30 Januari 2008
6 Produsen kapal bangun pabrik US$1,05 miliar

SURABAYA: Tiga perusahaan galangan kapal asal Korea Selatan dan tiga perusahaan kapal lokal akan membangun pabrik galangan baru dengan volume 450.000 DWI (dead weight ton) per tahun dengan total investasi US$1,05 miliar.

Pembangunan pabrik tersebut berlokasi di Lamongan, Jawa Timur dan akan dimulai tahun ini. Proyek tersebut selesai sekitar tiga hingga lima tahun ke depan. "Industri galangan kapal dunia saat ini sudah penuh pesanan, karena itu mereka mencari wilayah baru salah satunya Indonesia," ujar Menteri Perindustrian Fahmi Idris saat peresmian Gedung Pusat Desain dan Rekayasa Kapal Nasional, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), kemarin.

Pemerintah, lanjut dia, menjanjikan pemberian insentif perpajakan bagi investor yang menanamkan modal ataupun memperluas usahanya di sektor perkapalan berupa pemotongan PPh di kawasan industri.

Direktur Industri Maritim dan Jasa Keteknikan Depperin Panggah Susanto mengatakan tiga perusahaan asal Korea itu adalah CN Heavy Industries Ltd, 21st Century Ltd, dan Ka Non Who Industries Ltd. Investasi ketiga perusahaan itu diperkirakan US$600 juta dengan total produksi 250.000 DWT per tahun. "Mereka sudah sampai tahap studi kelayakan."

Perusahaan lokal yang siap membangun pabrik di kawasan industri kapal Lamongan antara lain PT Daya Radar Utama (DRU) dan dua perusahaan BUMN yaitu PT Dok Perkapalan Surabaya (DPS) dan PT PAL.

Ketiga perusahaan lokal itu, akan memproduksi kapal barang, penumpang, feri atau roro (roll on roll out), hingga tanker berkapasitas 17.500 DWT. Total kapasitas produksi ketiga perusahaan domestik ini 200.000 DWT, dengan total investasi US$450 juta.

Enam perusahaan itu membutuhkan 210 hektare-300 hektare. Namun, lahan yang telah dibebaskan baru mencapai 150 hektare. "Pada tahap awal, pemerintah harus membebaskan lahan hingga 500 hektare di kawasan industri itu," lanjutnya.

Presdir Daya Radar Amir Gunawan mengatakan perseroan tetap memprioritaskan pembangunan kapal baru terutama kargo dan tanker berbobot mati 17.500 DWT, meskipun pemesanan reparasi kapal meningkat tajam tahun ini.

"Total investasi kami sekitar US$150 juta, untuk tahap awal Rp200 miliar. Kompetisi di industri perkapalan semakin ketat, ini merupakan tantangan," katanya kepada Bisnis, kemarin. Amir mengatakan, lonjakan harga bahan baku memaksa produsen kapal menaikkan harga. Misalnya, harga kapal feri ukuran 300 gross ton mencapai 24 miliar naik 20% dibandingkan dengan harga pada tahun lalu.

Harga baja canai panas (hot rolled co/k/HRC) di pasar dunia menembus US$780 per ton pada 17 Januari dan pelat baja US$800 per ton. Hal itu mendorong harga kapal melonjak 20% dibandingkan dengan tahun lalu.

fasilitasi investasi galangan Dirjen Industri Alat Transportasi dan Telematika Departemen Perindustrian Budi Darmadi menambahkan pemerintah berupaya memfasilitasi investasi galangan baru di kawasan industri kapal Lamongan, karena daerah tersebut sangat strategis dan dekat dengan pusat bisnis terbesar di kawasan timur Indonesia. Depperin, lanjutnya, bersama Pemda Lamongan dan Pemprov Jatim terus berkoordinasi menyelesaikan kawasan industri kapal Lamongan dengan berbagai infrastruktur penunjang seperti jalan raya hingga insentif pajak. Problem mendasar tersendatnya perluasan ataupun investasi baru adalah ketersediaan lahan.

"Industri perkapalan merupakan sektor baru yang diusulkan mendapatkan insentif pajak dalam revisi PP No. 1/2007," tuturnya. Menurut Budi, keberadaan kawasan industri kapal Lamongan penting bagi industri kapal yang hendak melakukan perluasan dan investasi baru agar lebih efisien dan terkoordinasi.

Sumber : Bisnis Indonesia, Page : T6

 Dilihat : 5587 kali