03 September 2007
Impor Tabung Program Konversi Energi Diperketat

JAKARTA: Departemen Perindustrian akan mengenakan sanksi tegas kepada produsen kompor gas dan tabung baja kapasitas 3 kg yang terbukti mengimpor secara ilegal untuk menutupi kekurangan stok akibat ketidakmampuannya berproduksi sesuai target.

Sikap tegas tersebut dikeluarkan sebagai upaya pemerintah memperketat pengawasan produksi tabung berukuran 3 kg dan kompor gas satu mata tungku dan dua mata tungku dalam program konversi energi karena produk impor semakin membanjiri pasar. Selain itu, pengawasan juga akan difokuskan kepada kualitas produksi seiring telah dikeluarkannya sistem verifikasi teknis atas kedua produk tersebut.

Depperin juga meminta PT Pertamina agar turut mengawasi kualitas produksi 20 perusahaan tabung dan 30 perusahaan kompor peserta program konversi.  Direktur Industri Logam Depperin I Putu Suryawirawan menegaskan jika sampai terjadi impor tabung dan kompor gas maka itu berarti program konversi energi dinyatakan gagal. Pasalnya, selama ini industri di dalam negeri telah berkomitmen mampu memenuhi target produksi.

Di tengah upaya percepatan produksi sebanyak 11 juta tabung dan 6 juta unit kompor pada tahun ini, ada indikasi sebagian produsen tabung tak mampu memenuhi target produksi yang ditetapkan. "Saat ini beredar kabar telah terjadi importasi tabung gas karena industri lokal tak sanggup mengejar target produksi. Ada sebuah perusahaan tabung yang hanya memiliki kapasitas terpasang sekitar 30.000 unit per bulan, padahal dalam waktu 7 bulan dia harus bisa memproduksi yang jauh melebihi kapasitas tersebut," kata Putu, kemarin.

Menurut dia, jika sampai terbukti terjadi impor produk tabung gas untuk program konversi energi maka produsen bersangkutan tidak akan diikutsertakan lagi dalam tender tahun depan dan secara otomatis nama perusahaannya akan dicoret. Menteri Perindustrian Fahmi Idris bahkan telah melayangkan surat resmi perihal pelarangan impor tabung dan kompor gas kepada PT Pertamina.

Dalam surat itu Menperin juga meminta BUMN perminyakan itu untuk membantu pengawasan produksi tabung dan kompor. "Ini menjadi sebuah landasan baku buat pemerintah dalam mengambil langkah tegas. Meskipun demikian Depperin tetap berfungsi sebagai instansi yang melindungi dan membina industri."

Tiga kendala Putu mengungkapkan saat ini ada tiga kendala yang harus segera dipecahkan untuk memperlancar program konversi ini yakni problem pasokan bahan baku, proses produksi, dan pengiriman. Bahan baku yang dibutuhkan untuk membuat tabung gas adalah baja canai panas (hot rolled coils/HRC) jenis HRC-SG925 dengan ketebalan 2,3 milimeter (mm), yang dipasok PT Krakatau Steel (KS).

Dengan demikian, dengan target produksi sebanyak 11 juta tabung gas maka dibutuhkan sekitar 55.000 ton HRC-SG925."Problem ini harus segera dipecahkan. Apalagi masing-masing produsen tabung dan kompor gas memakai lembaran baja yang bervariasi," kata dia.

(Sumber: Bisnis Indonesia - 03 September 2007)

 Dilihat : 2537 kali