05 September 2007
PENGUSAHA MINTA DIHARMONISASIKANNYA BEA MASUK BOILER UTUH

Jakarta, 4 September 2007 (Business News)

Pengusaha berinisiatif meminta diharmonisasikannya bea masuk produk boiler, karena selama ini impor boiler dalam kondisi utuh dibebaskan bea masuknya, sementara kalau diimpor secara terurai bea masuknya antara 5 s/d 10 persen. Heri Purnomo, selaku Direktur Penjualan PT Dinamika Energitama Nusantara (DEN) yang menyatakan hal ini kepada Business News, Selasa (4/9), sebagai salah satu produsen boiler, pihaknya yang ikut dalam pelaksana tender pengadaan konversi energi PLTU 10 ribu MW, masuk dan menjadi bagian dari Rekayada Elektrika selaku Engineering Procurement Construct/on (EPC).

Khusus dalam proyek ini, biaya EPC Rekadaya sekitar 35 persennya dari DEN. Untuk mewujudkan realisasi proyek tersebut, perusahaan berupaya secara lebih kompetitif karena saat ini, guna menghasilkan satu pembangkit listrik tenaga uap yang digerakkan oleh energi batubara, sekitar 75 persen komponen sudah diproduksi dari dalam negeri.

Sisanya yang masih diimpor seperti tubing high pressure, karena produsen baja di dalam negeri Krakatau Steel, tidak membuat tubing jenis tersebut Demikian juga beberapa jenis valve masih diimpor Sementara ini impor tubing high pressure diimpor dari Perancis, Jepang, Spanyol, dan Eropa.

Kendala yang dihadapi terutama apabila produk tersebut harus diimpor, karena saat ini tube impor mengalami permintaan yang cukup tinggi dari seluruh dunia, karena maraknya konversi energi dari minyak bumi dan gas kepada jenis solid fuel sejenis batubara. Sedang untuk mengurangi dampak pencemaran udara yang ditimbulkan sebagai hasil pembakaran energi, dipergu na kania h teknologi dengan sistem kontrol polusi udara (pollutant control system).

Beberapa proyek yang sudah digarap di antaranya seperti pembangunan PLTU di Tanjung Priok berkekuatan 2 X 50 MW; PLTU di Tanjung Perak 2 X 50 MW; pembangunan rehabilitasi proyek PLTU di Tambak Lorong, Semarang 1 X 200 MW, dan kerjasama dengan PT Inco di Soroako mulai dari pengerjaan desain, engineering, sampai fabrikasi. Bahan baku batubara berkalori rendah di bawah 4000 kalori/ kg, mampu dikerjakan perusahaan tersebut.

Walau baru berdiri sejak tahun 2003 dan mempekerjakan antara 200 s/d 250 karyawan, perusahaan yang berlokasi di Surabaya dan pemasaran di Jakarta ini, mengkhususkan diri pada pengerjaan boiler, baik untuk memenuhi kebutuhan industri dan juga untuk PLTU, Beberapa waktu lalu, perusahaan telah mengadakan pendekatan dengan para produsen tekstil guna memaksimalkan pesanannya.

Pekerjaan yang dikerjakan dengan EPC misalnya untuk penanganan perlengkapan pelabuhan; pembangunan pabrik gula dan CPO; perlengkapan airport; serta pembangkit tenaga listrik. Misalnya PT Barata Indonesia (Persero) selain mengerjakan proyek dalam skala EPC, juga menangani perlengkapan industri manufaktur, serta pengecoran logam mulai dari industri semen, pertambangan, komponen otomotif, industri kimia dan perkapalan.

Fasilitas produksi utamanya meliputi antara lain fasilitas terpadu dalam pengecoran, dan konstruksi mesin. Sementara itu beberapa komponen dalam industri pengolahan yang melengkapinya, juga mampu diproduksi di unit usaha mandiri yang ada baik di Gresik, Medan, Cilegon, Tegal, Bandung, Sukabumi, dan Makassar,

Gunakan Perlengkapan dan Potensi Pabrik Merah Putih Dalam kesempatan berbicara usai membuka pameran Mesin Peralatan dan Perlengkapan Rumah Tangga di Departemen Perindustrian, Selasa (4/9), Menteri Perindustrian Fahmi Idris mengemukakan industri permesinan di dalam negeri akan diberi kesempatan menggunakan produksi yang dihasilkan dari dalam negeri dengan harga kompetitif.

Sebab kalau tidak dimulai dari sekarang, maka teknologi permesinan yang digunakan akan tertinggal dari yang sekarang mulai digunakan oleh negara-negara maju. Misalnya untuk pembangunan atau restrukturisasi pabrik gula di dalam negeri, pemerintah telah meminta kepada PT Rekayasa Engineering guna menghasilkan pabrik yang dihasilkan dari dalam negeri, sehingga nantinya pabrik gula tersebut menjadi pabrik merah putih.

Pemerintah juga mendorong supaya peranan penelitian dan pengembangan bisa lebih banyak lagi dilakukan supaya biayanya bisa ditekan. Untuk itu nantinya akan dipilah, supaya ada piranti yang tidak perlu dikenai pajaknya sebagai salah satu bentuk insentif.

Mengenai masih tingginya impor produk permesinan termasuk komponen selama periode tahun 2001 s/d 2006 meningkat rata-rata 10 persen, di mana tahun 2006 mencapai USD7,1 miliar, sementara tahun 2001 mencapai USD4,3 miliar. Menanggapi kondisi ini Fahmi mengemukakan impor barang modal pasti akan lebih tinggi dari ekspornya karena masih adanya impor beberapa jenis mesin yang belum bisa diproduksi dari dalam negeri.

Misalnya untuk jenis mesin industri petrokimia dan juga beberapa jenis mesin di bidang otomotif. Namun demikian sejalan dengan tingginya kebutuhan barang modal, perkembangan industri mesin masih menunjukkan arah yang baik.

Pameran diselenggarakan dari 4 s/d 7 September 2007 diikuti 56 perusahaan yang bergerak di bidang mesin peralatan pertanian, mesin peralatan listrik, mesin peralatan pabrik, mesin peralatan lainnya, serta perlengkapan rumah tangga. Selain memberi informasi, pameran bertujuan menonjolkan aspek kemampuan industri di dalam negeri dalam penguasaan teknologi, rancang bangun, dan perekayasaan bidang mesin, serta potensi industri mesin dan peralatan serta beberapa perlengkapan rumah tangga.

Sumber : Business News, 05 September 2007

 Dilihat : 4138 kali