02 Januari 2008
2008: Bearish Atau Bullish?

Tahun 2007 baru saja kita lalui. Saatnya untuk merenung sejenak melihat ke belakang dan mengevaluasi bersiap menghadapi masa depan. "Orang yang tidak belajar dari masa lalu akan cenderung mengulangi kesalahan yang terjadi di masa lalu" (George Santiana, filsuf).

Tahun 2007 dimulai dengan keprihatinan karena tahun' sebelumnya (2006) kita didera oleh dampak kenaikan harga BBM yang sangat besar di kuartal terakhir 2005. Untungnya, selama 2006, inflasi masih terkendali sehingga suku bunga SBI perlahan bisa turun ke 10%. Selama 2007, sejalan dengan menjinaknya inflasi di dalam negeri dan penurunan suku bunga The Fed, suku bunga SBI pun turun secara bertahap sehingga mencapai 8% di akhir 2007.

Penurunan suku bunga dibarengi dengan semakin menggeliatnya perekonomian. Ekonomi Indonesia bertumbuh sekitar 6,3%. Salah satu faktor signifikan pendorong laju pertumbuhan ini adalah pertumbuhan ekspor sekitar 10,5% (dengan realisasi mencapai rekor baru sekitar US$ 112 miliar) dan pertumbuhan investasi sebesar 7,9% dibanding 2006. Sementara itu, cadangan devisa kita telah terakumulasi lebih dari US$ 55 miliar, sehingga rupiah cukup stabil di kisaran antara Rp 9.000-9.500 per dolar AS. Sebagai akibat positif dari perkembangan tersebut, produk domestik bruto (PDB) per kapita Indonesia di tahun 2007 telah menembus ke atas angka US$ 1.800, jauh di atas tingkat PDB per kapita tertinggi sebelum krisis 1997 (sekitar US$ 1.100).

Di bidang perbankan, fungsi intermediasi sudah memperlihatkan tanda perbaikan (tingkat loan to deposit ratio yang telah mendekati 70%). Optimisme juga tercermin di pasar saham. Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup pada level 2.745, atau menguat sekitar 52% dibanding penutupan akhir 2006.

Total nilai transaksi saham selama tahun 2007 telah mencapai lebih dari Rp 1.000 triliun (rata-rata lebih dari Rp 4 triliun per hari). Nilai kapitalisasi pasar mendekati angka US$ 200 miliar, atau sekitar setengah dari nilai PDB 2007. Sejalan dengan itu, dana kelolaan reksadana telah kembali ke atas Rp 90 triliun (meski belum pulih di atas rekor sebelumnya, yaitu di atas Rp 110 triliun pada sebelum krisis reksadana tahun 2005), dengan porsi terbesar dialokasikan di reksadana saham.

Meskipun banyak indikator yang memperlihatkan perbaikan perekonomian, ada juga sinyal 'lampu kuning' yang perlu kita waspadai. Angka pengangguran tetap tinggi meski angka terakhir telah turun sedikit di bawah 10%. Harga minyak dunia sempat mencapai US$ 99/barel, sementara angka lifting minyak bumi tidak mencapai target. Di arena internasional, krisis subprime mortgage di AS masih perlu diwaspadai dampak turunannya.

Peringkat Indonesia dari sisi kemudahan berusaha dan indeks pembangunan manusia masih sangat memprihatinkan (hal ini sangat mungkin berhubungan dengan prestasi Indonesia di SEA Games yang hanya menduduki peringkat ke-4). Masalah infrastruktur transportasi dan distribusi energi masih tersendat. Proyek infrastruktur yang rencananya digelontorkan tahun 2007, masih banyak yang tidak sempat terealisasi. Hal ini masih diperparah dengan bencana alam yang seolah tak putus melanda negeri ini.
Quo Vadis 2008?

Kita tentu berharap, agar momentum perbaikan tersebut tetap berlanjut di tahun 2008. Ada beberapa sinyal positif yang mendukung harapan tersebut. Pertama, impor barang modal selama kuartal terakhir 2007 meningkat. Hal ini pertanda baik bagi kegiatan produksi dalam negeri. Kedua, pembangunan infrastruktur tampaknya akan terus berlanjut. Beberapa tender penting, khususnya untuk ke, lanjutan proyek infrastruktur telah diselesaikan oleh instansi terkait. Selain itu, pemerintah juga meluncurkan insentif untuk mendongkrak lifting minyak.

Momentum profitisasi dan privatisasi BUMN terus berlanjut. Menurut Menneg BUMN, minimal ada 5 BUMN yang telah siap untuk IPO di Bursa Efek Indonesia di tahun 2008, yaitu, Krakatau Steel, BTN, Jasindo, Semen Baturaja, Sucofindo, dll. Sementara itu, lembaga pemeringkat internasional telah mulai berdiskusi dengan BI dan pemerintah dengan kemungkinan menaikkan peringkat risiko negara Indonesia menjadi semakin mendekati investment grade.

Dengan momentum perbaikan perekonomian itu, pertumbuhan PDB diperkirakan akan mencapai di atas 6,5%, sehingga angka pengangguran akan menurun mendekati 9%. PDB per kapita akan menembus US$ 2000, sehingga melewati angka psikologis menuju negara berpenghasilan menengah.

Dengan masuknya beberapa BUMN berkinerja baik ke BEI di tahun 2008, IHSG diperkirakan masih akan melanjutkan pergerakan naiknya, meskipun dengan persentase kenaikan {return) yang sulit untuk menyamai rekor tahun 2007. Return IHSG akan kembali ke angka normal rata-rata return jangka panjang, yaitu sekitar 1520% per tahun. Dengan demikian, level IHSG diperkirakan menembus angka 3.000 dan mencapai 3.250.

Tahun 2008 akan diwarnai dengan instrumen baru yang diperkenalkan di Bursa Efek Indonesia, misalnya Exchange. TradedFundsiETFs), Beal Estate Investment Trusts (REITs), Asset-Backed Securities (ABS atau Efek Beragun Aset/EBA), dll. Oleh karena itu, diperkirakan total nilai perdagangan harian di BEI akan melonjak ke atas Rp 5 triliun. Meski ada banyak indikator positif, kita tetap perlu waspada. Dampak kekacauan di Pakistan masih merupakan bola liar yang belum jelas arahnya. Dampak krisis subprime mortgage di AS pun masih mungkin membuahkan kejutan-kejutan baru. Bencana alam di dalam negeri juga tetap perlu diwaspadai dampak buruknya. Perkembangan harga minyak dunia juga merupakan variabel yang tak boleh diabaikan.

2008: Bull atau Bead Berdasarkarkan uraian singkat di atas, jadi kesimpulannya Bull (banteng) atau Bear (beruang)? Bullish adalah istilah barat untuk optimis, sementara bearish untuk pesimis. Mungkin untuk kasus Indonesia, yang merupakan bagian dari 'timur', binatangnya bukan sekadar bull atau bear dari barat. Masih ada dragon (naga) dan elephant (gajah) serta cobra (ular kobra) yang akan sangat memengaruhi perekonomian Indonesia. Di level regional, Olimpiade di Tiongkok (naga) dan kebangkitan ekonomi India (negara gajah dan ular) akan berimbas positif bagi perekonomian Indonesia. Di level domestik, persiapan Pemilu 2009 (ada juga hubungannnya dengan banyak "banteng' dan bintang'), diharapkan justru akan membawa dampak positif 'election year effect', yaitu pemerintah biasanya akan berusaha mengelola ekonomi sebaik mungkin menjelang pemilu. Tentu ini dengan catatan (dan harapan kita semua agar) keamanan tetap terkendali.

Apa pun ramalan di atas "kertas, realisasinya akan tergantung kerja keras, kerja cerdas, dan kerja tuntas dari kita semua. Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu bangsa apabila bangsa tersebut tidak berusaha mengubah nasibnya. Selamat tinggal tahun 2007, selamat datang tahun 2008 yang penuh dengan kesempatan di tengah kewaspadaan.

Sumber : Investor Daily Indonesia,

 Dilihat : 3031 kali