12 Januari 2008
Harga Tabung Gas Naik 25 Persen

JAKARTA-Produsen tabung gas dalam negeri khawatir kenaikan harga baja HRC (hot rolled coil) dari Krakatau Steel bisa menghambat program konversi minyak tanah tahun 2008. Sebab, kenaikan itu bisa mendongkrak harga tabung gas ukuran tiga kilogram hingga 20-25 persen.

"Kita khawatir (kenaikan) ini menjadi kendala utama produsen dalam negeri memenuhi komitmen tender tabung gas," ujar Ketua Asosiasi Industri Tabung Baja (Asitab), Tjiptadi kepada wartawan kemarin. Menurutnya, kenaikan harga baja itu bisa menghambat rencana tahap pertama produksi delapan juta tabung gas dari 25 juta tabung gas yang ditargetkan pemerintah sepanjang tahun ini.

Menurut Tjiptadi, kenaikan harga baja dikhawatirkan membuat produsen dalam negeri urung meningkatkan kapasitas produksinya. Harga baja dari KS diperkirakan meningkat dari semula Rp 6.000 perkilogram menjadi Rp7.200 perkilogram. Jika kenaikan harga baja itu terjadi maka harga jual tabung gas juga akan naik. "Kalau sampai menyentuh level itu, harga tabung gas bisa naik 20-25 persen," ungkapnya.

Terlebih saat ini, Asitab belum mengetahui berapa ketersediaan stok baja yang dimiliki Krakatau Steel, apakah mencukupi atau tidak bagi produksi dalam negeri. Selain itu, produsen dalam negeri juga menghadapi berbagai, kendala teknis seperti minimnya kapasitas produksi dan kurangnya pelatihan SDM. "Masalah kenaikan harga baja, stok, dan kendala-kendala lainnya akan kita bahas di Depperin senin (14\O1\O8) depan," terangnya.

Sementara itu, Gabungan Pengusaha Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia (Gamma), Ahmad Safiun mengatakan bahwa kenaikan harga baja itu tidak bisa dihindari. Sebab, sejak dari dulu KS selalu membeli bahari baku baja di pasar spot internasional secara mendadak. "KS itu beli di spot market tidak dalam kontrak jangka panjang, makanya dia beli dengan harga yang tinggi," cetusnya.

Hal itu, menurut Safiun, berbeda dengan produsen-produsen baja dunia lainnya, yang membeli dengan kontrak jangka panjang dan harga yang tidak fluktuatif. Akibatnya, KS tidak pernah mendapat kepastian harga. "Kalau harga naik, yang tertekan tentu para pengusaha dari sektor baja hilir," jelasnya, (wir)

Sumber : Indo Pos

 

 Dilihat : 2689 kali