04 Januari 2008
Baja hilir China bakal banjiri pasar

JAKARTA: Pasar baja hilir domestik pada tahun ini diperkirakan mengalami kebanjiran produk impor, terutama dari China, menyusul kebijakan pemerintah negara berpenduduk 1,3 miliar jiwa tersebut untuk menurunkan tarif pajak ekspor.

Penurunan pajak ekspor produk baja hilir tersebut dipastikan akan membuat ekspor China meningkat tajam terutama ke negara-negara yang memiliki tarif bea masuk rendah a.l. Amerika Latin, Afrika, dan kawasan Asia termasuk Indonesia. Oleh karena itu, kalangan pelaku industri baja nasional mendesak pemerintah segera mengkalkulasi ulang ketentuan tarif bea masuk sejumlah produk hilir baja, khususnya di sektor antara III (intermediate III) sebagai langkah antisipatif membendung bakal kian derasnya serbuan produk impor hilir baja China pada 2008.

Beberapa produk hilir baja China yang akan dipacu ekspornya mencakup komoditas industri intermediate III di subsektor lembaran (seng baja/BjLS, pelat timah, coated steel jenis tertentu, profil, pipa las) dan di subsektor batangan (steel cord, pegas, spiral, kawat, paku, mur, baut, besi beton, hingga profil).

Pada saat yang sama, mulai Januari 2008, Pemerintah China membatasi ekspor bahan baku di antaranya iron ore (bijih besi), kokas (coke), dan baja canai panas (HRC/hof rolled coils) untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri sekaligus mengembangkan industri hilir baja mereka.

Asia Tenggara diperhitungkan menjadi salah satu wilayah tujuan yang cukup potensial bagi ekspor baja hilir China mengingat tingkat konsumsi di kawasan ini tumbuh sekitar 7% per tahun. Jika pemerintah tak responsif terhadap manuver China, kinerja industri hilir baja nasional dikhawatirkan akan terguncang yang ditandai dengan penurunan tingkat produksi dan penjualan pada tahun ini.

Naik 30%
Menurut perkiraan, peningkatan ekspor produk hilir baja China ke Indonesia pada 2008 bisa mencapai 20% hingga 30%. "Kalau impor di hilir naik, utilisasi di industri kita akan menurun drastis hingga 20%. Masalahnya, bukan akibat penetapan sanksi BM antidumping seperti yang kerap dilontarkan berbagai pihak, tapi industri hilir baja kita memang belum seefisien China. Pemerintah sekali lagi harus melindungi salah satu industri strategisnya," kata Direktur Pemasaran PT Krakatau Steel (Persero) Irvan Hakim Kamal, kepada Bisnis, kemarin.

Anjloknya daya saing akibat serbuan produk murah China telah seringkali diungkapkan Ketua Umum Gabungan Pabrik Seng Indonesia Ruddy Syamsuddin dan Wakil Ketua Umum Gabungan Produsen Pipa Baja Indonesia Untung Yusuf. "Produk pipa baja kita kalah bersaing dengan produk murah asal China. Bahkan antara bahan baku domestik dengan produk jadi asal China, harganya hanya terpaut sangat tipis.

Inilah yang membuat industri pipa nasional semakin tidak kompetitif dan utilisasinya terus menerus menyusut," kata Untung, belum lama ini. Menurut Irvan, agar sektor hilir baja terlindungi, diperlukan perhitungan ulang atas penetapan tarif BM baja yang rasional. Saat ini, penetapan tarif BM hilir baja mengacu pada Keputusan Menteri Keuangan No. 591/KMK.010/2004, yang dinilai tidak dapat melindungi industri hilir baja domestik dari serbuan dan tekanan impor produk murah asal China.

"Sesuai KMK itu, pengenaan BM produk hilir baja berkisar 0%-25%. Dengan skala BM sekecil itu, Indonesia masih akan kesulitan meredam banjir produk hilir baja China."

Sumber : Bisnis Indonesia, Page : T5 

 Dilihat : 4030 kali