15 Januari 2008
Langkah strategis KS

Pemerintah  kembali akan melepas sebagian kepemilikannya kepada pihak luar pada salah satu badan usaha milik negara (BUMN), yaitu PT Krakatau Steel (KS). Langkah strategis ini merupakan satu rangkaian dengan rencana go public KS yang dijadwalkan pada akhir tahun ini. Tujuan dari aksi korporasi ini adalah untuk meraup dana segar guna memperkuat struktur  permodalan perusahaan penghasil baja terbesar di Tanah Air tersebut.

Padahal, bila kita mendengar kata penjualan saham BUMN, yang terlintas di pikiran kita adalah langkah penjualan BUMN secara obral seperti yang banyak dilakukan pada pascakrisis moneter satu dekade lalu. Langkah penjualan BUMN, saat itu, dilakukan atas anjuran Dana Moneter Internasional (IMF) guna mendapatkan dana segar untuk membiayai krisis dan memprivatisasi perusahaan milik negara tersebut agar lebih sehat jalannya.

Namun, setelah 10 tahun berlalu kita baru menyadari bahwa penjualan obral BUMN tersebut lebih merupakan langkah darurat dan bersifat jangka pendek dari penyembuhan penyakit krisis moneter. Akibatnya, tidak sedikit BUMN yang dilepas dihargai dengan harga yang kurang pantas atau jauh di bawah harga yang semestinya, sehingga kita merasa dirugikan.

Nasi memang sudah menjadi bubur, tetapi kita jangan mengulangi lagi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Oleh sebab itu, rencana penjualan KS harus dikaji secara seksama, punya tujuan jelas, dan tentu dengan hasil yang lebih menguntungkan.

Rencana penjualan 20% saham KS ke mitra strategis bisa dipahami bila tujuannya untuk memperkuat struktur permodalan sebelum rencana penawaran umum perdana (initial public offering) BUMN ini pada akhir tahun, yang akan melepas 29% saham BUMN ini. Dengan langkah itu, negara bisa mengembangkan perusahaan produsen baja ini secara lebih optimal, tetapi tetap menguasai saham mayoritas KS.

Oleh karena itu, mitra strategis yang akan dipilih harus benar-benar bisa memberikan nilai tambah seperti perusahaan baja ternama di dunia, sehingga kehadirannya bisa memberikan nilai lebih bagi KS. Bila pilihannya keliru, langkah menggandeng mitra strategis ini kurang bisa mendongkrak harga saham dan kinerja KS sebelum go public. Kinerja KS yang pada prognosis 2007 ditargetkan memiliki laba setelah pajak Rp215 miliar, seharusnya bisa melonjak lebih tinggi bila pemerintah memilih mitra strategis yang tepat.

Dana hasil penjualan saham kepada mitra strategis juga harus dipergunakan untuk membenahi masalah dan kendala yang selama ini ada di tubuh KS, seperti untuk menjamin pasokan gas, listrik, dan pengadaan bahan baku. Pemerintah bisa mempertimbangkan untuk membeli perusahaan pemasok bahan baku baja agar seluruh unit pabrik yang dimiliki KS bisa beroperasi secara maksimal.

Masalah lain yang tidak kalah pentingnya adalah memodernisasi mesin-mesin yang dimiliki agar perusahaan ini mampu memproduksi baja berkualitas tinggi. KS sebagai pemain terbesar pemasok besi baja di Indonesia mempunyai pasar yang sangat besar seiring dengan makin banyaknya produsen otomotif dunia yang mengembangkan usahanya di Indonesia. Sepanjang KS mampu memasok baja dengan kualitas yang diinginkan konsumennya, bisa dipastikan BUMN ini akan memiliki kinerja yang kinclong.

Oleh sebab itu, penjualan saham kepada mitra strategis merupakan kunci sukses dari langkah lanjutan KS, yaitu go public, sehingga akan dapat memberikan nilai tambah yang besar bagi perusahaan dan negara.

Sumber : Bisnis Indonesia, Page : 7 

 

 Dilihat : 2859 kali