27 Dessember 2007
Geliat Anak Perusahaan BUMN

Menuju Bursa Tahun 2008 sejumlah perusahaan BUMN akan diprivatisasi termasuk beberapa anak perusahaan BUMN yang dinilai telah siap (PT KHI Pipe, Elnusa, Indonesia Power, dan anak usaha PT Garuda Indonesia).

Mendorong peningkatan kinerja dan menguatkan likuiditas di pasar modal adalah alasan utama BUMN masuk bursa. Selain ada 16 BUMN yang akan diajukan untuk diprivatisasi, sejumlah anak perusahaan BUMN juga sudah diagendakan untuk di privatisasi tahun 2007. Bahkan tak sedikit anak perusahaan BUMN yang berkinerja bagus sudah bersiap-siap untuk menembus pasar modal meskipun induknya justru belum siap. "Garuda Maintenance Facility (GMF) cukup bagus untuk masuk ke pasar modal, tetapi justru induk perusahaannya, Garuda Indonesia perlu restrukturisasi,"jelas Menneg BUMN Sofyan Djalil.

Selain GMF, ada berapa anak perusahaan BUMN yang berkinerja bagus, sehingga layak masuk bursa. Seperti PT KHI Pipe (Anak PT KS), PT Elnusa (Anak PT Pertamina), PT Indonesia Power (anak PT PLN).

Anak BUMN PT Krakatau Steel, PT KHI Pipe Industrie (KHI) berencana akan melepas sebagian saham nya ke publik melalui penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) tahun 2008. "IPO KHI Pipe akan dilaksanakan paling lambat semester pertama 2008," kata Fazwar Bujang, Direktur Utama Krakatau Steel, seusai acara pelantikan dirinya di Jakarta, November 2007 lalu.

KHI didirikan tahun 1972 dan memulai produknya secara komersial pada Januari 1973. Kepemilikan saham KHI oleh PT KS 98,48% dan 1,52% dimiliki oleh PT Indhasana.

Saat ini KHI memiliki kapasitas produksi pipa lasan spiral sebesar 150.000 ton per tahun, yang terdiri dari kapasitas produksi pipa lasan Sprial sebesar 80.000 ton per tahun dan kapasitas pipa lasan lurus ERW (Electric Resistance Welded) sebesar 70.000 ton per tahun.

Pada Maret 2007, KHI telah menandatangani kontrak ekspor pipa baja ke Malaysia sebanyak 5.500 ton senilai USD 4,3 juta. Penandatanganan kontrak tersebut dilakukan dengan Shin Yang Group of Companies yang merupakan salah satu perusahaan besar Malaysia. Sebelumnya KHI juga pernah melakukan ekspor pipa ke beberapa negara lainnya, seperti Singapura, Vietnam, Australia, dan Belanda.

Presiden Direktur KHI Setiawan Surakusumah mengatakan, pihaknya senantiasa meningkatkan kapasitas dan kapabilitas perusahaan sehingga menjadi integrated pipe mill.

Indonesia Power Sejak berdirinya, perusahaan yang bergerak dalam industri pembangkit, PT Indonesia Power (IP) menunjukan perannya sebagai perusahaan industri pembangkit terbesar di Indonesia.

Dengan 130 pembangkit berkapasitas total 8.872 MW, IP mampu memberikan kontribusi yang besar bagi ketersediaan pasokan listrik pada system interkoneksi Jawa Bali.

Dalam aktivitas operasionalnya, IP didukung delapan unit bisnis pembangkitan, yang terdiri dari Suralaya, Tanjung Priok, Kamojang, Saguling, Semarang, Mrica, Perak Grati, Bali, serta satu unit Jasa pemeliharaan.

Sejak berdiri tahun 1995, IP terus mengembangkan sayap, termasuk melahirkan dua anak perusahaan, PT Cogindo Daya Bersama dan PT Artha Daya Coalindo.

Terkait dengan Penawaran Saham Perdana, Direktur Utama Indonesia Power Abimanyu Suyoso, mengatakan, saat ini perseroan berkonsentrasi pada pelaksanaan program percepatan pembangunan pembangkit listrik 10 ribu MW terlebih dulu. "IPO bisa tahun depan. Bisa setelah proyek 10 ribu MW selesai," kata Abimanyu Oktober lalu.

Menurutnya, penawaran saham perdana bertujuan agar Indonesia Power mempunyai kemampuan investasi, kemampuan pendanaan melakukan investasi baru. Namun, tiga tahun mendatang Indonesia Power akan memperoleh sejumlah pembangkit listrik 10 ribu MW," ujarnya.

ELNUSA Group Nama besar PTPertamina tidak terlepas dari kontribusi anak perusahaan Elnusa Group. Karena kinerjanya terus mengkilap itu, Elnusa Holding akan mencatatkan 1,460 miliar lembar saham atau setara dengan 20% di lantai bursa pada 4 Februari 2008. Anak usaha Pertamina ini akan menawarkan saham dengan nominal Rp 100.

Menurut prospektus yang dipublikasikan Jumat (30/11/2007), pernyataan efektif untuk IPO diharapkan bisa diperoleh pada 22 Januari 2008. Masa penawaran selanjutnya akan dilaksanakan pada 25-29 Januari 2008. Bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek adalah Mandiri Sekuritas.

Rencananya, dana hasil IPO itu akan digunakan untuk membiayai pembelian barang modal yang mendukung bisnis utama (40%), pengembangan dan perluasan aktivitas anak usaha dan perusahaan asosiasi (15%), membayar utang (20%) dan modal kerja (25%).

Elnusa adalah perusahaan jasa migas terintegrasi dan jasa penunjang migas. Saat ini komposisi kepemilikan saham Elnusa adalah Pertamina (51,38%), PT Tridaya Esta (46,44%), PT Danareksa Daiwa NIF Ventures (1,46%), PT Danareksa (persero) (0,49%), Karyawan Elnusa (0,15%), Yayawan Tabungan Hari Tua karyawan Elnusa (0,07%) dan Koperasi Karyawan Elnusa (0,01%).

Dan setelah IPO, maka komposisi kepemilikan saham adalah Pertamina (41,10%), PT Tridaya Esta (37,15%), PT Danareksa Daiwa NIF Ventures (1,17%), PT Danareksa (persero) (0,39%), Karyawan Elnusa (0,12%), Yayawan Tabungan Hari Tua karyawan Elnusa (0,05%) dan Koperasi Karyawan Elnusa (0,01%), dan masyarakat (20%). Per 31 Juli 2007, Elnusa mencatat laba bersih sebesar Rp 50,052 miliar,
dengan pendapatan usaha Rp 1,150 triliun. Elnusa saat ini memiliki total kewajiban sebesar Rp 1,064 triliun.

Sebelum IPO dilakukan, perseroan terlebih dahulu melakukan penggabungan beberapa anak usaha yang bergerak di jasa hulu migas. Setelah penggabungan nantinya, Elnusa akan membuat Elnusa lebih fokus ke bisnis jasa hulu minyak dan gas serta menjadikan perusahaan mampu memberikan jasa pelayanan hulu migas secara terintegrasi, mulai dari survei seismik, pengeboran, produksi, dan jasa pendukung," kata Dirut Elnusa Eteng A Salam, awal September 2007 lalu.

Menurut dia, penggabungan tersebut akan menjadikan ekuitas perseroan meningkat menjadi Rp 1 triliun, sehingga memberikan peluang mendapatkan akses keuangan yang lebih besar.

Pendapatan usaha Elnusa tahun 2006 tumbuh 45 persen dari Rp 1,29 triliun tahun 2005 menjadi Rp 1,87 triliun. "Kami yakin dengan penggabungan usaha ini dan kecenderungan bisnis hulu migas yang tumbuh seiring tingginya harga minyak dunia, pendapatan perseroan akan tumbuh lebih besar lagi," ujar Eteng.

Elnusa menargetkan dapat meraih dana hingga USS 100 juta dalam IPO sebesar 20 persen. Dana IPO akan dialokasikan untuk melunasi sebagian utang Elnusa dan juga pengembangan bisnis.

Sementara perusahaan penerbangan PT Garuda Indonesia, yang masih terjangkit kerugian, tahun depan dipastikan akan melepaskan satu anaknya ke lantai bursa.

Sekretaris Kementerian Negara BUMN Muhammad Said Didu pernah mengatakan, pemerintah menginginkan kepemilikan mayoritas di Garuda. "IPO bukan satu-satunya alternatif, bisa saja dilakukan penjualan strategis kepada perusahaan penerbangan yang mempunyai kemampuan meningkatkan nilai Garuda. IPO sangat tergantung kepada karakteristik usaha. "Dalam bisnis penerbangan, penjualan saham lebih banyak dilakukan melalui investor strategis," ujarnya.

Untuk PT Garuda, seperti pernah katakan Direktur Utama Garuda, Emirsyah Satar, saat ini perseroan menyiapkan rencana penawaran umum perdana saham anak perusahaannya, yaitu: Garuda Maintenance Facilities Aero Asia (GMF). Garuda juga telah menyiapkan opsi penawaran umum perdana 37,5% saham PT Gapura Angkasa.

Selain Gapura, anak perusahaan lain yang berpotensi dijual ke bursa saham adalah PT Aerowisata (bidang usaha travel, hotel, transportasi darat, dan sewa pesawat), PT Abacus Distribution System yang menyediakan layanan sistem reservasi komputer, dan GMF dengan bisnis fasilitas perawatan pesawat.

Sumber : Kormen Review, Page : 22 

 

 Dilihat : 3680 kali