21 Januari 2008
Menyiasati Kecilnya Marjin, Produsen Baja Akan Menaikkan Lagi Harga Baja

JAKARTA. Tingginya harga baja canai panas (hot rolled coils/ HRC) yang mencapai US$ 800 per ton berdampak serius terhadap produsen baja hilir di Indonesia. Produsen pengolahan baja canai dingin (cold rolled coils/CRC) asal India, PT Essar Indonesia, sudah mengurangi konsumsi HRC besar-besaran sebagai bahan baku utama produk mereka.

Essar mengurangi pembelian HRC lantaran keuntungan dari bisnis mengolah HRC menjadi CRC saat ini sangat tipis. Sekadar gambaran, menurut General Manager Marketing Essar Shireesh Sharma, harga CRC saat ini hanya US$ 820 hingga US$ 850 per ton. Artinya, cuma ada margin US$US$ 50 per ton. Padahal selisih yang ideal antara harga HRC dan harga CRC adalah US$ 100 per ton. "Kalau selisih harganya sangat kecil seperti sekarang, CRC kurang menjadi kompetitif untuk diproduksi. Itu sebabnya kami telah menurunkan produksi CRC dalam jumlah cukup besar. Saya pikir produsen-produsen lain juga melakukan langkah yang sama," kata Shireesh ke KONTAN, Minggu (20/1).

Memang, penurunan volume produksi CRC tentu akan diikuti pengurangan pembelian bahan baku HRC. Saat ini Essar telah mengurangi pembelian HRC dari 23.000 ton per bulan menjadi 18.000 ton per bulan. Pengurangan juga telah memicu anjloknya utilisasi produksi CRC hingga 25% dari kapasitas semestinya. HRC sebanyak 18.000 ton itu hanya mampu memproduksi CRC sebesar 15.000 ton. Padahal, kapasitas produksi Essar sendiri mencapai 20.000 ton per bulan. Direktur Pemasaran PT Krakatau Steel (KS) Irvan Kamal Hakim sepakat dengan logika bisnis Shireesh. Meski demikian, pabrik baja milik negara itu masih menargetkan volume produksi CRC sesuai kapasitas produksi, yakni 750.000 ton. "Kami tetap berproduksi dengan kapasitas penuh. Sebab, sampai hari ini permintaan di CRC tetap bagus," kata Irvan, Minggu (20/1).

Disusul kenaikan harga Berbeda dengan KS. Saat ini, Essar memproduksi CRC hanya untuk konsumsi internal, yakni untuk memproduksi baja lapis seng, salah satu komoditi baja hilir mereka. Nah, untuk mengkompensasi sempitnya selisih harga antara HRC dengan CRC,Essar terpaksa menaikkan harga baja lapis seng. "Awal Januari lalu kami sudah menaikkan harganya menjadi Rp 32.000 per lembar. Kini akan kami naik lagi menjadi Rp 35.000 per lembar," imbuh Shireesh.Satu lagi perlu menjadi catat, an, semua kalkulasi bisnis tadi belum memperhitungkan rencana pemerintah menerapkan bea masuk antidumping (BMAD) HRC impor dari China, Korea, Taiwan, Thailand, dan Rusia. Penerapan bea masuk tambahan tersebut akan membuat harga HRC di pasar bakal semakin mahal. Soalnya, importir HRC impor dari kelima negara tadi harus membayar bea masuk antidumping hingga sebesar 4% sampai 54%.

Sumber : Harian Kontan, Page : 14 

 

 Dilihat : 5327 kali