31 Dessember 2007
17 Eksportir Baja Terbukti Dumping

JAKARTA Hasil penyelidikan Komite Anti-Dumping Indonesia (KADI) membuktikan sebanyak 17 eksportir baja canai panas ' atau hot rolled coil dari lima negara terbukti melakukan praktek dumping. Karena itu, mereka dikenai bea masuk antidumping (BMAD) bervariasi dari 4,24 hingga 56,51 persen.

Adapun perusahaan baja asal Cina dan Taiwan, masing-masing Wuhon Iron & Steel (Group) Co. dan China Steel Corporation, lolos dari pengenaan tarif tambahan tersebut karena terbukti tidak melakukan praktek dumping. Demikian sebagian rekomendasi KADI yang akan segera disampaikan kepada Menteri Perdagangan Mari E. Pangestu.

"Dari penyelidikan antidumping terhadap impor baja canai panas dari Cina, India, Rusia, Taiwan, dan Thailand, KADI menyimpulkan telah terbukti adanya dumping yang mengakibatkan kerugian bagi industri dalam negeri," ujar Ketua KADI Halida Miljani akhir pekan lalu di Jakarta.
Penyelidikan yang dilakukan Komite sejak 28 Juni 2006 ini, menurut dia, berawal dari keluhan PT Krakatau Steel.

Sesuai dengan perjanjian Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) yang menetapkan batas waktu penanganan kasus dumping adalah 18 bulan sejak petisi dumping dikeluarkan, maka 27 Desember 2007 merupakan batas waktu tersebut."Sebetulnya penyelidikan sudah selesai pada 19 Desember lalu. Hasilnya pun sudah diberitahukan kepada tertuduh dan pelapor pada 24 Desember lalu," tutur Halida.

Penyelidikan kerugian industri ini, dia melanjutkan, didasarkan atas data selama tiga tahun terhitung mulai 2003 hingga 2005. Adapun penyelidikan dumping dan hubungan kausal didasarkan data 2005.

Kendati selama periode penyelidikan penjualan dalam negeri terus naik, KADI menilai telah terjadi kerugian (injury). Meskipun ada peningkatan penjualan, keuntungan di bawah harapan.

"Industri dalam negeri tidak mampu menutup secara keseluruhan biaya produksi karena dampak harga impor barang dumping yang mengakibatkan price suppression," papar Halida.
RR ADIYAN

Sumber : Koran Tempo

 Dilihat : 3174 kali