19 Januari 2008
Industri Keluhkan Bahan Baku, PT Krakatau Steel Cegah Spekulasi

JAKARTA, KOMPAS-Pelaku industri pipa baja mengaku dibayangi kesulitan mendapatkan bahan baku. Mereka menilai PT Krakatau Steel, yang memasok 85 persen bahan baku lembaran baja canai panas bagi industri ini, tidak bisa memenuhi permintaan.Sementara itu, manajemen PT Krakatau Steel menegaskan, lonjakan harga baja dunia memaksa produsen baja ini memastikan pembelian dilakukan sesuai kapasitas penyerapan industri.

Ketua Umum Gabungan Pabrik Pipa Baja (Gapipa) Soesamto di Jakarta, Jumat (18/1), menjelaskan, pembelian bahan baku lembaran baja canai panas (hot rolled coil/HRC) oleh pelaku industri pipa baja awal tahun ini tidak dapat dipenuhi oleh PT" Krakatau Steel (KS).
"Selama ini KS memenuhi sekitar 85 persen dari kebutuhan baku kami. Tapi pada pembelian yang sekarang kami lakukan, hanya sekitar 40 persen saja yang dipenuhi KS," ujar Soesamto.

Pembelian yang dilakukan pelaku industri pipa baja bulan ini umumnya dimaksudkan untuk pengiriman atau pengambilan stok bulan Maret mendatang.

Produksi tidak turun Secara terpisah, Direktur Pemasaran PT KS Irvan Kamal Hakim mengatakan, KS tidak menurunkan produksi, bahkan optimis target produksi 2008 sebesar 2 juta ton HRC dapat dicapai. "Tahun ini, kami juga memangkas ekspor" yang biasanya 15-20 persen menjadi 7 persen saja untuk mendahulukan kebutuhan dalam negeri," ujarnya.Menurut Irvan, KS juga mendahulukan suplai ke pelaku industri daripada ke distributor.

"Tetapi kami harus memastikan bahwa pembelian industri itu memang sesuai dengan daya serapnya, bukan spekulasi. Jangan sampai mereka membeli di atas kapasitas serapan untuk stok sampai beberapa bulan ke depan, padahal harga naik terus. Kalau begitu, KS yang rugi," ujarnya.

Batasan pembelian dipertimbangkan berdasarkan rekam jejak penyerapan tertinggi setiap pelaku industri. Pembelian untuk jangka waktu ke depan juga dirasa menyulitkan KS. Hal ini karena KS belum mendapat kepastian harga bijih besi.

Di pasar internasional, harga HRC melonjak dari 610 dollar AS per ten pada Desember 2007 menjadi 785 dollar AS per ton pada 17 Januari 2008. (DAY)

Sumber : Kompas, Page : 18 

 

 Dilihat : 3786 kali