16 Januari 2008
Krakatau Steel Kaji Obligasi Global

(Media): Perusahaan properti yang baru saja mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia, Ciputra Property Tbk berencana menerbitkan Real Estate Investment Trust (REITs) senilai US$250 jutaUS$300 juta.Penerbitan REITs tersebut dilakukan sebagai sumber dana ekspansi usaha selama lima tahun ke depan.

"Kami memang akan menerbitkan REITs di Indonesia dalam waktu satu hingga dua tahun ke depan dengan nilai US$250 jutaUS$300 juta kata Dirut Ciputra Property Chandra Ciputra di selasela pembangunan awal Proyek Ciputra World di Jakarta, kemarin.

Pihaknya mempersiapkan empat unit usahanya yaitu Mal dan Hotel Ciputra Jakarta, Mal dan Hotel Ciputra Semarang, Somerset Citra, dan Ciputra World yang akan selesai dalam dua tahun mendatang."Kalau dihitung, nilai keempat aset tersebut bisa mencapai US$900 juta," tambahnya.

Hingga saat ini, pihaknya masih menunggu selesainya peraturan tentang REITs oleh BEI. Pasalnya saat ini perusahaan harus membayar pajak ganda jika menerbitkan REITs di Indonesia. Setelah peraturan tersebut selesai, penerbitan REITs di Indonesia diharapkan lebih menguntungkan daripada harus menerbitkannya di luar negeri.

Chandra mengakui, setelah menjadi perusahaan publik, pihaknya akan membutuhkan dana besar untuk melakukan ekspansi usaha. Selain membangun proyek Ciputra World di Jakarta, pihaknya juga membangun proyekproyek baru di tiga sampai lima kota di luar Jakarta per tahunnya. Sehingga, dalam jangka waktu lima tahun ke depan, proyek-proyek Ciputra menjangkau 25 kota.

Selain menerbitkan REITs, salah satu anak usaha Ciputra Group di Singapura akan melakukan penawaran saham perdana (intial public offering/ IPO) tahun ini."Saya belum bisa sebutkan nama anak usaha yang akan go public. Tapi perusahaan tersebut adalah perusahaan yang sedang mengerjakan proyek di Vietnam dan Hong Kong senilai US$500 jutaUS$700 juta," ujarnya.

Direktur Keuangan Ciputra Property Tulus Santoso menyatakan tahun ini perseroan menargetkan penjualan mencapai Rp 2 triliun. Jumlah tersebut naik 80% jika dibandingkan dengan proyeksi penjualan tahun lalu yang hanya Rp1,1 triliun. Sementara itu untuk target laba bersih, perseroan menargetkan Rp200 miliar. Jumlah tersebut naik hampir dua kali lipat ketimbang proyeksi laba bersih 2007 Rp110 miliar.

Obligasi global KS Sementara itu produsen baja nasional PT Krakatau Steel (KS) sedang mengkaji penerbitan obligasi global untuk mendukung program restrukturisasi dan modernisasi peralatan produksi yang sedang dijalankan perusahaan.

"Untuk itu, kami perlu dana sebanyak US$170 juta. Dan proses ini sedang dilakukan persiapan apakah melalui penerbitan obligasi atau skim kredit ekspor," kata Dirut PT KS Fazwar Bujang.

Perseroan berharap rencana restrukturisasi ini sesuai dengan target yang telah ditetapkan, menyusul harga bahan baku dan biaya energi yang semakin mahal. Saat ini KS menjadi produsen baja terbesar di Indohesia dengan distribusi penjualan yang menguasai separuh dari pangsa pasar domestik untuk flat product dan 12%15% untuk long product.

Dalam kesempatan itu, Fazwar membantah bahwa BUMN baja itu akan melakukan penawaran umum saham perdana (initial public offering/lPO) pada akhir tahun ini.

"Kami belum pernah diinstruksikan atau membuat kajian menerima strategic partner. Sebab kami sedang dalam proses revitalisasi, mencari sumber pendanaan untuk pinjaman restrukturisasi/' tegasnya. (DW/Slv/Zhi/E-3)

Sumber : Media Indonesia, Page : 15 

 

 Dilihat : 2668 kali