25 Januari 2008
BTN Mungkin Dilepas ke Bank BUMN

JAKARTA - Pemerintah tengah mengkaji untuk menjual 99,55 persen kepemilikannya di Bank Tabungan Negara (BTN) pada BUMN lain. Tujuan melepas kepemilikan saham BTN pada perusahaan pelat merah lainnya itu agar BTN tetap pada khittah-nya sebagai bank perumahan rakyat.

Tetapi opsi melepas saham BTN ke publik melalui mekanisme penawaran umum saham perdana (IPO), akan tetap dilanjutkan. "Jika opsi yang dipilih adalah strategic sales, maka kita akan menjual saham BTN ke bank BUMN lain, sebanyak-sebanyak 99,5 persen," ujar Menneg BUMN, Sofyan Djalil, dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR, di Jakarta, Kamis (24/1).

Menurut Sofyan, untuk meningkatkan penyaluran kredit perumahan BTN perlu memperkuat permodalan. Pasalnya, menurut Sofyan, kredit perumahan membutuhkan pendanaan yang bersumber dari dana jangka panjang. Itulah yang selama ini menimbulkan missmatch, antara sumber pendanaan dan kebutuhan kredit. "Apapun pilihannya, BTN tidak boleh lari dari core bisnis KPR. Itu yang utama," ujar Sofyan, tegas.

Jika opsi menjual ke bank BUMN dipilih maka pemerintah tetap bisa mengendalikan BTN untuk tidak mengubah khitah pendiriannya sebagai bank yang fokus pada pembiayaan KPR.

BTN merupakan satu dari sepuluh BUMN yang kembali diajukan untuk diprivatisasi pada tahun ini. Selain BTN, PT Krakatau Steel juga termasuk ke dalam 10 BUMN yang tengah digadang-gadang tersebut. BTN sendiri memerlukan tambahan dana untuk dapat mendukung program pemerintah, yakni program pembangunan rusunawa (rumah susun sederhana sewa) 1.000 tower. Sementara untuk PT Krakatau Steel (KS), saat ini sedang menunggu proses restrukturisasi dan kesiapannya untuk diprivatisasi.

Daftar BUMN yang privatisasinya ditunda pada 2007 lalu antara lain, Garuda Indonesia, Merpati Nusantara Airlines dan Industri Gelas. Selain itu juga terdapat BUMN dimana pemerintah hanya memegang saham minoritas. Diantara perusahaan tersebut adalah Jakarta International Hotel Development, Intirub, PT Kertas Blabak dan PT Basuki Rahmat. Sebelumnya, Oktober tahun lalu, pemerintah sempat mengkaji untuk melepas BTN kepada BUMN di luar perbankan, saat itun Menteri Negara BUMN, Sofyan Djalil, mengungkapkan, BUMN yang dinilai sesuai untuk mengambil alih BTN itu, antara lain, PT Jamsostek atau PT Taspen.

"Kami pikir itu bagus karena Jamsostek ataupun Taspen memiliki dana jangka panjang," ujar Sofyan, saat itu. Menneg BUMN sendiri saat itu mengakui, pemerintah memang tengah mengkaji beberapa opsi untuk mencari jalan keluar yang tepat bagi BTN. Tujuan utama yang ingin dicapai adalah agar BTN tetap menjadi bank utama yang menyalurkan kredit KPR.

"Tujuannya agar BTN dapat mengatasi mismatch pembiayaan," ujar Sofyan. Kredit KPR yang pada umumnya merupakan pembiayaan jangka panjang, dalam pandangan pemerintah akan lebih baik jika pendanaannya pun merupakan dana-dana angka panjang.

Sempat pula muncul pilihan secondary mortgage facilities (SMF) atau semacam piutang KPR yang dijual kembali. Sayangnya, pasar keuangan di dalam negeri belum memungkinkan untuk berkembangnya SMF tersebut.

Bank pemerintah yang tercatat paling ngotot meminang BTN adalah'BNI. Direkturutama BNI, Sigit Pramono, berkali-kali menyatakan pihaknya siap mengakuisisi BTN.


Sumber : Republika, Page : 13 

 Dilihat : 3050 kali