29 Januari 2008
BBI TAWARKAN POLA STRATEGIC PARTNER

SURABAYA-Manajemen PT Boma Bisma Indra (BBI) menyatakan, pihaknya siap menjalankan privatisasi pada 2007. BBI menawarkan program strategic partner.

"Sangat sulit bagi BBI jika privatisasi dipaksakan lewat IPO (initial public offering) dengan utang yang lebih besar dari aset sekarang. Karena itu, BBI memang perlu penanganan khusus dan siap diprivatisasi dengan opsi memilih strategic partner. Partner itu sudah ada tinggal kebijakan pemerintah selaku pemegang saham," ujar Direktur Komersial PT BBI Suradji di Surabaya, baru-baru ini.

Sebelumnya,Menneg BUMN Sofyan Djalil usai peluncuran kemasan baru Semen Gresik, Jumat (25/1), mengatakan bahwa BBI termasuk BUMN di Jawa Timur yang perlu mendapat perhatian khusus. Di samping itu, termasuk juga PT Garam Indonesia, PT Soda Indonesia, dan PT Iglas. Suradji menjelaskan, sejak November 2007 BBI berhasil melakukan kerja sama operasi (KSO)dengan PT SAS International untuk mengoperasikan salah satu unit usahanya, aneka jasa industri (AJI) di Pasuruan, Jatim. Meski baru enam bulan berjalan, KSO dengan SAS telah mampu membangkitkan semangat BBI untuk tetap eksis. Untuk KSO ini, BBI memperoleh bagi hasil keuntungan 30% karena seluruh biaya operasional serta gaji karyawan ditanggung SAS. "Melalui KSO dengan SAS, tahun lalu kita mampu membukukan order Rp 70 miliar. Padahal, KSO baru berjalan enam bulan. Hingga saat ini carry order yang kita catat mencapai Rp 90 miliar," jelang Suradji.

Dari evaluasi KSO enam bulan terakhir, menurut Suradji, SAS merupakan mitra yang tepat dalam program privatisasi BBI ke depan. "Kami ingin usaha jasa industri yang kita KSO-kan dengan SAS itu yang nantinya diprivatisasi. Untuk ini kami akan mengusulkan kepada pemerintah agar aset di Pasuruan itu dipisahkan terlebih dulu dari BBI," kata Suradji.

Sementara itu, untuk privatisasi unit usaha di Surabaya, manajemen BBI menawarkan PT Krakatau Steel (KS) sebagai mitra dalam program privatisasi. Alasannya, kata dia, BBI sampai saat ini masih menanggung utang kepada BUMN tersebut kurang lebih Rp 70 miliar. "Kami ingin utang kepada KS itu nantinya dikonversi ke dalam saham. Kami minta pemegang saham memfasilitasi. Artinya, BBI tidak perlu lagi' membayar secara cash utangnya ke KS, tapi lewat pengelolaan aset secara bersama," paparnya.

Masuknya KS ke dalam BBI diyakini akan ikut mendukung rencana BBI mewujudkan proyek pembuatan 10 juta tabung gas elpiji pesanan pemerintah senilai US$ 7 juta yang rencananya dimulai April mendatang.

Hanya saja, jelasnya, proses penyertaan modal KS ke BBI itu tidak bisa secara keseluruhan, tapi secara bertahap. "Dengan skema itu, KS dapat untung, kami sendiri bisa sehat. Inilah esensi strategic partner yang sesungguhnya," imbuhnya.

Suradji mengemukakan, suntikan modal dari pemerintah melalui Penyertaan Modal Negara (PMN) yang telah cair sebanyak Rp 75 miliar diyakini akan ,membangkitkan kembali kinerja BBL Rencananya, dari dana tersebut digunakan untuk modal kerja serta merestrukturisasi utang kepada Bank Mandiri sebesar Rp 30 miliar, (ros)

Sumber :  Investor Daily Indonesia, Page : 26

 Dilihat : 2986 kali