22 Januari 2008
Mencuat, Desakan Penerapan BMAD Baja

JAKARTA-Pemerintah diminta segera memutuskan besaran bea masuk anti dumping (BMAD) baja dan meningkatkan pengawasan produk berstandar nasional.

Langkah itu dinilai sebagai sikap tegas pemerintah dalam melindungi industri baja nasional dari gempuran produk impor yang terbukti dumping. Demikian rangkuman pendapat anggota DPR Komisi VI Hasto Kristiyanto dan pengamat ekonomi Indef Avaliani yang dihubungi terpisah di Jakarta akhir pekan lalu.

Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) pada akhir Desember 2007 memutuskan untuk mengenakan BMAD terhadap impor produk baja capai panas (hot rolled coil/ HRC) sebesar 49,61%. Pengenaan BMAD tersebut ditujukan pada lima negara importir yaitu Tiongkok, India, Taiwan, Rusia, dan Thailand. Keputusan KADI selanjutnya menanti ketetapan dari Departemen Keuangan.

Hasto Kristiyanto minta pada Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati segera menandatangani keputusan BMAD. Menurut dia, keputusan tersebut sangat penting untuk melindungi industri ba, ja nasional. "Setuju sekali kalau BMAD diberlakukan. Kalau tidak begitu, industri baja akan hancur," tegas Hasto.

Sementara itu, Aviliani menyarankan kepada pemerintah untuk tidak ragu mempersoalkan praktik dumping. Sebenarnya, jelas dia, kasus dumping baja hanya satu dari sekitar 100 praktik dumping pada berbagai jenis produk.
Menurut dia, produk domestik yang berkualitas internasional pasti digempur dengan produk sama dari negara lain, dengan cara dumping. Ia menilai, selama ini, pemerintah kebanyakan angkat tangan soal praktik tersebut. Seolah pemerintah tidak mempunyai komitmen membangun industri nasional atau kelemahan pengacara yang disewa pemerintah. "Kali ini pemerintah sebaiknya membuktikan diri untuk membela 'industri nasional," tuturnya.

Bila BMAD diterapkan, Aviliani mengingatkan pada, pemerintan bahwa negara importir tidak tinggal diam. ' Kemungkinan mereka akan memasukkan produk baja dengan spesifikasi rendah dari yang diterapkan Standar Nasional Indonesia (SNI). Praktik itu bukan hanya merusak harga pasar, tetapi juga berimplikasi besar bagi kelanjutan industri baja.

Sedangkan Hasto minta pada aparat Bea dan Cukai untuk memeriksa ketat produk baja yang masuk. Aparat Bea dan Cukai sebaiknya dibekali pengetahuan tentang produk baja berstandar nasional.

Produsen atau eksportir yang dituduh dumping berjumlah 15 perusahaan yakni tiga perusahaan dari Tiongkok (Anggang Steel Company Ltd, Wuhan Iron & Steel Co, dan Baoshan Iron & Steel Co Ltd), empat perusahaan India (Essar Steel Ltd, JSW Steel Ltd, Ispat Industries Ltd, dan Steel Authority of India Ltd), tiga perusahaan Rusia (Magnitogorsk Iron & Steel Works, Novolipetsk Steel, dan JSC Severtal), dua perusahaan Taiwan (Chung Hung Steel Company Ltd dan China Steel Corporation), serta tiga perusahaan Thailand (Nakornthai Strip Mill Public Company Ltd, Sahaviriya Steel Industries Public Company Ltd, dan G Steel limited), (cep)

Sumber : Investor Daily Indonesia, Page : 22 

 

 Dilihat : 3609 kali