03 Januari 2008
IPO BUMN Cegah Kejatuhan Indeks

JAKARTA - Rencana pemerintah melepas tiga belas Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melalui skema penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) 2008 diperkirakan mampu mencegah kejatuhan indeks. Apalagi, jika kondisi pasar global dan regional terus terpuruk.

Dengan tambahan IPO perusahaan swasta, indeks harga saham gabungan (IHSG) diproyeksikan tumbuh 30-50%. Keberhasilan IPO BUMN sebelumnya dan komitmen tinggi untuk memberi keuntungan (gain) dan membagikan dividen menjadi pertimbangan utama investor dalam mengoleksi saham saham BUMN.Demikian hasil rangkuman wawancara Investor Daily dengan Kepala Riset PT Recapital Securities Poltak Hotradero, Kepala Riset PT Mega Capital Indonesia Felix Sindhunata, Kepala Riset Grup Batavia Prosperindo Suherman Santikno, analis PT Optima Securities Ikhsan Binarto, analis PT Nusantara Investindo Sekuritas Arief Budisatria, dan analis PT Dongsuh Kolibindo Securities Ryan Ariadi Suwarno di Jakarta, belum lama ini.

Ryan mengatakan, masuknya beberapa BUMN ke bursa akan memperbesar nilai kapitalisasi pasar modal Indonesia dan menambah pilihan alternatif investor. Dengan demikian, pasar lebih resisten jika ada sentimen negatif dari luar negeri. Sebab, kejatuhan beberapa saham mampu ditahan. Terlebih respons pasar terhadap IPO BUMN "Pasar modal semakin bertumbuh, apalagi BI rate terus dipangkas, sehingga masyarakat lebih tertarik masuk ke pasar modal daripada deposito," jelas Ikhsan.

Felix berpendapat, pergerakan indeks berhubungan erat dengan kondisi politik saat IPO. Dengan peningkatan kapitalisasi pasar, investor lebih percaya diri terhadap perusahaan pelat merah tersebut.Menurut rencana, pemerintah memprivatisasi 13 emiten tahun depan lewat mekanisme IPO. Beberapa di antaranya, PT Krakatau Steel, PT Sucofindo, PT Waskita Karya, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III, PTPN IV, PTPN VII, dan PT Jakarta Industry Real Estate. Privatisasi tersebut akan dilaksanakan mulai Maret 2008. Persentase saham yang dilepas berkisar 30-40%.
Sepanjang 2007, pemerintah hanya melepas tiga BUMN, yakni secondary offeringPT Bank Negara Indonesia Tbk, PT Wijaya Karya Tbk, dan PT Jasa Marga. (Lihat Tabel).

Hingga akhir tahun, jumlah emiten yang masuk bursa tercatat 25 perusahaan, terdiri atas 22 emiten baru, satu secondary offering, dan dua perdagangan reksa dana (exchanged traded fund/ETF). Bursa Efek Indonesia (BEI) mengincar 30 emiten baru hingga akhir 2008.
IPO BUMN, menurut Ryan, berpotensi mendulang untung, seperti BUMN sebelumnya. Keberhasilan kinerja keuangan BUMN yang sudah listing feni menjadi magnet bagi IPO BUMN selanjutnya. Sejak tahun 1991-2007 pemerintah memprivatisasi 23 BUMN dan menghimpun dana Rp 40,77 triliun.

Ikhsan mengatakan, pemerintah diuntungkan dari IPO beberapa BUMN tersebut, karena mendapat dana segar di saat kesulitan dana. " Track record perusahaan perusahaan yang akan listing bagus dan sektor-sektor bisnis yang digeluti BUMN memiliki prospek bagus," ujar Santikno.
Arief mengatakan, kunci keberhasilan IPO sejumlah BUMN terletak pada harga, kendati kondisi makro ekonomi perlu diperhatikan.
Sebab, pasar modal tidak dapat lepas dari pergerakan ekonomi global. Poltak Hotradero menambahkan, mekanisme pasar sangat menentukan kesuksesan IPO.

Menurut dia, bila harga yang ditawarkan cocok dan kinerja keuangan perusahaan bagus, respons pasar pasti tinggi. Oleh sebab itu, kejelasan pemerintah menjadi faktor penentu, karena isu seputar rencana IPO BUMN sudah ada sejak tahun lalu, namun realisasinya belum ada.

Krakatau Menarik Arief mengatakan, dari beberapa BUMN yang akan masuk bursa, Krakatau Steel salah satu paling menarik. Sebab, perusahaan ini menghasilkan produk unik dan satu satunya perusahaan baja murni yang listing. 'Euforia listing Krakatau Steel akan sama dengan penawaran saham Jasa Marga," jelas Arief.

Ikhsan justru menghawatirkan listing Krakatau Steel, karena ketatnya persaingan dari Tiongkok. Pasalnya, perusahaan asing menawarkan produk lebih murah dan semakin banyak baja selundupan ke pasar domestik. Pemerintah berencana melepas 30% saham Krakatau Steel dengan skema IPO. Dana akan digunakan untuk pengembangan perseroan.

Ryan mengatakan, saham BUMN sektor perkebunan lebih menarik, karena harga komoditas cenderung naik, mengingat permintaan dunia belum dapat terpenuhi. Meski demikian, kata dia, PTPN tetap harus bersaing dengan perusahaan swasta yang telah listing, seperti PT Astra Agro Lestasi Tbk, dan PP London Sumatera Tbk.

"PTPN harus menunjukkan kinerja keuangan yang baik terlebih dahulu sehingga saat saham dilepas ke pasar, investor akan menyerbunya," kata Ryan.

Santikno optimistis, indeks berpeluang menguat, karena BUMN tersebut mempunyai pasar besar. Dari segi perolehan dana, IPO PT Bank Tabungan Negara diyakini mampu meraup dana sekitar Rp 3 triliun. Sementara itu, BUMN sektor perkebunan sawit juga berpeluang meraup dana sekitar Rp 1-2 triliun.

Jangan Ditunda Direktur Pencatatan BEI Eddy Sugito menilai, pemerintan sebaiknya tidak menunda rencana untuk membawa BUMN masuk bursa. Apalagi, listing saham Jasa Marga dan Wijaya Karya tahun ini memberikan gain cukup signifikan. "Ini membuktikan listing BUMN tidak mengecewakan pemegang saham mayoritas (pemerintah) maupun publik," tegas dia di Jakarta, Kamis (27/12).

Pada hari pertama listing, saham Jasa Marga mampu memberikan gain sebesar 20,6% atau menguat dari Rp 1.700 menjadi Rp 2.050. Sementara itu, saham Wijaya Karya naik 33,3% ke level Rp 560 dari harga IPO Rp 420.

Eddy menilai, dengan masuk bursa, kinerja BUMN diperkirakan meningkat. Komitmen pemegang saham publik terhadap IPO BUMN pun cukup baik, sehingga dapat berimbas positif terhadap pergerakan harga sahamnya. "Jadi, pemerintah tidak perlu menunggu sampai BUMN itu perfect dulu sebelum masuk bursa," lanjut dia. (c!20)
Oleh Eva Fitriani

Sumber :  Investor Daily Indonesia, Page : 11 

 

 Dilihat : 3229 kali