01 Februari 2008
Krakatau Steel Siap Ekspansi US$ 420 Juta

JAKARTA-Produsen baja nasional, PT Krakatau Steel (KS), siap menambah investasi sekitar US$ 420 juta untuk membangun lima unit fasilitas produksi baja hulu (steel making) yang akan dimulai pada tahun ini.Empat proyek penambahan kapasitas produksi itu akan dipusatkan di Cilegon, Banten, sedangkan pembangunan satu pabrik pengolahan bijih besi segera direalisasikan di Kalimantan Selatan (Kalsel).

Direktur Utama KS Fazwar Bujang menjelaskan, lima proyek penambahan kapasitas produksi itu antara lain meliputi pembangunan fasilitas peleburan baja mini (mini blast furnace) berkapasitas 500 ribu ton per tahun. Selain itu, pembangunan fasilitas medium blast furnace yang menghasilkan baja slab sekitar 1 juta ton per tahun.Pembangunan kedua fasilitas tersebut, menurut dia,mendesak dilakukan dalam mendukung peningkatan produksi hot strip mill perseroan dari 2 juta ton menjadi 2,4 juta ton per tahun. "Kepastian kedua proyek ini akan ditetapkan pada Mei 2008," ujarnya dalam mempresentasikan rencana pengembangan PT KS di masa depan dan kesiapan PT KS dalam menunjang program konversi mi
nyak tanah ke LPG, di Jakarta, Kamis (31/1).

Untuk mensinergikan kedua proyek tersebut, lanjut dia, KS segera merevitalisasi fasilitas hot strip mill untuk dapat berproduksi sebanyak 2,4 juta ton per tahun. Revitaliasi fasilitas HSM diperkirakan rampung pada 2009. "Februari ini kami akan menandatangani joint venture agreementnya," tuturnya tanpa mau memerinci mitra kerja KS.

Proyek revitalisasi fasilitas hot strip mill itu, kata Fazwar, akan menunjang perseroan dalam mengoptimalkan produksi pelat baja. Karena itu, KS akan membangun pabrik pengolahan pelat baja (plate mill) berkapasitas 500 ribu ton per tahun berketebalan 60 milimeter dan lebar sekitar 3,5 meter.Saat ini, Fazwar menerangkan, KS hanya mampu menghasilkan pelat baja coil dan lembaran dengan ketebalan 20 mm dan lebar maksimal 2 meter. Kebutuhan itu hanya cukup untuk memfasilitasi industri galangan kapal kecil, sedangkan industri galangan kapal di Batam membutuhkan pelat baja yang lebih tebal.

Menurut dia, pembangunan fasilitas produksi tersebut bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi perseroan dalam mengatasi problem ketimpangan kapasitas baja dari hulu hingga hilir. Rencana perseroan ini juga dimaksudkan untuk mengantisipasi ketatnya persaingan di pasar global dan domestik.

Selain itu, lanjut dia, proyek tersebut bertujuan untuk meminimalisasi impor produk semi finished seperti slab dan billet. Saat ini, impor baja slab KS mencapai 500 ribu ton per tahun, sementara billet mencapai 200 ribu ton per tahun.

Fazwar menambahkan, untuk menopang kelancaran pembangunan keempat fasilitas produksi perseroan, KS akan menyelesaikan fasilitas produksi yang kelima yakni pembangunan pabrik pengolahan bijih besi (iron making) di Kabupaten Tanah Laut, Kalsel senilai US$60 juta.
Keberadaan proyek Kalsel itu, lanjut dia, sangat penting guna mendukung perseroan dalam mengolah bijih besi menjadi besi spons (sponge) sebesar 300 ribu ton per tahun. "Kami sudah melakukan kajian keekonomisan yang meliputi pasokan bijih besi, hingga percobaan produksi," katanya.

Target 5 Juta Ton Dia menjelaskan, pemancangan tiang pertama (ground breaking) proyek Kalsel akan dilakukan pada April 2008, sementara pembangunan konstruksi proyek tersebut dimulai pada Juni. Proyek Kalsel ini ditargetkan selesai pada 2010. "Diharapkan pada 2012, seluruh proyek KS ini akan memacu produksi baja nasional menjadi 5 juta ton per tahun," katanya.

Sebelumnya, seiring dengan lonjakan harga baja canai panas (hot rolled coilsfHRC) yang menembus level tertinggi dalam sejarah pada Kamis (17/ 1), yaitu US$800 per ton, pasokan baja dunia diperkirakan semakin ketat. Kalangan produsen baja hilir lokal mengeluhkan kekurangan pasokan menyusul lonjakan drastis harga bahan bakutersebut.Ketua Umum Ikatan Pabrik Paku dan Kawat Indonesia (Ippaki) Ario Setiantoro dan Ketua Umum Gabungan Produsen Seng Indonesia (Gapsi) Ruddy Syamsuddin menilai, harga bahan baku HRC akan mendorong harga produk baja hilir di dalam negeri meningkat. Jika tidak diantisipasi dengan pasokan yang cukup, dikhawatirkan harga akan terus melambung.

Sumber : Oleh Andriyanto Suwismo  Investor Daily Indonesia, Page : 22 

 Dilihat : 2790 kali