03 Januari 2008
BMAD Baja Tak Rugikan Industri

JAKARTA (SINDO) Depperin menilai pengenaan sanksi bea masuk antidumping (BMAD) 3 negara produsen baja canai panas tidak akan memperburuk kinerja industri baja hilir domestik.

"Industri hilir tidak akan bangkrut karena pengenaan BMAD itu," kata Direktur Industri Logam Depperin Putu Suryawirawan di Jakarta kemarin.

Putu mengungkapkan, sebaiknya industri bersikap arif dan menerima putusan Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) yang merekomendasi pengenaan sanksi BMAD eksportir baja canai panas dari tiga negara, yaitu Thailand.Rusia, dan India pada 19 Desember 2007 lalu. Rekomendasi itu dikeluarkan setelah dilakukan investigasi selama lebih dari setahun terhadap eksportir baja canai panas asal China, Thailand, Taiwan, Rusia, dan India.

Menurut Putu, saat ini produsen baja di sektor hilir sudah harus memanfaatkan pasokan baja canai panas di luar ketiga negara yang terkena sanksi. Negara potensial yang dapat dijadikan sumber pasokan baja canai panas menurut dia adalah Jepang, Malaysia, dan Korea Selatan. "Tidak perlu berlebihan menyikapi putusan BMAD ini. Masih ada ratusan produsen baja dunia yang mampu memasok baja canai panas secara fair" imbuhnya.

Selama ini, lanjut dia, produsen baja hilir kurang memaksimalkan pasokan baja canai panas di negara-negara tersebut. Tak heran, data pada 2005 menyebutkan pasokan baja canai panas dari tiga negara tersebut, ditambah China dan Taiwan, mencapai 590.000 ton atau 50% dari total kebutuhan baja canai panas nasional. Terlepas dari itu, Putu menegaskan Depperin akan menganalisis dampak diterapkannya kebijakan tersebut.

Diketahui, baja canai panas banyak digunakan industri hilir seperti sektor baja lapis seng, pipa, dan baja konstruksi. Selama ini industri baja canai panas lokal belum dapat memenuhi kebutuhan bahan baku industri pengolahan logam dan besi. Sementara harga impor baja canai panas dari Australia dan Eropa sangat tinggi.

General Manager Penjualan PT Krakatau Steel (KS) Purwono Widodo menyambut baik putusan KADI tersebut. Menurut dia, sebagai salah satu pelaku petisi yang mengajukan gugatan tersebut, pihaknya tidak akan mencari untung atas putusan tersebut. "KS tidak akan memanfaatkan dumping ini. Karena yang didumping itu cuma berapa negara. Sementara produsen baja dunia itu jumlahnya ratusan," kata Purwono.

Purwono yang juga ketua tim kajian dumping KS menilai putusan KADI telah melewati proses hukum berdasarkan aturan Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO). Penegakan aturan tersebut menjadi bentuk perlindungan yang wajar bagi para produsen di industri baja.

Sementara itu, PT Essar Indonesia sebagai PMA pengolahan baja canai dingin (cold rolled coils/CRC) terbesar di Indonesia yang mengimpor baja canai panas dari India menyatakan akan menggugat KADI atas sanksi tersebut. Menurut General Manager Marketing Essar Shireesh Sharma, putusan KADI itu akan memukul seluruh sektor hilir baja nasional.

Menanggapi hal itu, Purwono mengatakan, pihaknya mempersilakan Essar untuk menempuh proses tersebut. "Silakan. Itu sah-sah saja. Toh, petisi yang kami ajukan itu juga berdasarkan aturan WTO,"katanya. (whisnu bagus)

Sumber : Harian Seputar Indonesia, Page : 20 

 

 Dilihat : 2740 kali