19 Januari 2008
HARGA HRC TEMBUS REKOR USS 800/TON

JAKARTA-Pasar baja dalam negeri terguncang lonjakan harga baja canai panas (hot rolled coils/HRC) yang menembus level tertinggi dalam sejarah pada Kamis (17/1) malam, yaitu US$ 800 per ton. Akibatnya, para produsen baja hilir lokal panik dalam menetapkan harga jual karena takut merugi menyusul lonjakan drastis harga bahan baku tersebut.

Peningkatan harga baja dunia dunia itu lebih cepat dari prediksi semula yang memperkirakan level US$ 800/ton baru tercapai pada Juni 2008. Data dari lembaga survei internasional (World Steel Dynamics) menyebutkan, pada Selasa, 8 Januari 2008, harga baja di pasar internasional masih US$ 710/ton. Namun, pada 16 Januari lalu harga baja telah mencapai US$ 785 per ton dan mencapai titik tertinggi pada Kamis malam menjadi US$ 800 per ton.

Direktur Pemasaran PT Krakatau Steel Irvan Kamal Hakim mengaku heran dengan kenaikan tajam harga HRC dunia. Dia menerangkan, perubahan harga baja sudah tak lagi bergerak per semester, tapi sudah dalam hitungan minggu bahkan harian. "Harga sudah mencapai US$ 800 tadi malam. Itu harga tertinggi sepanjang sejarah," katanya saat dikonfirmasi di Jakarta," Jumat (18/1).

Menurut dia, pemicu utama tren kenaikan tajam harga HRC itu antara lain melonjaknya harga bahan baku bijih besi yang diperkirakan menembus US$ 150 per ton, terdongkraknya biaya transportasi, dan peningkatan permintaan dalam skala besar di pasar Asia. Secara otomatis, lonjakan harga HRC akan mendongkrak naiknya harga produk hilir, seperti pipa baja, baja lapis seng, mur, paku, dan kawat hingga 25%.

Produsen Panik Lonjakan harga baja itu akan memberatkan industri hilir dan konsumen, dari mulai industri otomotif, pipa baja, sampai sektor properti. Selain itu, kenaikan harga jual itu memicu ketatnya pasokan sehingga pelat baja mulai jarang di pasar domestik.

Bahkan, menurut sumber Investor Daily dari kalangan produsen baja hilir terpukul. Bahkan, salah satu produsen kawat baja (wire rod) terbesar di Surabaya pada dua minggu terakhir telah menaikkan harga empat kali karena-lonjakan harga bahan baku yakni baja canai dingin (cold rolled coils/CRC), produk olahan dari HRC.

Ketua Umum Ikatan Pabrik Paku dan Kawat Indonesia (Ippaki) Ario Setiantoro mengatakan, kenaikan harga HRC dipastikan akan mendongkrak harga CRC dan kawat baja ke posisi tertinggi. "Mencermati kondisi ini, kami sangat khawatir dan panik. Situasi ini benar-benar di luar dugaan. Di satu sisi kalau harga terus meningkat, kami tidak bisa memangkas margin karena biaya produksi sudah sangat besar. Sementara pasokan CRC dan wire rod semakin langka," ungkap Ario, kemarin.

Ketua Umum Gabungan Produsen Seng Indonesia (Gapsi) Ruddy Syamsuddin menerangkan, pada awal Januari harga CRC di pasar dunia telah menembus US$ 860 per ton. Jika posisi HRC telah mencapai US$ 800 per ton, kondisi itu akan segera mendongkrak harga CRC di atas US$ 900 per ton. "Pasar seng akan semakin stagnan dan mungkin cenderung menurun kalau daya beli konsumen tidak membaik," katanya.

Dihubungi terpisah, Manajer Penjualan Nasional PT BlueScope Steel Indonesia produsen baja hilir Dhany Dharmakusumah menerangkan, sektor hilir baja akan kesulitan dalam menjual produknya karena lonjakan harga yang begitu cepat. "Pengaruhnya langsung terasa. Misalnya, harga untuk bahan baku kompor gas dari zinc alum naik 10%. Tapi itu hanya perhitungan bulan ini karena bahan baku CRC yang dipasok dari KS sudah naik sekitar 10%," katanya.

Berdasarkan data Ippaki, harga paku dan kawat beton di tingkat produsen saat ini sudah menembus angka Rp 10.000/kilogram. Sementara di tingkat eceran harganya bisa menembus level Rp 12.000-Rp 14.000/kg. Padahal, pada periode September hingga akhir 2007, harga komoditas itu di tingkat produsen masih sekitar Rp 5.800-Rp 8.800/kg. Bahkan, awal 2007 lalu harga di pabrik masih di bawah Rp 5.000/kg.

Sedangkan harga kawat baja telah menembus level psikologis Rp 9.000/kg, dari posisi akhir 2007 yang hanya Rp 6.900/kg. Sementara harga baja lapis seng (BjLS) ukuran 0,2 milimeter merangkak naik dari Rp 32.000 per lembar menjadi Rp 35.000 per lembar di tingkat pabrikan. Di tingkat pengecer, harga BjLS bisa mencapai Rp 36.000 per lembar.

Sumber : Andrianto Suwismo Investor Daily Indonesia, Page : 13 

 

 Dilihat : 2837 kali