31 Januari 2008
Pembangunan Pembangkit Luar Jawa Butuh 180 Ribu Ton Baja

Jakarta | Jumal Nasional PEMBANGUNAN 25 pembangkit listrik luar Jawa untuk program 10 ribu megawatt (MW) membutuhkan total 180 ribu ton baja. Direktur Logam dan Mesin Direktorat Jenderal Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka (ILMTA) Departemen Perindustrian, C Triharso, mengutarakan hal itu pekan lalu kepada Antara.

Namun, menurut Triharso, saat ini baru sembilan pembangkit yahg kontraknya telah ditandatangani, dan saat ini masuk dalam tahap tes tanah yang nantinya untuk mengetahui kebutuhan bahan baku untuk pembangkit. Sembilan daerah yang mulai menjalani tes tanah untuk pembangunan pembangkit listrik skala kecil dan menengah, menurut Triharso, yakni NTT, Gorontalo, Sulawesi Tenggara, Kepulauan Riau, Sumatera Utara, Kalimantan Tengah, Nusa Tenggara Barat, Lampung, dan Sulawesi Utara. "Semua pembangkit tersebut berskala kecil menengah antara 2x7 megawatt hingga 2x200 mega watt," ujar dia.

Kenaikan harga baja dunia yang berdampak pada naiknya harga bahan baku baja untuk pembangkit listrik dikhawatirkan menghambat pembangunan proyek tersebut.

"Kenaikan harga baja sudah lebih dari 20 persen. Akibatnya harga bahan baku untuk pembangunan pembangkit dan distribusi listrik seperti plat dan siku baja ikut naik, hal tersebut dikhawatirkan menghambat pembangunan proyek pembangkit 10 ribu MW," kata Sekertaris Umum Asosiasi Masyarakat Baja Indonesia (Ambi), Singgih Wasesa, di Cibitung, Bekasi, Rabu.

Menurut Singgih, para kontraktor yang telah melakukan kontrak dengan PT PLN (Persero) untuk pembangunan pembangkit maupun menara distribusi listrik saat ini mulai resah akibat naiknya harga bahan baku. Dia mengatakan, harga siku baja sebagai bahan baku pembuatan menara listrik pada saat kontrak dilaksanakan masih Rp8.200 per kilogram, sedangkan saat ini harga siku baja sudah naik mengikuti harga baja dunia menjadi Rp9.750.

"Kontrak yang sudah ditandatangani mau tidak mau harus tetap berjalan, karena jika mundur kontraktor akan terkena pinalti. Tetapi jika dilanjutkan kontraktor akan mengalami kerugian besar akibat naiknya biaya produksi," ujar dia.

Kenaikan harga baja yang cukup tinggi, tambahnya, mulai terjadi pada November 2007. Kecenderungannya harga akan tetap meningkat sesuai dengan harga minyak dunia yang diprediksi akan terus mengalami peningkatan. Harga siku baja saat ini sudah mencapai US$1,000 per ton di pasaran dunia.

C Triharso menyatakan, pihaknya dalam waktu dekat akan mempertemukan para kontraktor proyek 10.000 MW dengan produsen baja dalam negeri. "Kami akan coba untuk mencari jalan keluarnya bersama antara kontraktor dengan produsen. Jika memang perlu maka PLN akan dilibatkan terkait masalah negosiasi kontrak."
Thonthowi Dj

Sumber : Jurnal Nasional, Page : 28 

 Dilihat : 3922 kali