04 Februari 2008
Pertamina dan Produsen Tabung Belum Sepakat

JAKARTA PT Pertamina (Persero) dan kalangan produsen tabung baja lokal belum menemui kesepakatan soal kenaikan harga tabung gas elpiji ukuran tiga kg menyusul melonjaknya harga bahan baku pelat baja di dalam negeri yang mencapai 37 persen. Harga pelat baja di pasar domestik naik dari sebelumnya Rp 6.000 per kg menjadi Rp 8.200 per kg.

Atas naiknya harga pelat baja ini, Pertamina mengusulkan harga tabung elpiji tiga kg untuk pengadaan Januari-Juni 2008 dinaikkan dari Rp 90 ribu menjadi Rp 97 ribu per tabung. Sedangkan produsen meminta kenaikan harga di atas Rp 100 ribu per tabung.

Deputi Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina, Hanung Budya, menjelaskan, Pertamina sedang melakukan pembicaraan dengan PT Krakatau Steel (KS), Depperin, dan produsen tabung untuk menentukan kenaikan harga yang pantas. "Kita lagi hitung yang menurut kita realistis di harga pelat baja yang baru, mungkin sekitar Rp 97 ribu," ujarnya di Jakarta, Ahad (3/2).

Dihubungi terpisah, Ketua Asosiasi Industri Tabung Baja Indonesia (Asitab), Tjiptadi, menambahkan, kenaikan harga tabung elpiji tiga kg ini dapat diajukan produsen manakala kenaikan harga bahan baku di atas 10 persen. "Ini sesuai Kepmen Nomor 28 Tahun 2007 yang memungkinkan harga dikaji ulang," jelasnya.

Hitungan sementara Asitab, dengan kenaikan harga pelat baja saat ini, maka harga tabung yang wajar di atas Rp 100 ribu per unit. Hitungan tersebut, ungkap Tjiptadi, mengacu pada harga tabung impor resmi dari Cina yang lebih dari Rp 100 ribu.

Usulan mengenai kenaikan harga tabung elpiji tiga kg ini rencananya akan dibahas dalam rapat terbatas di kantor Wakil Presiden, Jusuf Kalla, pada hari ini (4/2). "Selain Asitab dan Pertamina, rapat tersebut juga akan dihadiri Menteri Perindustrian dan wakil dari KS," ujarnya.

Untuk program konversi di tahun 2008, Pertamina menargetkan 12,5 juta kepala keluarga (KK) pengguna minyak tanah yang akan dikonversi. Sebanyak 12,5 juta KK ini tersebar di wilayah Medan, Riau, Palembang, Jawa, Bali, Balikpapan, dan Makassar.

Menurut perhitungan Pertamina, kebutuhan gas elpiji untuk 12,5 juta KK itu mencapai 1.181.520 metrik ton (MT). Sementara, kebutuhan tabung elpiji ukuran tiga kg mencapai 25 juta unit. Sebanyak 18,5 juta tabung akan dipenuhi dari produksi dalam negeri dan 6,5 juta tabung dari pengadaan impor.

Sementara, harga bahan bakar minyak (BBM) industri menurun 4,4 persen sampai 7,1 persen. Ketentuan harga baru ini berlaku mulai 1 Februari 2008. Dibandingkan harga pada 15 Januari 2008, BBM industri jenis premium turun 4,4 persen, minyak tanah turun 5,3 persen, minyak solar turun 5,3 persen. Sedangkan minyak diesel untuk industri mengalami penurunan 5,4 persen, minyak bakar 7,1 persen, dan pertamina dex turun 5,4 persen.

Perubahan harga itu dilakukan karena rata-rata harga minyak di bursa Singapura (MOPS) mengalami penurunan berkisar 0,93 persen sampai 7,32 persen. Penurunan tertinggi pada produk minyak bakar. Pelemahan nilai tukar rupiah 0,2 persen dari perhitungan bulan lalu merupakan penyebab lainnya.

Sumber : Republika, Page : 14 

 Dilihat : 3615 kali