28 Januari 2008
Kekurangan Bahan Baku, Produksi Baja Seng Menyusut

JAKARTA. Dilematis. Begitulah nasib para produsen baja lapis seng (BLS) kini. Di satu sisi, saat ini, produsen kekurangan bahan baku baja canai dingin (cold rolled coils/CRC) karena pasokan dunia berkurang. Di saat bersamaan suplai CRC dari produsen baja hulu di d'alam negeri juga turun.

Ketua Umum Gabungan Pabrik Seng Indonesia (Gapsi), Ruddy Syamsuddin mengatakan, kelangkaan suplai mulai terlihat sejak awal 2008. Tepatnya sejak harga produk baja di sektor hulu, khususnya baja canai panas (Hot Rolled Coils/ HRC) menembus tingkat harga US$ 710 per ton.

Kelangkaan suplai CRC makin menjadi saat harga HRC tembus US$ 800 per ton pada minggu kedua Januari 2008. Menurut Ruddy, sejak harga HRC mahal banyak produsen baja hulu mengurangi produksi CRC. Akibatnya langsung dirasakan produsen baja hilir.

Para pelaku industri BjLS, kekurangan bahan baku CRC mencapai 100.000 ton per bulan. "Kebutuhan CRC kami mencapai 600.000 ton. Tapi pasar cuma bisa memenuhi. 400.000 ton hingga 500.000 ton saja," ujar Ruddy, lesu.

Dampak kekurangan bahan baku itu, menyebabkan pemanfaatan kapasitas terpasang (utilisasi) industri hilir BjLS anjlok. Sebelumnya, industri BjLS memang tidak pernah berproduksi dengan kapasitas penuh 1 juta ton karena kalah bersaing dengan produk impor asal China. Namun akibat berkurangnya pasokan, utilisasi tambah anjlok hingga cuma 40%.

Tidak hanya produsen di luar negeri yang mengurangi volume produksi CRC, produsen di dalam negeri juga mengambil langkah serupa. Di dalam negeri produsen pengolah CRC itu terdiri dari PT Krakatau Steel (KS),PT Essar Indonesia, dan PT Gunung Garuda.

Essar memang mengakui saat ini mereka mengurangi produksi CRC. "Kami mengurangi pembelian HRC karena harganya sangat tinggi. Akibatnya produksi CRC kami juga menjadi berkurang," kata General Manager Marketing PT Essar Indonesia Shireesh Sharma ke KONTAN, belum lama ini.

Sumber : Harian Kontan, Page : 14 

 

 Dilihat : 3258 kali