31 Dessember 2007
KADI: Keputusan BMAD baja sudah final

KS minta Permenkeu BMAD baja segera diterbitkan . JAKARTA: Penetapan sanksi bea masuk antidumping (BMAD) terhadap impor baja HRC (hot rolled cotk/baja canai panas) dari China, Taiwan, Thailand, Rusia dan India merupakan sebuah keputusan final yang tidak bisa diubah.

Untuk itu, manajemen PT Krakatau Steel mendesak Menkeu segera menerbitkan peraturan yang berisi penetapan BMAD sehingga tarif tersebut dapat segera berlaku efektif.

Dalam putusan yang dikeluarkan pada 19 Desember, KADI menetapkan BMAD kepada 12 eksportir/produsen dari lima negara secara bervariasi dengan tarif besaran 4,24% sedangkan yang tertinggi 56,51%. (lihat tabel)

Eksportir asal China Wuhan Iron & Steel (Group) Co yang pada awalnya sempat dikenakan BMAD 1,45% akhirnya dibebaskan dari sanksi karena tidak ditemukan cukup bukti dumping.

Selain itu, China Steel Corporation (perusahaan baja asal Taiwan) yang sejak awal hingga berakhir masa investigasi tidak ditemukan bukti dumping, dibebaskan dari segala tuduhan dan sanksi.

Ketua Komite Antidumping Indonesia (KADI) Halida Miljani mengatakan keputusan final pengenaan sanksi itu telah didasarkan pada prosedur yang benar dengan mempertimbangkan berbagai data dan fakta dan kuesioner yang dikirimkan kepada para eksportir/produsen.

Tidak ada revisi mengenai keputusan ini. Kalau ternyata ada gugatan atas keputusan ini, silakan dilayangkan ke Dispute Settlement Body di WTO. KADI siap dan berani menghadapinya karena kami sudah melaksanakan tugasnya pada jalur yang benar," kata Halida kepada Bisnis, kemarin.
.
Ancaman hengkang Menanggapi ancaman akan hengkangnya PT Essar Indonesia produsen baja hilir yang banyak mengimpor HRC dari India Halida mengatakan, "Persoalan ini harus diletakkan pada sudut pandang yang berbeda."Sebelumnya, Essar Indonesia mengancam akan hengkang dari Indonesia jika KADI berkukuh menetapkan sanksi BMAD kepada eksportir asal India, khususnya Essar Steel Ltd.

Ancaman itu dikeluarkan Essar Indonesia karena pengenaan sanksi BMAD dikhawatirkan akan mengganggu pasokan impor HRC dari India, sehingga akan menghambat produksi CRC.Menurut Halida dalam investigasi terbukti Essar Steel menjual HRC di pasar domestik dengan harga dumping melalui PT Essar Indonesia. "Pemerintah telah melihat kasus ini secara jernih.

Harus dipisahkan mana untuk kepentingan internal perusahaan, mana yang merupakan unfair trade. Yang jelas, Essar terbukti melakukan dumping."
Secara terpisah, Direktur Industri Logam Departemen Perindustrian I Putu Suryawirawan mengatakan keputusan KADI tersebut tidak akan menyebabkan kebangkrutan industri baja hilir yang mengonsumsi HRC seperti produsen seng baja (baja lapis seng/ BjLS), pipa, dan sektor baja konstruksi.

Sebab, di luar lima negara produsen HRC tersebut masih terdapat sekitar ratusan negara pemasok produk yang sama di pasar dunia. "Tidak perlu berlebihan menyikapi keputusan penetapan BMAD ini. Masih ada ratusan produsen baja di dunia yang bisa memasok HRC ke dalam negeri secara fair trade," kata Putu.

Sementara itu, Irvan Kamal H, Direktur Pemasaran PT Krakatau Steel produsen HRC sekaligus petisioner dumping bersama PT Gunung Raja Paksi berharap Menteri Keuangan segera menerbitkan peraturan berisi penetapan BMAD sehingga tarif tersebut dapat berlaku efektif.

Menurut dia, importir HRC di Indonesia yang selama ini mendatangkan produk dari lima negara tertuduh dumping dapat mengalihkan sumber impornya dari negara lain.

"Ada sekitar 123 negara pemasok HRC di dunia, jadi pengenaan BMAD ini tidak akan membuat importasi HRC terhenti," tegas Irvan. Berdasarkan data KADI, PT Essar Indonesia merupakan salah satu pabrik baja yang mendatangkan HRC dari negara yang tertuduh dumping, di samping sembilan pabrikan lainnya, yakni PT Hamasa Steel Centre, PT Indonesia Steel Tube Works, PT KHI Pipe Industrial, PT Marubeni Steel, PT Panata Jaya Mandiri, PT Pelangi Indah Canindo Tbk, PT South East Asia Pipe Industries, PT Super Steel Cikarang, dan PT Tri Dharma Wisesa.
Menanggapi penetapan BMAD Essar Steel, Technical Advisor PT Essar Indonesia Djoko Subagjo tidak merespons pesan singkat Bisnis.

Sumber : Bisnis Indonesia,

 Dilihat : 3090 kali