04 Januari 2008
APBN Jadi Prioritas Utama

Harga Minyak Sempat Sentuh USD100/Barel JAKARTA (SINDO)Pemerintah akan memprioritaskan langkah-langkah pengamanan APBN 2008 menyusul kenaikan harga minyak dunia yang sempat mencapai USD100 per barel.Kendati demikian, pemerintah tidak akan mengambil langkah baru hingga Juli 2008.

"Buat kita, yang paling penting adalah menyiapkan APBN supaya biaya keseluruhan perubahan dari sisi penerimaan dan belanja bisa sejalan dan harmonis. Jadi tidak menimbulkan krisis confident," ujar Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati di Jakarta kemarin.

Dia mengatakan, pemerintah telah menyiapkan berbagai skenario terkait perkembangan harga minyak. Skenario skenario itu disusun berdasar asumsi harga minyak rata-rata sepanjang 2008, dari level USD60 hingga USD 100 per barel. "Jadi, (tergantung) perkembangan harga minyak dunia minggu ini atau minggu depan. Kita lihat saja," katanya.

Menkeu menuturkan, perubahan angka-angka sejumlah pos di APBN 2008 yang terimbas kenaikan harga minyak akan diputuskan dalam pembahasan RAPBN-P 2008 pada Juli Mendatang. Menurutnya, perubahan harga minyak akan memengaruhi sisi penerimaan dan pengeluaran APBN 2008.

Dia menambahkan, ketahanan APBN 2008 terhadap pengaruh kenaikan harga minyak dunia tahun ini dipengaruhi oleh disiplin instansi pemerintah dalam menjalankan alokasi subsidi. "Jumlah subsidi sangat dipengaruhi berbagai kebijakan pemerintah untuk konservasi, penghematan ataupun perubahan dari barang-barang yang disubsidi seperti BBM itu," ujar Sri Mulyani.

Di tempat terpisah, Wapres Jusuf Kalla menyatakan pemerintah sudah siap menghadapi kenaikan harga minyak mentah dunia hingga USD100 per barel. "Tidak apa-apa, itu faktor eksternal. Kita siap dari segi APBN, tidak ada soal. Karena (bila) subsidi naik, revenue juga naik," terang Wapres seusai menghadiri acara Diskusi Forum Komunikasi Wartawan Istana Wakil Presiden (Forwapres) di Jakarta kemarin.
Kalla mengatakan, kenaikan harga minyak mentah dunia ini tidak akan mempengaruhi nilai tukar rupiah. Bahkan, kenaikan tersebut akan menguntungkan Indonesia. "Tidak, tidak. Justru itu (kenaikan harga minyak mentah dunia) itu akan memperbaiki ekspor," ujar Kalla.

Harga minyak dunia pada perdagangan kemarin ditutup pada level USD99 per barel, setelah sempat melonjak hingga USD100 per barel. Lonjakan ini terjadi akibat ketegangan politik di sejumlah negara, menipisnya cadangan minyak Amerika Serikat (AS), serta meningkatnya permintaan di Asia. Melemahnya nilai tukar dolar AS juga ditengarai menjadi pemicu kenaikan harga minyak. Pasalnya, permintaan terhadap sejumlah komoditas yang berdenominasi dolar meningkat seiring rendahnya harga bagi pembeli yang menggunakan mata uang yang nilai tukarnya lebih tinggi dari dolar AS.

Pada perdagangan kemarin, minyak jenis light sweet crude untuk pengiriman Februari berada di level USD99,61 per barel. Adapun jenis brent north sea crude USD97,80 per barel.

Sejumlah analis berpendapat, kekacauan yang terjadi di Nigeria, produsen minyak terbesar di Afrika,menjadi penyebab melambungnya harga minyak ke level USD 100 per barel.

"Maraknya kerusuhan di Nigeria, kekhawatiran akan stabilitas politik Pakistan, ekspektasi mengenai cadangan minyak, dan masalah tingginya permintaan di musim dingin menjadi sumber penyebab kenaikan ini," ujar analis Alaron Trading Padahal, sebelumnya sejumlah analis memprediksikan isu geopolitik di tahun 2008 akan surut secara signifikan menyusul minimnya ketegangan yang terjadi antara negara pengekspor minyak terbesar Iran dan AS.

Para trader masih berspekulasi mengenai data cadangan minyak AS yang rencananya disampaikan kemarin oleh Departemen Energi AS. Mereka memprediksi akan terjadi penurunan tajam sehingga menyebabkan harga minyak dapat kembali menyentuh USD100 per barel.

Pasar saat ini masih menanti hasil keputusan pertemuan negaranegara pengekspor minyak (OPEC) pada 1 Februari mendatang. "Jika minyak tetap di kisaran USD100 per barel menjelang pertemuan OPEC mendatang, diperkirakan kuota akan ditingkatkan," jelas Kepala Ekonom Internasional Capital Economics Julian Jessop.

Pada pertemuan Desember kemarin, organisasi yang memproduksi sekitar 40% kebutuhan minyak dunia itu menolak menaikkan jumlah produksi. Menurut OPEC,tingginya harga minyak bukan karena kekurangan suplai, melainkan ulah para spekulan.

Faktor kenaikan harga minyak hingga mencapai USD 100 per barel berdampak terhadap kenaikan harga emas yang diperdagangkan di London Bullion Market. Harga emas mencapai level tertingginya, USD866.53 per ons.

"Para investor khawatir terhadap tingginya harga minyak dan lemahnya nilai tukar dolar AS. Ketika mengetahui situasi menjadi tidak stabil, mereka mencari lokasi investasi yang aman sehingga meningkatkan minat pembelian emas ini," ujar dealer emas Delta Asia Financial Group Gary Yue.

Namun, beberapa analis Jain berpendapat faktor lain kenaikan minyak ini akibat tidak terpenuhinya permintaan minyak di negaranegara Asia seperti China dan India yang ekonominya tengah booming. Faktor lainnya, menyusutnya investasi negara-negara pengekspor minyak yang menyebabkan penurunan kapasitas cadangan produksi.

Lonjakan harga minyak pada perdagangan kemarin berimbas pada pergerakan di pasar keuangan. Sejumlah bursa di Asia pun rontok. Penurunan terbesar terjadi di bursa Hong Kong, indeks Hang Seng melemah 2,44% atau 673,24 ke posisi 26.887,28. Straits Times Index Singapura juga melemah 1,85% atau 64,16, ke level 3.397,06 Begitu juga KOSPI indeks yang terkunci di posisi 1.852,73, turun 0,04% atau 0,72 poin dan S&P/ASX 200 index yang merosot 1% atau 62,5 poin ke level 6,290.7. Hanya bursa di China yang mengalami kenaikan akibat menguatnya saham PetroChina dan perusahaan produsen baja, Baoshan Iron Steel. Menanggapi kenaikan harga minyak itu, ekonom senior Indef M Fadjiil Hasan mengatakan pemerintah mesti segera menjalankan sembilan langkah pengamanan APBN 2008. Dua langkah yang perlu didahulukan adalah pencapaian target lifting minyak sebesar 1,034 juta barel per hari dan memastikan anggaran subsidi BBM tidak membengkak. "Akan jadi masalah kalau lifting tidak tercapai, defisit pasti membengkak. Kalau konsumsi BBM bers
ubsidi tidak terkendali, itu juga menjadi masalah," tuturnya.

Sementara itu, pengamat perminyakan Kurtubi menilai langkah pengamanan produksi minyak dalam negeri oleh pemerintah tidak akan efektif. Menurutnya, pembebasan tarif bea masuk tiga alat eksplorasi migas tidak langsung menjamin target lifting 2008 tercapai. "Setidaknya baru akan menaikkan dalam dua sampai tiga tahun mendatang," katanya.

Kurtubi menyarankan pemerintah mencari langkah lain yang lebih taktis. Dia mencontohkan antara lain mengenakan pajak surplus keuntungan perusahaan eksplorasi migas di Indonesia.

Fadhil menambahkan, dampak negatif kenaikan harga minyak lebih dirasakan oleh pelaku usaha dibandingkan pemerintah. Apalagi, sembilan langkah yang diputuskan pemerintah tidak ada yang langsung membantu dunia usaha.
(muhammad ma'ruf/maya sofia/AFP/Rtr/amailia ph)

Sumber : Harian Seputar Indonesia, Page : 1

 

 Dilihat : 3678 kali