31 Agustus 2007
Industri Baja Tumbuh Negatif Lima Tahun Terakhir

JAKARTA: Perkembangan industri baja nasional mengalami pertumbuhan negatif dalam lima tahun terakhir. Kendala utama yang menghambat pertumbuhan industri baja nasional adalah terbatasnya pasokan energi berupa gas dan listrik.

Berdasarkan data Gabungan Asosiasi Produsen Besi dan Baja Seluruh Indonesia (Gabpesi), dalam lima tahun terakhir jumlah industri baja dalam negeri mengalami penyusutan hingga 30 persen. "Pada 2001 jumlah perusahaan baja ada 201, tapi data terakhir pada 2006 jumlahnya tinggal 134 perusahaan saja," kata Ketua Umum Gabpesi, Daenulhay di Jakarta, Kamis (30/8).

Daenulhay yang juga direktur utama PT Krakatau. Steel (KS) ini menuturkan, terbatasnya pasokan gas dan listrik merupakan kendala utama yang menghambat pertumbuhan industri baja nasional. Krakatau Steel misalnya, kata Daenulhay, mendapat pasokan gas dari Pertamina di bawah kontrak sebesar 80 mmscfd dengan tekanan 12 bar.

Selain itu, lanjut dia, kebijakan pemerintah yang mengenakan bea masuk atas bahan baku impor ikut pula menyumbang terjadinya penyusutan industri baja tersebut. Pasalnya, kebijakan itu menambah biaya produksi dan membebani industri. "Akhirnya daya saing industri di dalam negari hilang sehingga terjadilah penyusutan industri," katanya. Menurut Daenulhay, banyak produsen baja yang menutup pabriknya dan beralih menjadi pedagang baja. Di antara perusahaan baja yang menghentikan produksinya itu adalah Delta Komperta, Wira Mustika, dan Fonder Steel.

Kendala lainnya, tambah Daenulhay, adalah persaingan usaha tidak sehat yang terjadi di dalam negeri. "Cukup banyak pabriK baja yang memproduksi baja di bawah standar (SNI) ataupun memanipulasi pajak," paparnya.  Dalam kesempatan sama Direktur PT Bank Mandiri, Abdurachman, menuturkan hingga kini kalangan perbankan masih menganggap industri baja nasional sebagai sektor yang kurang menarik. "Kami melihat untuk tata niaganya masih belum kondusif. Begitu juga mengenai peraturan impor, tarif, dan persaingan yang tidak sehat. Kalau situasinya seperti itu buat bank cukup mengkhawatirkan.''

Meskipun demikian, jelas Abdul, dari data statistik yang ada industri baja .masih memberikan kontribusi yang positif setiap tahunnya. "Artinya tidak ada yang (kreditnya) macet," tandas dia.  Sampai dengan saat ini, tambahnya, Bank Mandiri telah menyalurkan pembiayaan untuk sektor industri baja di dalam negeri mencapai Rp 6 triliun. Jumlah tersebut, menurutnya, lebih kecil dibandingkan kredit yang disalurkan ke sektor perkebunan dan pertambangan.

(Sumber: Republika - 31 Agustus 2007)

 Dilihat : 3375 kali