21 Januari 2008
Ada Upaya Sistematis Guncangkan Pasar Baja

JAKARTA: Manajemen PT Krakatau Steel (KS) menduga ada upaya sistematis dan terselubung dari para produsen hilir baja dalam mengguncang pasar baja di dalam negeri melalui isu kelangkaan bahan baku, menyusul lonjakan harga baja dunia yang mencapai US$800 per ton.

Berbagai upaya sistematis tersebut dinilai akan kian menyudutkan KS sebagai produsen baja nasional dan pada akhirnya KS dianggap gagal dalam menyediakan kebutuhan baja bagi industri hilir nasional.

Direktur Pemasaran PT Krakatau Steel Irvan Kamal Hakim membantah pasokan bahan baku baja bagi kebutuhan sejumlah sektor hilir tersendat. Justru, lanjutnya, KS selalu memenuhi pasok baja canai panas (hot rolled coik/HRC) setiap bulan sebanyak 90.000 ton hingga 100.000 ton. "Jadi, tidak ada cerita kelangkaan pasok," katanya kemarin.Isu kelangkaan pasok bahan baku itu, menurut dia, justru dipicu akibat ulah segelintir produsen hilir yang hendak mengamankan stok bahan baku dalam jumlah besar guna menghindari lonjakan harga baja dunia. Dengan demikian, produsen hilir bisa mendapatkan harga yang lebih murah.

Bantahan tersebut diungkapkan KS menyusul lontaran Ketua Umum Gabungan Industri Pipa Baja Indonesia (Gapipa) Soesamto yang menyatakan KS telah kehabisan stok HRC yang dibutuhkan empat sektor hilir berbasis HRC seperti pipa, seng, kawat, dan paku sehingga mengancam terjadinya kelangkaan pasok.

Soesamto menilai BUMN baja itu terlambat mengantisipasi lonjakan harga baja dunia tanpa mengamankan pasokan bahan baku billet sebagai basis produksi HRC secara cukup. Keterlambatan itu akhirnya berdampak buruk ke sektor hilir baja sehingga kepanikan pasar terus berlanjut.

"Saya bicara apa adanya sebagai pengusaha bahwa KS terlambat membeli bahan baku HRC berupa billet sehingga bakal mengganggu produksi mereka. Apalagi, permintaan HRC ke industri pipa baja saat ini mulai dipangkas. Situasi seperti ini yang membuat kami semakin terimpit," ungkapnya saat dihubungi Bisnis kemarin.

Menurut dia, pasokan HRC ke industri pipa yang dijanjikan KS sebesar 7.000 ton untuk pengiriman (delivery) Maret 2008, hanya terealisasi 2.000 tbn. Sementara itu, kekurangan pasok 5.000 ton terpaksa ditempuh melalui impor."Kami adalah pelanggan setia KS baik tatkala mereka sedang susah maupun saat maju sekalipun. Tapi, kami sangat menyayangkan kalau situasi pasar baja saat ini malah membuat kami yang di hilir tertekan karena ketiadaan pasok bahan baku dari KS," keluh Soesamto.

Ketua Umum Ikatan Pabrik Paku Indonesia (Ippaki) Ario N. Setiantoro menjelaskan produsen kawat dan paku saat ini juga kian resah karena pasokan wire rod (kawat baja) di pasar domestik mulai langka akibat ketersendatan pasok dari KS. Faktor inilah yang memicu harga wire rod melambung menjadi Rp9.000 per kg.

"KS belum mengeluarkan harga baru karena masih menghitung harga billet. Kemungkinan, KS akan merilis harga baru pada Februari. Tapi berdasarkan informasi dari produsen kawat di Jatim seperti PT Ispat, dia telah melepas wire rod dengan harga Rp9.000 per kg dari sebelumnya Rp6.900 per kg termasuk PPN," kata Ario.

Kepentingan bisnis Atas situasi ini, Irvan melanjutkan KS tak mau terjebak untuk memenuhi ambisi bisnis sejumlah produsen hilir baja yang hendak menyimpan stok HRC dalamjumlah besar. "Kalau mau, silakan mereka beli impor saja."KS, kata Irvan, menyatakan kekeliruan kalau industri baja nasional saat ini mengalami kelangkaan bahan baku. "Faktanya jelas. Ini bukan kelangkaan suplai, tapi murni masalah bisnis, yakni mereka hendak menimbun stok, sebab harga yang kami patok pada Januari untuk pengiriman Maret masih lebih rendah dibandingkan dengan patokan harga internasional."

Dengan skala harga baja yang lebih murah US$35 per ton terhadap harga internasional yang telah mencapai US$800 per ton untuk pengiriman Maret, dia menjelaskan wajar apabila ada berbagai pihak yang ingin menempatkan pesanan di muka dalam jumlah besar melalui sistem forward

Kami menghindari pembelian secara forward agar tak terjadi kelangkaan bahan baku di pasar domestik, sebab fokus KS harus memenuhi pasok industri di dalam negeri. Bahkan untuk delivery Maret, jatah distributor telah kami potong 50%,"
tutur Irvan. (yusuf.waluyo@bisnis.co.id)

Sumber : Bisnis Indonesia, Page : T6 

 

 Dilihat : 2675 kali