29 Dessember 2007
Tiga Negara Dikenai BMAD Baja

JAKARTA (SINDO) - Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) merekomendasi penge naan bea masuk antidumping (BMAD) bagi tiga negara eksportir baja canai panas.

BMAD yang akan dikenakan bisa mencapai 56,5%. "Kita sudah berikan rekomendasi ke Mendag tentang adanya temuan dumping. Eksportir hot rolled coil dari Rusia, India, dan Thailand akan dikenakan BMAD dengan jumlah yang bervariasi," jelas Ketua KADI Departemen Perdagangan (Depdag) Halida Miljani di Jakarta kemarin.Halida mengatakan, dari hasil penyelidikan KADI, memang ditemukan kerugian yang dialami industri baja dalam negeri akibat praktik dumping eksportir baja canai panas dari tiga negara tersebut. Hasil temuan tersebut, lanjut Halida, sudah disampaikan pula ke eksportir dari ketiga negara tersebut. Dua eksportir dari' negara China dan Taiwan, imbuh dia, tidak dikenakan BMAD karena dari hasil penyelidikan ditemukan margin dumping hanya 0-2%.

Penyelidikan KADI dimulai pertengahan Juni 2006 atas permohonan PT Krakatau Steel yang mewakili industri baja dalam negeri. Produsen dan eksportir yang dituduh melakukan dumping berasal dari lima negara, yaitu China dengan 3 eksportir, India 4 eksportir, Rusia 3 eksportir, Taiwan 2 eksportir, serta Thailand dengan 3 eksportir.Hasil temuan KADI menyebutkan, 4 eksportir baja canai panas dari Rusia memperoleh margin dumping antara 12,749,4%, 4 eksportir India memperoleh margin dumping antara 23,8-56,5%, dan 3 eksportir asal Thailand memperoleh margin dari praktik dumping yang mereka lakukan sebesar 11,6-49,6%. "Kita kenakan BMAD tinggi bagi eksportir yang tidak kooperatif. Kita sudah rekomendasikan ke Mendag untuk diteruskan ke Menteri Keuangan agar segera mengenakan BMAD ini," tambahnya.

Sebelumnya, rencana pengenaan BMAD terhadap eksportir baja canai panas tersebut menimbulkan kekhawatiran industri baja hilir yang menjadi pengimpor produk tersebut. Hal itu dikhawatirkan mendongkrak harga bahan baku baja canai panas dan kelangkaan pasokan di pasar. Namun, kekhawatiran itu ditepis Krakatau Steel yang menyatakan bahwa masih banyak negara eksportir lainnya yang akan menggantikan pasokan yang hilang, jika negara-negara yang dikenai BMAD menyetop pasokannya ke Indonesia.

Mendag Mari Elka Pangestu yang dikonfirmasi mengenai hal ini mengaku masih melakukan evaluasi terkait rekomendasi yang diberikan tim KADI. "Masih kita evaluasi, kita belum menyampaikan ke Menteri Keuangan," cetusnya.
(setiawan ananto)

Sumber : Harian Seputar Indonesia, Page : 19 

 Dilihat : 2615 kali