01 Februari 2008
KS bangun 5 unit produksi senilai US$420 juta

JAKARTA: PT Krakatau Steel tahun ini siap membangun lima unit produksi hulu baja senilai US$420 juta. Proyek tersebut berlokasi di kawasan industri baja Cilegon, Banten dan Kalimantan Selatan.

Direktur Utama Krakatau Steel (KS) Fazwar Bujang mengatakan pembangunan fasilitas produksi tersebut bertujuan meningkatkan produktivitas dan efisiensi dalam mengatasi ketimpangan kapasitas baja dari hulu hingga hilir, serta mengantisipasi ketatnya persaingan.

Pembangunan pabrik tersebut, lanjutnya, juga bertujuan meminimalisasi impor produk semi jadi seperti slab dan billet. Saat ini, impor slab perseroan mencapai 500.000 ton per tahun dan billet mencapai 200.000 ton per tahun atau setara dengan 30%-35% dari total produksi.

Pada saat yang sama, harga impor komoditas tersebut sangat mahal seiring lonjakan harga bijih besi dunia yang menembus US$190 per ton. Apalagi, China sebagai eksportir slab dan billet terbesar mulai mengerem laju komoditas tersebut dengan mengenakan pajak ekspor 15%.

"Kami mendirikan unit produksi itu, atas dasar pertimbangan memproduksi [slab dan bUkt] sendiri lebih murah," kata Fazwar kemarin.

Kelima fasilitas produksi yang segera dibangun Krakatau Steel antara lain fasilitas mini blastfurnace (peleburan baja) berkapasitas 500.000 ton per tahun, medium blast furnace yang menghasilkan slab sekitar 1 juta ton. Kedua fasilitas tersebut sangat penting guna mendukung peningkatan produksi hot saip mill dari 2 juta ton menjadi 2,4 juta ton per tahun. "Kepastian kedua proyek ini akan ditetapkan pada Mei."

Untuk menyinergikan kedua proyek tersebut, lanjutnya, perseroan segera merevitalisasi fasilitas hot strip mill (HSM) agar dapat berproduksi sebanyak 2,4 juta ton per tahun.

Revitalisasi fasilitas HSM diperkirakan rampung pada 2009. "Februari ini kami akan menandatangani joint venture agreement," katanya."

Fazwar mengatakan Krakatau Steel akan menyelesaikan fasilitas produksi yakni pembangunan iron making (pengolahan bijih besi) di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan senilai US$60 juta.

Keberadaan proyek tersebut signifikan untuk mendukung perseroan dalam mengolah bijih besi menjadi besi spons (sponge) sebesar 300.000 ton per tahun.

Sumber : Bisnis Indonesia, Page : T6 

 Dilihat : 3063 kali