31 Agustus 2007
Waspadai Baja dari China, Pasar Domestik Tidak Stabil Akibat Praktik Ilegal

JAKARTA, KOMPAS-Persoalan yang dihadapi industri baja nasional saat ini adalah ketergantungan' pada bijih besi impor, inefisiensi, keterbatasan pasokan energi, dan buruknya infrastruktur. Tanpa strategi yang matang, pangsa pasar industri baja domestik akan tergerus baja impor asal China.

"Produksi baja China tahun 2005 berlebih 43 juta ton dan pada tahun 2006 meningkat menjadi 116 juta ton, yang dikhawatirkan dipasarkan ke seluruh dunia termasuk Indonesia dan mengganggu (pasar) produk baja domestik," kata Menteri Perindustrian Fahmi Idris dalam teks tertulis yang dibacakan Dirjen Logam, Mesin, Tekstil, dan Aneka Departemen Perindustrian Anshari Bukhari di Jakarta, Kamis (30/8).

Departemen Perindustrian memerlukan strategi pembangunan industri baja nasional. Tren positif pertumbuhan perekonomian nasional sebesar 5,1 persen pada tahun 2004,5,6 persen (2005), dan 6,2 persen (2006), seharusnya menjadi momentum bagi industri baja untuk memperbesar pangsa pasar domestik.

Dari sisi ekspor, kontribusi produk baja bernilai 880 juta dollar AS pada tahun 2004, 1,03 miliar dollar AS (2005), dan 1,75 miliar dollar AS (2006).

Masih belum terlalu signifikan jika dilihat dari total ekspor logam nasional yang bernilai 4,25 miliar dollar AS pada tahun 2004, 5,62 miliar dollar AS (2005), sampai 7,8 miliar dollar AS (2006).

Kenyataan ini seharusnya menyadarkan semua pemangku kepentingan industri baja agar lebih serius membangun strategi pengembangan.  Industri baja merupakan industri dasar yang pertumbuhannya menjadi acuan tren pembangunan suatu negara.

Peningkatan utilisasi industri baja domestik dari 53,1 persen pada tahun 2004, 56,3 persen (2005), dan 57,8 persen (2006) menunjukkan giatnya pembangunan infrastruktur, dari jalan, jembatan, hingga permukiman.
Tanpa baja, siapa yang berani membangun sesuatu? Komponen terkecil yang tetap dibutuhkan adalah paku dan kawat.

Kepentingan bersama Departemen Perindustrian sendiri telah mengerjakan tiga langkah pembenahan. Pertama, optimalisasi pasar domestik sebagai basis pengembangan industri baja untuk meningkatkan konsumsi baja nasional lewat Peraturan Menteri Perindustrian Nomor ll/M-IND/PER/3/2006 tentang Pedoman Teknis Penggunaan Produk Dalam Negeri.

Kedua, memfasilitasi peningkatan efisiensi industri baja nasional lewat pengembangan teknologi dan restrukturisasi mesin.

Ketiga, mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam lokal, misalnya bijih besi untuk pengembangan industri hulu yang mendukung industri baja, contohnya industri bijih besi berbasis batu bara.  Indonesia memiliki potensi 5 miliar ton bijih besi dan 50 miliar ton batu bara yang belum dieksploitasi dengan optimal.

Jumlah tersebut sangat besar untuk memenuhi kebutuhan bijih besi domestik sebesar 3,5 juta per tahun dan bisa berkembang hingga 10 juta per tahun.

"Mengolah bahan mentah di dalam negeri untuk mendukung industri hilir akan menciptakan nilai tambah yang besar. Kontribusinya pada penciptaan lapangan kerja dan menggerakkan perekonomian lokal pun bisa tercipta," ujar Fahmi.  Upaya ini sedang dirintis oleh PT Krakatau Steel dan PT Aneka Tambang (Antam) di Kalimantan Selatan.

Kedua badan usaha milik negara tersebut akan membangun pabrik pengolahan bijih besi berkapasitas 300.000 ton per tahun untuk mengurangi impor bahan baku.  Dukungan kredit Namun yang terpenting, ujar Fahmi, perbankan juga harus mendukung industri baja dan pertambangan.  Tanpa penyaluran kredit dari bank, upaya pemerintah dan produsen baja meningkatkan daya saing tidak akan optimal.

Menurut Direktur Bank Mandiri Abdul Rachman, sampai 31 Juli 2007 pihaknya telah menyalurkan kredit sebesar Rp 6,4 triliun untuk industri baja.

Dari jumlah itu, sebanyak Rp 5,99 triliun pada industri pipa besi baja, Rp 337 miliar pada perusahaan pedagang besi baja, dan Rp 33 miliar pada usaha jasa konstruksi besi baja.

Abdul Rachman mengatakan, kebutuhan baja kasar tumbuh 5 persen per tahun, cold rolled coil/sheets 8 persen per tahun, hot rolled coil/plate 12 persen per tahun, dan baja batangan 15 persen per tahun.

Ketua Umum Gabungan Asosiasi Produsen Besi dan Baja Seluruh Indonesia (Gapbesi) Daenulhay mengatakan, pasar domestik menjadi tidak stabil akibat praktik-praktik ilegal pelaku pasar sendiri.

Daenulhay mencontohkan, penipuan pajak dan pengurangan ketebalan baja 10 milimeter, namun tetap dijual seharga produk standar.  Selain itu, produk selundupan dari China yang diperkirakan berkisar 4,5 juta ton per tahun telah merusak pasar.  Kondisi ini menyebabkan jumlah produsen baja berkurang dari 201 pabrik pada tahun 2001 menjadi 134 pabrik tahun 2006.

"Karena itu, kami menginginkan proteksi dari empat negara, yakni Rusia, China, India, dan Thailand, juga meminta harmonisasi tarif sehingga bea masuk produk industri hilir lebih besar dari hulu," ujar Daenulhay.

Saat ini, tarif produk industri hilir lebih kecil dari hulu, misalnya pelat tipis 12,5 persen, paku 7,5 persen, dan kawat 10 persen.

Menanggapi hal ini, Deputi Menteri Perekonomian Bidang Perindustrian dan Perdagangan Edi Putra Irawady mengungkapkan, persoalan yang dihadapi industri baja domestik saat ini adalah inefisiensi pabrik dan persaingan tidak sehat di dalam negeri.

"Kondisi ini menjadi tantangan bagi pemangku kepentingan dalam menyusun strategi pengembangan industri baja nasional. Jadi, sumber penyakitnya harus diobati dulu, jangan lantas minta proteksi seperti safeguard dan revisi tarif bea masuk," tutur Edi.

(Sumber: Kompas - 31 Agustus 2007)

 Dilihat : 2889 kali