31 Dessember 2007
Depperin: Industri Hilir Baja Tidak Akan Bangkrut

JAKARTA-Keputusan Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) terhadap sedikitnya 19 perusahaan eksportir baja canai panas (hot rolled Coil/HRC) dinilai tidak akan memperburuk kinerja industri hilir domestik yang menggunakan bahan baku dari mereka. Pasalnya, masih banyak produsen baja yang bisa memasok HRC untuk kebutuhan dalam negeri.

Industri hilir (yang berbahan baku HRC) tidak akan bangkrut karena pengenaan BMAD itu," kata Direktur Industri Logam Departemen Perindustrian (Depperin) I Putu Suryawirawan di Jakarta, akhir pekan lalu.

Dia mengatakan, industri baja domestik dapat mencari pasokan HRC dari sumber-sumber lain di luar produsen yang dikenai bea masuk antidumping (BMAD) itu. "Tidak perlu berlebihan menyikapi keputusan BMAD ini. Masih ada ratusan produsen baja dunia yang mampu memasok HRC secara fair" paparnya.Baja canai panas banyak digunakan industri hilir seperti sektor baja lapis seng (BjLS), pipa, dan baja konstruksi. Selama ini industri HRC lokal belum dapat memenuhi kebutuhan bahan baku industri pengolahan logam dan besi. Sedangkan harga impor HRC dari Australia dan Eropa sangat tinggi.

Sementara itu, Ketua KADI Kalida Mujani menjelaskan, pengenaan BMAD terhadap sedikitnya 19 perusahaan baja asal India, Tiongkok, Thailand, Taiwan, dan Rusia itu tidak ditujukan untuk menghambat impor HRC. "Mereka yang melakukan unfair trade atau dumping hanya dikenai bea masuk tambahan sehingga harga produk mereka sama dengan harga pasar," tuturnya.Dia menerangkan, praktik dumping yang dilakukan perusahaan dari lima negara tersebut tidak hanya merugikan produsen di dalam negeri, namun juga merusak pasar domestik. "Ini terlihat dari penurunan impor dari negara lain, seperti Jepang dan Korea. Pada 2005, impor HRC dari Jepang sebanyak 190 ribu ton, 2006 turun menjadi 151 ribu ton," jelasnya.
Essar Gugat Secara terpisah, PT Essar Indonesia, PMA pengolahan baja canai dingin (cold rolled coil/CRC) terbesar di Indonesia, menyatakan akan menggugat KADI.

General Manager Marketing Essar Shireesh Sharma mengatakan, keputusan KADI itu bakal memukul seluruh sektor hilir baja nasional. "Bahkan industri hilir baja bisa mati karena harga HRC menjadi tambah mahal," kata Shireesh.Menurut dia, jika Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengesahkan keputusan KADI tersebut dengan melanjutkan rekomendasi kepada Menteri Keuangan, tekad Essar untuk hengkang dari Indonesia semakin bulat. Saat ini Essar tengah mengkaji beberapa negara alternatif tujuan relokasi pabriknya, antara lain Vietnam, Malaysia, Thailand, dan Tiongkok. "Tapi sebelum itu, kami memutuskan akan mengajukan gugatan ke badan penyelesaian sengketa WTO (organisasi perdagangan dunia)," ucapnya.

Sumber :  Investor Daily Indonesia, Page : 18 

 Dilihat : 4804 kali