23 Januari 2008
Stop Pemborosan Listrik

Stop Pemborosan Listrik Listrik adalah darah kehidupan masyarakat modern. Tersendatnya suplai listrik akan berakibat terganggunya berbagai aktivitas warga. Ancaman itu kini semakin dekat, ditandai dengan penjadwalan penyaluran listrik di beberapa kota di Indonesia. Ini dipicu oleh naiknya harga bahan bakar minyak di dunia internasional.

Naiknya harga minyak dunia mencapai 100 dollar AS per barrel awal Januari lalu mendorong pemerintah kembali meminta semua pihak melakukan pengiritan bahan bakar minyak (BBM) dan listrik besar-besaran demi penghematan anggaran. Pemerintah merasa perlu segera mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) tentang Penghematan BBM sebelumnya telah ada Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 2005 dan Peraturan Menteri ESDM Nomor 31 Tahun 2005 tentang Penghematan Energi.

"Penghematan energi harus dilakukan dalam waktu dua bulan ke depan melalui PP," ujar Wakil Presiden Jusuf Kalla awal bulan ini. Di sektor kelistrikan, menurut Kalla, efisiensi dapat dicapai antara lain dengan mengganti lampu pijar dengan lampu hemat energi, mengatur sistem pendingin ruangan, dan lampu reklame luar ruang. Imbauan ini terutama ditujukan kepada instansi pemerintah. Ia menyebut, di antara pemda di Indonesia, DKI Jakarta penyerap energi listrik terbesar, 30 persen dari total energi listrik nasional.

Jika program efisiensi energi diterapkan di empat sektor industri penyerap banyak energi seperti pabrik semen, pupuk, baja, pulp, dan kertas, maka Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) memperkirakan bisa dihemat Rp 300 miliar per tahun. Bila semua industri melakukannya, penghematan akan mencapai triliunan rupiah.Menurut Arya Rezavidi, Direktur Pusat Teknologi Konversi dan Konservasi Energi BPPT, reduksi bisa dicapai melalui perbaikan sistem pembakaran dalam proses produksi untuk menghemat batu bara, solar, dan gas alam, serta penggunaan listrik.

Untuk perbaikan sistem konversi energi di pabrik-pabrik dan perkantoran, sejak tahun 1988 BPPT menggunakan "Bus Energi" yang membawa berbagai alat pengukuran parameter kelistrikan untuk melakukan audit penggunaan energi listrik dan bahan bakar di lokasi."Bila diketahui ada pemborosan energi, selanjutnya dilakukan penelitian untuk memperbaikinya dan memodifikasi," lanjut Arya. Di pabrik baja, misalnya, penggunaan daya listrik terbesar ada di bagian tungku peleburan baja. Dengan memasang sistem jaringan saraf timan (artificial neuro network) pada alat pengontrol pemanasan di tungku, energi listrik dapat direduksi. Di Krakatau Steel Cilegon, misalnya, penerapan sistem ini dapat menghemat biaya listrik sebesar Rp 2 miliar per bulan.

Pada sistem pembangkit listrik tenaga uap, efisiensi dicapai dengan menerapkan Siklus Ganda Terintegrasi (Integrated Combine Cycle), pemanfaatkan kembali panas hasil pembakaran yang terbuang guna menggerakkan turbin.Di gedung perkantoran, peralatan yang butuh listrik terbesar adalah sistem pendingin ruangan. Penggunaan AC bangunan umumnya mengacu pada maksimum orang dalam ruangan dan sistemnya sentral. Penyetelan umumnya rendah sekitar 22 derajat Celsius. Untuk negara tropis idealnya sekitar 25 hingga 26C.
Untuk menekan penggunaan AC bisa dipasang sensor inframerah yang dapat mendeteksi jumlah orang di ruangan. Sistem ini terhubung dengan sistem pengaturan cahaya dan pendinginan. Gedung BII di Jl Thamrin yang mendapat penghargaan tahun 2006 sebagai gedung hemat energi dari ASEAN Energy  telah menggunakan sistem ini.

Edi Hilmawan, Kepala Subbidang Analisis dan Optimasi Energi BPPT, menambahkan, audit energi sejak 1995 mencapai lebih dari 60 lokasi. Tahun lalu 40 gedung pemda dan 6 pabrik semen di Jawa Barat diaudit. Hasilnya, selama 12 tahun terakhir umumnya perusahaan masih relatif boros menggunakan energi.Penghematan di gedung perkantoran, lanjutnya, juga dapat dilakukan dengan memadamkan lampu dekat jendela. Cara ini dapat menghemat listrik 20 hingga 50 persen. Penempatan ruangan dapat mereduksi penggunaan listrik. Ruangan yang kurang utilitasnya dihadapkan pada sisi yang mendapat penyinaran sepanjang hari, yaitu utara, maka penggunaan sarana penerangan dan pendingin bisa optimal.
Menurut Arya, audit energi dan rekomendasi perlu diperkuat dengan petunjuk pelaksanaan yang mewajibkan perbaikan, sebagai kelanjutan dari undangundang. Sekarang ada UU Energi tahun 2007 yang mengatur insentif bagi mereka yang melakukan penghematan dan sebaliknya disinsentif atau pengenaan denda bagi yang boros.

Sektor transportasi Dari total penggunaan BBM, sebesar 60 persen terserap untuk sektor transportasi dan 85 persen dikonsumsi sarana transportasi darat. Volume penggunaan BBM bakal terus meningkat karena pertumbuhan jumlah kendaraan 7 persen per tahun.
Di sektor transportasi darat, menurut Agus Nurrohim, Kepala Bidang Konservasi Energi BPPT, bila sejak tahun ini dilakukan diversifikasi, yaitu mengganti BBM dengan bahan bakar nabati atau biodiesel (dengan komposisi 10 persen pada total bahan bakar yang digunakan), gas alam cair LPG (liquid petroleum gas), maka pada tahun 2010 dapat dicapai penghematan BBM 12 persen untuk wilayah Jakarta saja ada sekitar 9 juta kendaraan, 2 juta merupakan mobil pribadi Jika modal dialihkan ke penggunaan angkutan umum, penghematan mencapai 15 persen.

Sementara proyek "Reduksi emisi gas rumah kaca dari industri di Asia Pasifik" (Geriap) untuk mengembangkan metode produksi bersih dan efisiensi energi juga dilaksanakan United Nations Environment Programme (UNEP) bekerja sama dengan Swedish International Development Agency (SIDA). Metode ini bertujuan meningkatkan efisiensi energi perusahaan agar dapat menurunkan penggunaan energi dan biaya produksi, meningkatkan kualitas lingkungan dan menurunkan emisi gas rumah kaca, serta menurunkan risiko kenaikan harga dan kelangkaan energi.
Dari sembilan negara Asia, dipilih lebih dari 40 perusahaan dari industri semen, kimia, keramik, besi, baja, pupuk, pulp dan kertas untuk mengikuti program ini. Negara tersebut adalah Banglades, China, India, Indonesia, Mongolia, Filipina, Sri Lanka, Thailand, dan Vietnam.
Di Indonesia, UNEP bekerja sama dengan BPPT dan Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup dan melibatkan enam industri untuk program itu. Dari proyek ini penghematan dapat mencapai Rp 20 juta hingga Rp 14 miliar per tahun.

Sumber : Kompas, Page : 14 

 

 Dilihat : 5923 kali