28 Januari 2008
Soeharto, Pengembang Industri Dasar dan Strategis

ERA Presiden Soeharto, 1996-1998, menjadi peletak dasar sektor industri. Di sisi lain, penguatan sektor, industri strategis juga menjadi perhatian penguasa Orde Baru tersebut. Sebut saja misalnya pengembangan industri strategis seperti PT Pindad. Produsen alat militer dan mesiu, alat elektrik, mesin industri serta komponen itu bermula dari bengkel peralatan militer di Surabaya dengan nama Artillerie Constructie Winkel (ACW) yang didirikan pada 1808.

Selanjutnya pabrik dipindahkan ke Bandung pada 1923. Pemerintah Belanda pada 1950 menyerahkan pabrik tersebut kepada Pemerintah Indonesia, kemudian pabrik tersebut diberi ' nama Pabrik Senjata dan Mesiu (PSM) yang berlokasi di PT Pindad sekarang ini. Selanjutnya lewat Keputusan Presiden RI No. 59 tahun 1983 tanggal 29 April 1983 PT Pindad (Perindustrian TNI-AD) beralih status menjadi Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis (BUMNIS) dengan nama PT Pindad (Persero). Pada 2002 PT Pindad (Persero) beralih di bawah pembinaan Kementerian BUMN.

Industri strategis lainnya adalah pabrik pembuatan pesawat PI1 Dirgantara Indonesia (PT DI). . Industri ini pertama kali didirikan bernama PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN). Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia menjadi negara pertamayang bisa memproduksi pesawat. Pesanan pun berdatangan dari berbagai negara.

Dirintis Nurtanio Pringgoadisuryo dan kemudian dikembangkan BJ Habibie, PT1 DI sesungguhnya telah dapat segalanya (Majalah Angkasa, No. 11 Agustus 2003 Tahun XIII). Dana besar, fasilitas, serta dukungan politik. Setiap melawat keluar negeri, Presiden Soehar

to bahkan ikut menjajakan pesawat buatan PTJH. Kepada seluruh operator penerbangan domestik, juga ditekankan betapa , penting membeli produk sendiri seperti CN-235, NC-212, NBO105, dan NAS 332.Sejauh, itu konsep Soeharto sudah benar dan lazim dilakukan kepala negara negeri lain yang punya industri kedirgantaraan.

Selain industri alat perang dan pesawat terbang, Soeharto juga mengembangkan industri strategis lainnya yakni PT PAL. BUMN strategis itu memiliki empat divisi produksi. Divisi yang pertama adalah divisi kapal niaga. Divisi ini mampu memproduksi kapal hingga 50.000 dead weight ton (DWT), seperti kapal double skin bulk carrier (DSBC) 45.000 DWT, kapal tanker (17.500 DWT), kapal kontainer (1.600 TEU), dan semi kontainer (4.180 DWT).

Serta, floating production unit, kapal penumpang, tongkang BBM (300 ton), dry cargo vessel (18.500 DWT), dan tuna long line (60GT).

Divisi kedua adalah divisi kapal perang. Divisi ini memproduksi kapal-kapal khusus, seperti fast patrol boat (28 M), fast patrol boat police (28 M), fast patrol boat (14 M), (Jan fast patrol boat (57 M). Selanjutnya, divisi rekayasa umum yang memproduksi komponen turbin uap dan gas, seperti BOP, heat exchanger, HP Heater, gerta LP Heater. Gas compressor module compartment, oil and gas compartment, dan barge mounted power plant. Divisi keempat adalah divisi perbaikan dan pemeliharaan. Pada divisi ini PT PAL Indonesia melakukan reparasi dan pemeliharaan kapal serta rekayasa umum, overhaul kapal selam, kapal niaga, kapal perang, dan sebagainya.

Selain mengembangkan industri alat perang, pesawat udara, dan kapal laut, rezim Soeharto juga mengembangkan industri strategis lainnya yakni PT Inka, PT Pindad, PT Inti, PT LEN, PT Krakatau Steel, PT Barata, PT Dahana, dan PT Boma Bisma Indra: Bidang produksinya beragam mulai dari pembuatan gerbong dan mesin kereta api, alat elektronik dan sistem telekomunikasi, bahan peledak hingga mesin-mesin industri berat.

Selain industri strategis tersebut, semasa pemerintahannya, mantan Presiden Soeharto juga meletakkandasar pengembangan industri kimia hulu seperti PT Chandra Asri, pengembangan industri semen serta otomotif.

Proyek olefin PT Chandra Asri memang sempat dibekukan. Namun, perusahaan milik pengusaha Prayogo Pangestu tersebut tetap berjalan mulus. Proyek yang diresmikan Presiden Soeharto itu memakan investasi sekitar US$ 1,8 miliar. Chandra Asri menjadi penting karena merupakan produsen kimia hulu yang banyak dibutuhkan industri di dalam negeri.

Saat ini kebutuhan etilene di Indonesia yang mencapai sekitar 1,4 juta ton per tahun hanya mampu dipasok satu produsen etilene, yaitu Chandra Asri yang produksinya setahun hanya 525 ribu ton. Sedangkan, sekitar 900 ribu ton lainnya diimpor dari Singapura, Korea Selatan, danTimur Tengah. "Jadi, kita membutuhkan 1,5 sampai dua kali pabrik seperti Chandra Asri," kata Ketua Umum Asosiasi Industri Plastik dan Olefin Indonesia (Inaplast) Didie W Soewondho, beberapa waktu lalu.Kebijakan di sektor industri era kepemimpinan Presiden Soeharto jumlahnya masih panjang.

Namun, dari beberapa kebijakan di atas, sebagai peletak dan pengembang industri dasar dan strategis, mantan presiden kelahiran Desa Godean, Yogyakarta itu, wajar mendapat pujian sebagai Bapak Pembangunan. Tentu, di luar segala kekurangan dan kelemahan kebijakan ekonomi di bidang industri, Soeharto bukan sosok sembarangan bagi perkembangan industri nasional. Ada beberapa rencana penting yang memang belum terwujud. Misalnyasaja kebijakan mobil nasional (mobnas). Cita-cita membangun industri mobil hasil karya dan merek bangsa sendiri te/nyata masih banyak menghadapi tantangan. Para produsen asing, khususnya produsen Jepang, amat berkepentingan memperluas cengkeramannya di wilayah Asia yang memiliki penduduk terbanyak di dunia, (ed)

Sumber : Investor Daily Indonesia, Page : 3 

 Dilihat : 3040 kali