02 Januari 2008
Harga Sejumlah Produk Manufaktur Naik

JAKARTA: Memasuki Tahun Baru 2008, sejumlah industri manufaktur berencana merealisasikan kenaikan harga produk, menyusul peningkatan biaya produksi akibat lonjakan harga energi.

Beberapa sektor yang akan merealisasikan kenaikan harga al industri otomotif, baja, semen dan industri makanan dan minuman. Kenaikan harga tersebut umumnya berkisar 2% hingga 10%.

Johnny Darmawan, Presiden Direktur PT Toyota Astra Motor pemimpin pasar otomotif nasional mengungkapkan rencananya untuk menaikkan harga jual mobil dengan kisaran 2% hingga 5%, tergantung model.

Langkah ini diperkirakan juga akan dilakukan, oleh semua produsen mobil karena mereka sudah lama menahan diri tidak menaikkan harga jual kendati tertekan oleh kenaikan biaya produksi.

"Langkah ini hampir pasti dilakukan oleh semua pabrikan karena mereka juga memiliki problem yang sama dan tak mau merugi. Selama ini, pabrikan mobil sudah berupaya mempertahankan, harga dengan memangkas margin laba," ujarnya kemarin.
Di pasar kendaraan niaga, penguasa segmen truk yaitu Mitsubishi yang diageni PT Krama Yudha Tiga Berlian-Motors (KTB) juga berencana menaikkan harga jual. Namun, penyesuaian harga jual ini tidak dikenakan pada semua mode kendaraannya.

Domestic Marketing Division Head PT Astra Daihatsu Motor (ADM) Amelia Tjandra menambahkan selain disebabkan lonjakan biaya produksi, kenaikan pajak kendaraan juga membuat harga mobil naik.

Di luar kenaikan pajak, harga on the road Daihatsu Xenia akan naik Rp1,5 juta sedangkan Terios Rp2 juta. "Untuk tipe lain seperti Gran Max dan Sirion harganya tetap karena merupakan model baru dan pajak juga tidak naik," ungkapnya kemarin.

Sementara itu, di industri baja, harga baja canai panas (hot rolled coils/HRC) di pasar dunia pada Januari 2008 diperkirakan akan menembus US$750 1 per ton, menyusul kenaikan harga bahan baku iron ore (bijih besi/pellet dan nonpellet) di pasar dunia hingga US$70 per ton dan terdongkraknya biaya transportasi seiring lonjakan harga minyak mentah dunia.

Direktur Marketing PT Krakatau Steel (Persero) Irvan Kamal Hakim menjelaskan kenaikan harga di pasar global tersebut sudah barang tentu akan memengaruhi harga di pasar domestik, termasuk di sektor baja hilir.

Terlebih, kata dia, China sebagai negara produsen dan konsumen baja terbesar di dunia, mulai menahan laju ekspor bahan baku bijih besi pada Januari.

Pada Desember 2007, harga HRC (free on board/FOB) dari China ke Vietnam untuk pengiriman (delivery) Februari 2008 telah mencapai US$700-US$725 per ton. Data World Steel Dynamics menyebutkan harga HRC pada Januari untuk pengiriman Maret mencapai US$750 per ton.

Sumber : Bisnis Indonesia

 Dilihat : 3394 kali