18 Januari 2008
KS dan Pertamina go public semester I

JAKARTA: Rencana PT Krakatau Steel (KS) dan PTPertamina, menjadi perusahaan terbuka (go public), tetapi sahamnya tidak tercatat di bursa saham segera terwujud pada semester I tahun ini.

Ketua Badan Pengawal Pasar Modal & Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) A. Fuad Rahmany mengatakan niat itu bisa diwujudkan setelah keluar peraturan pemerintah (PP) yang khusus mengatur go public perusahaan BUMN.

Selama ini, lanjutnya, persoalan kepemilikan oleh 300 pihak menjadi ganjalan.go public dua perusahaan milik negara itu. "Pemerintah akan menerbitkan PP khusus. Setelah itu keluar, keduanya sudah bisa go public," ujarnya kemarin.

PP itu, katanya, akan diajukan oleh Menteri Negara BUMN Sofyan A. Djalil. Fuad mengatakan langkah tersebut tidak bertentangan dengan Undang-undang Pasar Modal karena UU itu membuka peluang penerbitan PP.Dia memperkirakan PP bisa dikeluarkan dalam waktu de. kat ini. Namun, lanjutnya, rencana tersebut memakan waktu lama terutama berkaitan dengan persiapan teknis dari kedua BUMN itu.

"Saya rasa persiapannya yang memerlukan waktu lama, baik dari Pertamina dan Krakatau Steel terutama soal laporan keuangan dan formatnya. Sore nanti [kemarin] kami akah'membahas hal itu," ujarnya.Optimistis terwujud.

Meski begitu, dia optimistis' rencana tersebut bisa diwujudkan pada periode semester I tahun ini karena tidak ada persoalan lain yang masih mengganjal."

Sebelumnya, Direktur Pemasaran Krakatau Steel Irvan Kamal mengatakan status Krakatau, Steel sebagai perusahaan publik yang tidak tercatat di bursa bisa terwujud pada pertengahan 2008, sedangkan penawaran umum perdana dijadwalkan pada 2009.

Dirut Pertamina Ari Hernanto Soemarno mengatakan sedang menyiapkan laporan keuangan yang diaudit mulai 2003-2007 dan dijadwalkan terbit pada tahun ini. Hal ini, katanya, terkait dengan akan disahkannya neraca awal perusahaan minyak itu pada akhir bulan ini.

Setelah menerbitkan laporan keuangan yang diaudit, katanya, Pertamina yakin lebih mudah mencari dana pinjaman bank atau dari pasar modal. Salah satunya obligasi global.Menurut dia, Pertamina berencana investasi Rp21 triliun tahun ini dengan mengandalkan pendanaan eksternal.

Sementara itu, kebutuhan valuta asing Pertamina meningkat tajam menjadi US$70 juta per hari seiring dengan tingginya harga minyak dunia.Ari mengatakan peningkatan kebutuhan valas tersebut murni karena kenaikan harga, tetapi volume impor minyak yang dilakukan tidak bertambah.
"Pendapatan Pertamina dalam rupiah, sehingga mau tidak mau harus tetap membeli valas," katanya. (06/Rudi Arif
FIANTO)

Sumber : Bisnis Indonesia, Page : B8 

 Dilihat : 2490 kali