29 Januari 2008
Produksi baja tulangan 2008 stagnan

BISNIS INDONESIA JAKARTA: Asosiasi Pabrik Billet, Batang Kawat, Besi, Beton dan Profil seluruh Indonesia (Abbepsi) memproyeksikan produksi baja tulangan tahun ini sama dengan tahun lalu yaitu 4,5 juta ton.

Ketua Abbepsi Ismail Mandry mengatakan faktor harga baja dunia yang cenderung fluktuatif memukul industri baja sehingga menyebabkan produksi baja tidak bisa ditebak."Kami tidak berani memasang target karena kondisi yang tidak stabil sejak Desember tahun lalu," ujarnya kepada Bisnis,kemarin.Ismail menuturkan harga baja tulangan dan beton dalam negeri yang sepanjang 2007 dipatok di level Rp4.300 per kg, mendadak meningkat hingga 86% menjadi RpS.OOO perkg. Akibatnya, produsen baja terpaksa menurunkan produksi atau bahkan cenderung mempertahankan pada pencapaian tahun sebelumnya."Kami mengambil langkah itu, karena lompatan harga yang cukup drastis akibat kenaikan minyak dunia yang ikut memicu melonjaknya harga bahan baku," jelasnya.

Ismail mengatakan untukmenunjang kinerja industri tulang batangan, asosiasi yang terdiri dari 31 produsen baja meminta pemerintah dalam hal ini Wapres Jusuf Kalla agar segera menuntaskan masalah slag baja atau sisa limbah hasil produksi industri baja yang dimasukkan dalam daftar limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Rugikan produsen Abbepsi meminta agar Wapres mencabut tuduhan terhadap kalangan produsen dari daftar B3 sebab tindakan itu berdampak menimbulkan kerugian pada kalangan produsen."Sejak 1972 industri baja mengelola limbah padat di luar B3. Penerapan PP No. 85/1999 oleh Menteri Lingkungan Hidup pada 2005 menimbulkan efek biaya yang cukup tinggi," tuturnya.

Menurut Ismail, berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium secara ilmiah, sisa limbah hasil produksi industri baja itu tidak termasuk dalam golongan B3. Atas dasar itu, asosiasi meminta pencabutan status slog tersebut.Sebelumnya permintaan yang sama disampaikan kepada Kementerian Negara Lingkungan Hidup. Namun, institusi itu tidak merespons permintaan asosiasi.Berdasarkan dokumen Abbepsi beberapa perusahaan telah melakukan pengujian sampel limbah al PT Ispatindo di Sidoardjo, Jawa Timur, PT Inter World Steel Mills Indonesia, PT Pulogadung Steel, dan PT Kesa dotama.
Berbekal hasil uji tersebut, mereka melayangkan surat ke Deputy IV Menneg LH pada Agustus 2006. Surat bernomor 025/BPP/ABBEPSI/ VIII/06 tersebut berisi desakan kepada Kemmeneg LH untuk segera mencabut slag dan scale dari daftar limbah B3 karena dinilai tidak melanggar ambang batas yang ditetapkan sebagai limbah B3.

Dalam surat itu disebutkan PT Sucofindo telah melakukan uii laboratorium dan mengungkapkan jumlah dag dan scale produsen billet jauh di bawah nilai ambang batas kategori limbah B3 dengan merujuk acuan internasional. (06)

Sumber : Bisnis Indonesia, Page : T5 

 

 Dilihat : 3389 kali