01 Februari 2008
Harga Baja Naik, Picu Kenaikan Harga Mobil

Harga jual kendaraan diprediksi naik 5-10 persen. Hal itu menyusul melonjaknya harga baja canai panas (hot rolled coil/HRC) di pasaran internasional yang saat ini sudah menyentuh 710 dolar AS per ton atau naik 30 persen dibandingkan posisi tahun lalu.

"Kenaikan harga baja ini sangat memengaruhi industri otomotif untuk pembuatan kerangka kendaraan," ungkap Presdir PT Panca Motor, Johannes Nanggoi, produsen kendaraan merek Isuzu, saat bincang-bincang mengenai prospek industri otomotif, di Jakarta, Kamis (31/1).

Menurut dia, kenaikan hargajual kendaraan sebelumnya telah dipengaruhi kenaikan harga minyak dan penguatan mata uang Jepang (Yen) terhadap dolar AS. "Ini karena komponen mesin masih diimpor dari Jepang," tuturnya.
Namun demikian, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) tahun ini memproyeksikan pertum

buhan penjualan mobil sebanyak 15% atau menjadi 520.000 unit. Hal itu diambil dari asumsi makro pertumbuhan ekonomi sekitar 6,2-7%, suku bunga sekitar 8%, dan inflasi terkendali sekitar 7%.

Ketua Umum Gaikindo Bambang Trisulo mengatakan, penggunaan baja dalam struktur biaya produksi mobil sekitar 30-40 persen. Namun, penyesuaian produsen kendaraan bermotor umumnya tak serentak dengan harga baja yang berlaku. "Produsen biasanya menstok pembelian bahan baku enam bulan sebelumnya," katanya. Lagi pula, kata Bambang, sebelum menaikkan harga jual, produsen biasanya akan melakukan efisiensi biaya produksi.

Pada tahun lalu harga baja canai panas sekitar 500-600 dolar AS per ton. Namun pada 8 Januari lalu, harga baja canai panas menjadi 710 dolar AS per ton dan Juni mendatang diproyeksikan sebesar 800 dolar AS per ton. (A78)***

Sumber: Pikiran Rakyat, Page : 8

 Dilihat : 3173 kali