Truba Jaya Engineering Tbk."Kami optimistis IPO akan sukses karena hasil yang didapat selama roadshow menunjukkan banyak investor yang berminat pada saham Elnusa," kata Dirut Elnusa Eteng A Salam, kepada Investor Daily, pekan lalu.

Anak usaha PT Pertamina itu telah mendapatkan pernyataan efektif dari Bapepam-LK pada 25 Januari 2008. Dengan begitu, Elnusa siap mencatatkan sebanyak 1,46 miliar lembar (20%) saham pada 6 Februari 2008. Elnusa menghimpun dana senilai Rp 620 miliar dengan harga Rp 400. Permintaan selama proses book building kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga 11 kali. Sedangkan Truba kini masih memproses dokumen di Bapepam.

Yanaprima selaku produsen karung plastik dan kertas semen akan menawarkan 110 juta saham (15,49%). Perusahaan sudah menunjuk penjamin emisi PT Investindo Nusantara Sekuritas. "Saham Yanaprima ditawarkan seharga Rp 450-550 per saham. Price to earning ratio (PER) menca

pai sekitar 12,5-15 kali dengan asumsi memakai laba bersih pada akhir 2008," kata Vice President Head of Investment Banking Investindo Nusan
tara Sekuritas Budiono Suhandinata.

Sepanjang Januari Jftlu, tiga perusahaan sudah mencatatkan sahamnya di BEI, yaitu PT Bank Ekonomi Raharja Tbk, FP Bekasi Asri Pemula Tbk, dan PT Triwira Insanlestari Tbk.

Sementara itu, pada Maret 2008, setidaknya tiga perusahaan dipastikan masuk bursa, yakni PT Wahanaartha Harsaka Tbk, PT Destinasi Tirta Nusantara Tbk, dan PT Bank Jabar. IPO Wahana dan Destinasi awalnya direncanakan pada Februari 2008. "Ini karena alasan registrasi di Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga (Bapepam-LK). Manajemen juga tengah melengkapi data-data yang kurang, sehingga IPO baru bisa dilaksanakan awal Maret 2008," kata Dirut Wahanaartha Harsaka Robbyanto Budiman.

Sedangkan manajemen Destinasi menilai, IPO saham yang tergesa-gesa akan memengaruhi pembentukan harga saham pada saat proses book building. Oleh sebab itu, perseroan mengundur jadwal IPO hingga Maret 2008.

Animo Masyarakat Berdasarkan catatan Inventor Daily, sekitar 35 perusahaan telah menyatakan minat IPO saham hingga akhir tahun, termasuk di antaranya 12 BUMN. BEI sebelumnya menargetkan sedikitnya 30 emiten baru yang mencatatkan sahamnya di bursa, naik dibandingkan tahun lalu 24 perusahaan. Mayoritas IPO diperkirakan berlangsung pada semester 1-2008, karena harus menunggu hasil audit laporan keuangan pada 31 Desember 2007 atau kuartal pertama 2008.

Animo IPO perusahaan tambang batubara dan kebun sawit (CPO) cukup besar dan diperkirakan menghimpun dana cukup besar. Sedikitnya tiga perusahaan tambang batubara siap go public, yaitu PT Sapta Indra Sejati, PT Adaro lndonesia, dan PT Tndika Inti Energi. Masing-masing perusahaan tersebut ditaksir menghimpun dana minimal Rp 3 triliun. Sapta telah menunjuk Danareksa Sekuritas dan BNP Paribas sebagai penjamin pelaksana emisi IPO. Adaro sedang menyeleksi penjamin pelaksana seperti UBS Securities. Indika yang dimiliki Sudwikatmono telah memilih sejumlah perusahaan sekuritas lokal dan asing, antara lain Danareksa dan Indo Primier Securities.

"Nilai IPO Indika berkisar Rp 4-5 triliun dan akan masuk bursa sekitar April-Juni 2008. Dokumen terkait IPO tengah disiapkan. Ini mungkin menjadi IPO terbesar di Indonesia sepanjang tahun ini," kata Dirut Indo Primier Securities Alpino Kianjaya.

Menurut Alpino, sekuritas lainnya yang ikut menangani IPO Indika adalah Mandiri Sekuritas, Deutsche Bank, dan Citigroup. Indo Primer juga telah ditunjuk sebagai penjamin pelaksana IPO PT Bank Jabar sebesar Rp 500 miliar. IPO.diharapkan berlangsung pada akhir Februari atau awal Maret.

Tahun 2007, PT Indotambang Raya Megah Tbk merupakan satu-satunya emiten tambang batubara yang masuk bursa dan sukses menghimpun dana senilai Rp 3,3 triliun, nomor dua terbesar setelah PT Jasa Marga Tbk Rp 3,6 triliun. PT Sawit Gawi Makmur, anak usaha Grup Wings, juga tengah menyeleksi penjamin pelaksana emisi lokal dan asing.

Di samping itu, PY BNI Securities sudah mulai memproses IPO PT Bank Tabungan Pensiun Negara (BTPN) senilai Rp 500 miliar kepada Bapepam. IPO bank ini diperkirakan berlangsung pada Maret atau April 2008.

IPO 12 BUMN Tentang IPO BUMN, Menneg BUMN Sofyan Djalil dan Sekretaris Kementerian BUMN Said Didu menegaskan, pemerintah menargetkan privatisasi 34 BUMN tahun ini, 12 BUMN di antaranya dilepas dengan IPO. Sofyan menambahkan, penjualan BUMN akan mencari momentum yang tepat ketika pasar saham stabil guna menghindari harga jual yang rendah. "Pokoknya kami melihat kondisi pasar. Kami tidak akan melepas BUMN jika kondisi pasar jeblok. Yang penting, pemerintah dapat izin DPR lebih dulu," kata dia. Said Didu menambahkan, privatisasi saat ini tidak berhubungan dengan target setoran BUMN ke APBN. Dengan demikian, pemerintah tetap menungy gu kondisi membaik saat melepas saham BUMN, guna mendapatkan harga optimal.

Pemerintah tidak ingin mengulang kesalahan sebelumnya, yakni melepas saham BUMN saat pasar kurang kondusif, seperti ketika menjual saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN).

Saat memprivatisasi dan IPO BUMN, kata Said, pihaknya selalu membuat studi pasar regional maupun domestik serta mencermati pergerakan arus dana masuk dan keluar. "Tujuannya agar mendapat harga optimal," tegas dia.

Sebelumnya, Sofyan menyatakan, privatisasi BUMN dilaksanakan mulai triwulan 11-2008 setelah mendapatkan persetujuan DPR paling lambat akhir Maret mendatang.

Menurut dia, pemerintah akan mendapatkan harga privatisasi saham BUMN lebih optimal bila persetujuan DPR keluar pada triwulan 1-2008. "Privatisasi sangat erat kaitannya dengan waktu. Sebagai contoh, akibat persetujuan privatisasi dari DPR lambat pada 2007, harga rights issue PT Bank Negara Indonesia Tbk tidak optimal," tutur dia.

BUMN yang bakal diprivatisasi dengan menggunakan metode IPO antara lain PT Asuransi Jasa Indonesia, PT Krakatau Steel, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III, PTPN IV, dan F1TN VII, PT Waskita Karya, PT KH Pipe Industries, PT Sucofindo, YY Surveyor Indonesia, dan Fl1 Bank Tabungan Negara, serta PT Semen Baturaja. Tahun 2007, pemerintah hanya memprivatisasi PT Wijaya Karya Tbk, PT Jasa Marga Tbk, sedangkan BNI melalui secondary public offering (SPO). Seiring mulai diberlakukannya insentif pajak bagi perusahaan terbuka yang melepas minimum 40% saham kepada masyarakat pada 1 Januari 2008, SPO juga diyakini turut menyeramarakkan pasar modal tahun ini. Sejumlah emiten telah menyampaikan minat.

Sebaiknya Ditunda Pengamat pasar modal Goei Siauw Hong mengatakan, sebaiknya perusahaan menunda rencana IPO, menunggu hingga kondisi pasar lebih stabil. Menurut dia, jika perusahaan memaksakan untuk IPO sesuai jadwal, mereka harus siap menerima risiko dana IPO yang diterima kurang maksimal. Apalagi, menurut Goei, penguatan indeks beberapa hari terakhir hanya bersifat sementara, karena banyak perusahaan perbankan Amerika Serikat belum semuanya mengeluarkan data kerugian terkait subprime mortgage dan kredit macet di sektor lain.

Tapi, kata dia, jika perusahaan membutuhkan dana untuk modal kerja mendesak, perseroan harus berani menawarkan harga rendah. Hal itu dilakukan untuk meningkatkan minat investor yang saat ini cenderung pesimistis terhadap kondisi bursa.

Senada dengan Goei, Ketua Umum Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) Eddy Praptono mengatakan, perusahaan sebaiknya menunda pelaksanaan IPO. Sebagai investor, dia lebih suka membeli saham saat kondisi pasar stabil. Hal itu dilakukan dengan pertimbangan investor akan lebih mudah memperhitungkan valuasi prospek bisnis dan kinerja saham perseroan ke depan.

"Dalam membeli saham IPO, kami selalu mempertimbangkan kondisi fundamental, peringkat perusahaan, dan sektor bisnis," kata Eddy yang juga menjabat sebagai Presdir Dana Pensiun Telkom.

Analis Mega Capital Indonesia Debby Hanojo memprediksi, kondisi bursa mulai membaik pada kuartal kedua 2008. Tentang perlu tidaknya perusahaan menunda IPO, dia berpendapat, hal tersebut tergantung masing-masing manajemen perseroan.

Sumber :  Investor Daily Indonesia, Page : 1

 Dilihat : 3139 kali