02 Februari 2008
Negosiasi Harga Tabung Masih Alot

JAKARTA. Tarik ulur penentuan harga tabung gas elpiji konversi minyak tanah masih terus bergulir. Dalam pertemuan terakhir antara produsen tabung elpiji pemenang tender dengan Pertamina kemarin, soal penentuan harga itu belum tuntas benar.

"Masih belum selesai, masing masing pihak diminta membuat rumusan penentuan harga tabung," ungkap Ketua Asosiasi Industri Tabung Baja (Asitab) Tjiptadi kepada KONTAN, Jumat (1/2).

Kisruh harga tabung gas elpiji memang menjadi polemik saat harga pelat baja membumbung sampai 30%. Para produsen keberatan jika patokan harga tabung seperti yang tertera dalam kontrak tender masih menggunakan banderol harga lama yakni senilai Rp 90.000 per tabung. Pasalnya, banderol tabung itu masih mengikuti asumsi harga Rp 6.000 per kilo untuk bahan baku baja canai panas SG-295 (kapsul tabung) dan Rp 7.000 per kilo untuk SPH (pegangan dan kaki tabung).

Produsen baja PT Krakatau Steel malah sudah mematok harga baru untuk dua bahan baku tabung itu. Masing-masing menjadi Rp 8.200 per kilo dan Rp 7.500 per kilo. Terang saja, pemenang tender kelabakan. Banderol harga Rp 90.000 per tabung dirasa terlalu kecil. Setelah menghitung ulang, para produsen tabung mengajukan harga baru pada Pertamina sebesar Rp 105.000 per tabung.

Pertamina sendiri bukan tidak memahami kesulitan itu. "Pada prinsipnya kami enggak ingin merugikan orang lain. Demikian sebaliknya, Pertamina juga tidak mau dirugikan," ujar Direktur Utama Pertamina Ari H. Soemarno beberapa waktu lalu. Pertamina pun sudah mengantongi formula penghitungan harga tabung baru, yakni sebesar Rp 97.000 per tabung.

Alih-alih menerima, para produsen tabung masih juga berat hati dengan tawaran itu. Mereka tetap keukeuh meminta Pertamina mengubah banderol menjadi Rp 105.000. Walhasil, tampaknya ujung dari tarik menarik harga ini masih akan lama. "Masih jauh sekali," kata Tjiptadi.
Selasa (5/1), pekan depan, pertemuan soal harga ini akan dilanjutkan.

Masalah harga ini mencuat lantaran sampai kini belum ada tabung gas yang diproduksi. Ini mengkhawatirkan. Sebab untuk memenuhi target pelaksanaan program konversi minyak tanah ke gas elpiji, Pertamina butuh 25 juta unit tabung.

Sumber : Ruisa Khoiriyah Harian Kontan, Page : 14 

 Dilihat : 4558 kali