28 Dessember 2007
KADI Putuskan BMAD Baja 49% Oleh Nur Afni Fiazia

JAKARTA-Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) memutuskan untuk mengenakan bea masuk antidumping (BMAD) terhadap impor produk baja canai panas (hot rolled co/7/HRC) sebesar 49,61%.

Pengenaan BMAD tersebut ditujukan pada lima negara importir yaitu Tiongkok, India, Taiwan, Rusia, dan Thailand.
"Kami sudah menyelesaikan investigasi dumping HRC dan keputusannya hanya dua produsen yang tidak terbukti melakukan dumping dari li
ma negara yang dituduh dumping," kata Ketua KADI Halida Miljani di Jakarta, Kamis (27/12).Halida menjelaskan, produsen yang tidak dikenakan BMAD tersebut berasal dari Tiongkok dan Taiwan. "Keduanya tidak dikenakan BMAD karena dari hasil temuan KADI margin dumpingnya memang 0%," kata dia.

Dalam laporan hasil penyelidikan antidumping atas impor HRC dari lima negara tersebut, salah satu perusahaan yang memiliki nilai margin dumping sebesar 0% adalah China Steel Corporation, produsen HRC dari Taiwan.
Menurut Halida, keputusan yang diambil KADI pada 19 Desember 2007 tersebut sudah disampaikan kepada pihak yang dikenakan BMAD. "KADI juga telah menyampaikan rekomendasinya kepada menteri perdagangan (Mendag) untuk mengenakan BMAD tersebut," ujar dia.
Ia mengatakan, besaran BMAD yang dikenakan terhadap 15 produsen HRC tersebut bervariasi mulai dari 2%-49,61%. "BMAD tertinggi dikenakan kepada produsen asal India yakni sebesar 49,61%. Itu karena mereka tidak kooperatif selama masa penyelidikan," tuturnya.

Keputusan KADI tersebut, kata dia, telah sesuai dengan prosedur penyelidikan dan merupakan keputusan final. "Akhirnya kami mengenakan BMAD karena mereka memang melakukan dumping, ada kerugian yang dialami oleh industri serupa di dalam negeri, dan ada hubungan antara praktik dumping tersebut dengan kerugian yang, diderita," jelas dia.
Tunggu Menkeu Sementara itu, Mendag Mari Elka Pangestu mengakui telah menerima rekomendaisi penerapan BMAD itu dari KADI. "Kami akan menganalisis lebih lanjut hasil temuan KADI sebelum disampaikan kepada menteri keuangan (Menkeu)," katanya.
BMAD untuk produk HRC tersebut resmi diberlakukan jika disetujui oleh Menkeu.KADI mengumumkan dimulainya inisiasi antidumping terhadap HRC yang diimpor dari Tiongkok, India, Rusia, Thailand, dan Taiwan pada 28 Juni 2006. Penyelidikan tersebut dilakukan berdasar
kan permohonan PT Krakatau Steel (KS) yang memproduksi sekitar 96% dari produk sejenis di dalam negeri.

Produsen atau eksportir yang dituduh dumping berjumlah 15 perusahaan yakni tiga perusahaan dari Tiongkok (Anggang Steel Company Ltd, Wuhan Iron & Steel Co, dan Baostian Iron & Steel Co Ltd), empat perusahaan India (Essar Steel Ltd, JSW Steel Ltd, Ispat Industries Ltd, dan Steel Authority of India Ltd), tiga perusahaan Rusia (Mag, nitogorsk Iron & Steel Works, Novolipetsk Steel, dan JSC Severtal), dua perusahaan Taiwan (Chung Hung Steel Company Ltd dan China Steel Corporation), serta tiga perusahaan Thailand (Nakonr thai Strip Mill Public Company Ltd, Sahaviriya Steel Industries Public Company Ltd, dan G Steel Limited).
Sedangkan importir yang dituduh dumping yakni PT Hamasa Steel Centre, PT Pranata Jaya, PT Essar Indonesia, PT Indonesia Steel ' Tube Works, PT Marubeni Steel, PT KHI Pipe Industrial, PT Super Steel Cikarang, PT South East Asia Pipe Industries, PT Tri Dharma Wisesa, dan PT Pelangi Indah CanindoTbk.

Bukti yang ditemukan KADI dalam penyelidikan tersebut berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), harga produk dari lima neg&ra tersebut lebih rendah dibandingkan produk impor dari negara lain. Peningkatan impor produk dumping yang signifikan terjadi pada 2004.
Impor barang dumping telah menurunkan pangsa pasar industri dalam negeri pada periode penyelidikan (2004-2005) dan kontribusi pendapatan penjualan domestik barang sejenis terhadap pertumbuhan perusahaan turun sekitar 11%. (cep)

Sumber :  Investor Daily Indonesia, Page : 22 

 Dilihat : 2528 kali