28 Dessember 2007
Manufaktur Butuh Investasi Rp 147 Triliun

DJAKARTA-Industri manufaktur nasional membutuhkan investasi tambahan Rp 147,2 triliun untuk mendongkrak laju' pertumbuhan 7,43% pada 2008. Terlebih lagi, sektor ini hanya bertumbuh 6,3% tahun ini, di bawah target pemerintah 7,9%.

Rendahnya pertumbuhan sektor manufaktur menyebabkan peranan industri terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional terkikis dari 28% tahun lalu menjadi hanya 25,25% pada tahun ini.

"Investasi saat ini belum sebesar periode sebelum krisis moneter 19971998 sehingga pertumbuhan industri manufaktur nasional tidak pesat. Kondisi ini akan dibenahi," ujar Agus Tjahajana Wirakusumah, sekjen Departemen Perin, dustrian, ketika mempresentasikan Laporan Pengembangan Sektor Industri 2007 di Jakarta, Kamis (27/12).

Sebelumnya, Kadin Indonesia menyatakan tidak puas terhadap upaya pemerintah dalam membenahi kondisi sektor riil, termasuk manufaktur. Kestabilan ekonomi makro dan prestasi gemilang di sektor finansial ternyata belum mampu diimbangi dengan pergerakan positif sektor riil.

"Jika peranan industri manufaktur nasional masih di bawah 30% dari PDB, bahkan turun, itu berarti ada tanda-tanda kita mengalami 'deindustrialisasi' dini," kata MS Hidayat, ketua umum Kadin Indonesia.

Kadin merasakan sektor manufaktur nasional yang merepresentasikan sektor riil secara umum justru 'loyo' pada triwulan ketiga tahun ini akibat tertekan lonjakan harga energi (bahan bakar minyak dan listrik).

Kadin pun mengkhawatirkan kemerosotan pertumbuhan industri manufaktur yang terjadi hampir merata itu. Menurut Agus Tjahajana, investasi merupakan salah satu pendorong utama laju pertumbuhan industri manufaktur nasional.

Jika investasi masih minim, laju pertumbuhan sektor manufaktur nasional yang rendah akan berlanjut. Dia menjelaskan, proyeksi pertumbuhan dan kebutuhan investasi manufaktur nasional itu diperoleh dari hasil koordinasi dengan asosiasi industri ter kait di bawah naungan Kadin Indonesia.

Karena itu, Depperin berani menurunkan target pertumbuhan in: dustri pada 2008, yang semula ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) sebesar 8,56% menjadi 7,43%.

"Depperin menilai target 7,4% lebih realistis untuk dicapai tahun depan. Jika kami sembarang menetapkan target, tentu mudah ditertawai orang. Dan orang yang pertama menertawai kami adalah Kadin.

Padahal, kami sudah meminta masukan asosiasi di bawah Kadin," ucap dia.Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Depperin Dedi Mulyadi menambahkan, tambahan investasi Rp147,2 triliun diperlukan untuk menjamin penyerapan tenaga kerja baru hingga dua juta orang mulai 2008.

Tambahan investasi itu juga untuk mendukung pencapaian target pertumbuhan ekspor 15% dan meningkatkan peranan industri manufaktur hingga 30% dari PDB nasional.

Agus Tjahajana mengakui, perkembangan investasi manufaktur pada 2007 belum mampu mendongkrak pertumbuhan industri secara pesat. Pada periode Januari-Agustus 2007, penanaman modal asing (PMA) yang masuk ke sektor manufaktur domestik hanya US$ 3,62 miliar dari 316 proyek.

Jumlah itu melampaui nilai PMA di sektor manufaktur pada 2006 sebesar US$ 3,60 miliar. Sementara itu, penanaman modal dalam negeri (PMDN) pada periode delapan bulan 2007 meningkat 88,9% dibandingkan sepanjang 2006, dari Rp 13,1 triliun menjadi Rp 24,8 triliun.

"Namun, angka investasi itu tidak otomatis memengaruhi pertumbuhan industri pada tahun yang sama. Ada time lack sekitar enam bulan sampai dua tahun, tergantung jenis industrinya," ujar Agus.

Enam Cabang Industri Agus menjelaskan, penambahan investasi manufaktur sebagian besar akan terserap di sejumlah subsektor industri yang diproyeksikan tumbuh pesat pada"'2008; Setidaknya terdapat enam cabang industri yang diprediksi tumbuh pesat tahun depan.

Pertama, industri alat angkut mesin dan peralatan (9,6%). Kedua, industri kerta^ dan barang cetakan (8%). Ketiga industri makanan minuman dan tembakau (8%). Keenrpat, industri semen dan bahan galian nonlogam (7%). Kelima, industri pu. puk kimia dan barang dari karet (6,5%). Keenam, industri logam dasa,r besi dan baja (5,5%).

"Keenam subsektor industri itu akan mendrive pertumbuhan manufaktur nasional pada tahun depan," kata Agus. Pemerintah masih akan meneruskan sejumlah program khusus guna mendukung laju pertumbuhan enam subsektor manufaktur itu maupun cabang lain yang terhambat masalah akut.

"Program khusus' itu antara lain pengembangan industri baja di Kalimantan Selatan, penyempurnaan car port Ai Tanjung Priok, melanjutkan restrukturisasi permesinan industri tekstil nasiqnal, dan revitalisasi pabrik gula," kata Agus.

Program-program khusus itu, jelas dia, ikut mendorong pencapaian kinerja ekspor sektor manufaktur melampaui target.2006, dari US$57,59 miliar menjadi US$67,65 miliar atau tumbuh 17,47%.

"Pemerintah optimistis kinerja ekspor di akhir 2007 akan melampaui tahun lalu atau di atas US$100 miliar," paparnya.Depperin juga berencana mengusulkan penambahan" subsektor industri manufaktur yang akan diberikan insentif dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 1/2007.

Tahun depan, Depperin mengusulkan industri pengolahan susu akan mendapat insentif. "Insentif itu antara lain memberikan keringanan pajak penghasilan (PPh) 30% darinilai investasi," jelas Benny Wahjudi, dirjen 'Industri Agro dan Kimia Depperin.

Dirjen Industri Alat Transportasi dan Telematika Depperin Budi Dharmadi mengusulkan industri elektronik yang mengembangkan produk digital layak mendapat insentif.

"Perubahan tren produk elektronik ke arah digital harus kita antisipasi agar Indonesia menjadi basis produksi. Jika tidak, kita akan makin tertinggal,"' ucap dia MS Hidayat mengingatkan, kualitas pertumbuhan sektoral yang kurang optimal mengakibatkan sektor industri sulit diharapkan berkontribusi terhadap penurunan angka pengangguran dan kemiskinan.

Padahal, PO" tensi yang ada, peranan sektor manufaktur nasional masih bisa dipacu hingga berkontribusi 35% dari PDB. Dedi Mulyadi mengakui indikasi ke arah deindustrialisasi dini memang ada, namun 'Indonesia tidak mengalami kondisi tersebut.

"Meski Indonesia mengalami krisis berat, belum terjadi penurunan peranan industri manufaktur terhadap PDB secara signifikan. Artinya, Indonesia belum dikatakan mengalami deindustrialisasi," ucapnya.

Sumber :  Investor Daily Indonesia, Page : 1 

 

 Dilihat : 3717 kali