26 Dessember 2007
TAHUN INI SEKTOR INDUSTRI TIDAK PERNAH BISA BERNAFAS LEGA

Sektor industri memang tidak pernah sempat bernafas lega setiap harinya. Hampir setiap sektor di bidang ini senantiasa menghadapi masalah, mulai dari ketersediaan bahan baku dari dalam negeri, sarana infrastruktur yang harus tersedia, sampai produk tersebut selesai diproduksi dan harus menghadapi persaingan dengan produk sejenis terutama dari impor.

Masih beruntung Indonesia yang kaya dengan sumber daya alam, bisa mengekspor sebagian besar sumber daya alamnya tersebut baik masih dalam bentuk bahan baku, ataupun sudah diolah sebagian besar di dalam negeri. Ekspor sumber daya alam Indonesia berupa CPO, karet, kopi, dan kakao, kelihatannya mulai memberi nilai tambah bagi petani Indonesia.

Kendati demikian, ada juga suara miring yang menyatakan sebagai produsen sumber kekayaan alam yang besar, Bangsa Indonesia belum mampu menikmati nilai tambah yang besar, karena sebagian ekspornya masih belum diolah (mentah) dan juga karena pemerintah tidak memiliki rencana kerja terpadu yang diimplementasikan di lapangan. Pemerintah hanya mampu menyusun peta jalan, tetapi tidak pernah mampu mengimplementasikannya, apalagi rakyat berharap dapat menikmati manfaatnya.

Bila mencoba menoleh ke belakang, kenaikan harga minyak mentah dunia yang sempat mencapai USD100 per barel menambah berat beban sektor industri pada khususnya, dan seluruh masyarakat pada umumnya. Sektor industri di dalam negeri harus beberapa kali menanggung kenaikan harga BBM industri, sehingga kondisi tersebut sudah diantisipasi oleh beberapa pengusaha, seperti mengalihkan kebutuhan solar mereka kepada energi altematif lainnya yang tersedia lebih melimpah, dan harganya lebih kompetitif.

Di lain sisi, kenaikan harga minyak bumi dunia telah mendorong beberapa negara maju guna mengembangkan energi alternatif berbahan baku sumber yang hidup (biofuels), sehingga dampaknya permintaan terhadap minyak nabati dunia meningkat pesat. Akibatnya harga beberapa jenis komoditas minyak dan lemak yang dapat digunakan untuk energi, juga terkerek naik secara tajam. Harga dunia untuk komoditi minyak sawit mentah (CPO), jagung, kedelai, tebu, minyak zaitun, dan sejenisnya yang selama ini digunakan sebagai sumber pangan dan minyak nabati meningkat sangat signifikan sepanjang tahun 2007.

Demikian juga akhirnya beberapa komoditi penting biji-bijian yang menjadi sumber bahan baku industri di dalam negeri mulai dari gandum, beras, daging, susu, jagung, dan kedelai juga mengalami kenaikan harga signifikan, karena dua alasan. Pertama, kenaikan harganya seperti dijelaskan di atas disebabkan terjadinya perebutan antara keperluan sebagai energi alternatif dan kebutuhan sebagai bahan baku industri pangan. Kedua, penyebab lainnya karena kenaikan biaya angkut dan distribusi, sebagai dampak inflasi, serta faktor ketidakpastian yang lazim dialami produk pertanian, sehingga demand yang terjadi melebihi supply yang ada.

Harga komoditi seperti batubara juga naik sangat tinggi 9,3 persen selama bulan Oktober atau sekitar 50 persen per tahun, karena China menahan diri tidak mengekspor batubaranya, karena kebutuhan di dalam negerinya cukup tinggi. Harga gas di Eropa juga meningkat 7,3 persen dan di AS 11,5 persen. Harga timah dunia meningkat 7 persen.

Kondisi tersebut menyebabkan selama periode Januari-Oktober 2007, ekspor dari 10 golongan barang yakni lemak dan minyak nabati; mesin dan peralatan listrik; bahan bakar mineral; karet dan barang dari karet; bijih, kerak, dan abu logam; mesin/mesin/pesawat mekanik; pakaian jadi bukan rajutan; kertas/kertas karton; tembaga; setta bahan kimia organik memberi kontribusi 57,33 persen terhadap total ekspor non migas.

Kontribusi Sektor Industri Pengolahan, Investasi dan Serapan Tenaga Kerja Sampai saat ini, sektor industri pengolahan masih tetap menjadi penyumbang tertinggi pada perekonomian nasional, sebab kontribusinya mencapai 28 persen, lebih tinggi dibanding kontribusi sektor perdagangan, hotel dan restauran yang mencapai 15 persen, serta sektor pertanian yang mencapai 13 persen. Khusus sektor industri pengolahan non migas memberi kontribusi sekitar 23 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional.

Sampai triwulan I tahun ini pertumbuhan industri pengolahan non migas mencapai 5,83 persen. Pertumbuhan ini sudah lebih besar dari pertumbuhan industri pada triwulan IV tahun 2006 yang hanya mencapai 0,01 persen. Pada triwulan I tahun ini, beberapa cabang industri yang nilai tambahnya meningkat cukup tinggi adalah industri kertas dan barang cetakan dengan pertumbuhan 12,47 persen; industri makanan, minuman; dan tembakau 9,84 persen; industri pupuk, kimia, dan barang dari karet bertumbuh 7,05 persen; sedangkan industri barang kayu dan hasil hutan lainnya masih bertumbuh negatif yakni-1,74 persen.

KADIN Indonesia melaporkan, sektor industri pengolahan pada triwulan III tahun 2007 bertumbuh 4,5 persen, dan sektor ini termasuk kontributor pertumbuhan yang cukup tinggi di antara sektor-sektor lainnya. Apabila dilihat dari sumber pertumbuhan, sektor industri dan perdagangan masing-masing menyumbang 1,2 persen kepada pertumbuhan PDB pada tahun ini.

Sub sektor industri non migas sampai triwulan III tahun ini bertumbuh 4,6 persen, pertumbuhan tertinggi terjadi pada industri alat angkut, mesin, dan peralatannya yang mencapai 10,7 persen. Pertumbuhan yang juga relatif tinggi juga terjadi pada industri semen dan barang galian bukan logam 5,2 persen.

Pertumbuhan industri tekstil, barang kulit, dan alas kaki yang terus turun sejak triwulan I tahun 2007, menyebabkan industri ini selama triwulan I tahun 2007 mengalami pertumbuhan negatif, menjadi-2,2 persen. Pertumbuhan negatif juga terjadi pada industri kayu dan hasil hutan lainnya yakni-1,72 persen selama tiga triwulan I tahun 2007. Secara total dalam analisa KADIN, bersumber dari BPS dan Deperin, sampai kuartal II tahun 2007 pertumbuhan industri non migas mencapai 7,3 persen, di mana sejumlah kelompok industri masing-masing tekstil, barang kulit dan alas kaki-10,3 persen; barang kayu dan hasil hutan-10,3 persen; kertas dan barang cetakan-16,3 persen; serta jenis barang lainnya-29,9 persen.

Apabila dilihat dari perkembangan investasi pada tahun 2007, terlihat dari mulai membaiknya iklim investasi pada triwulan III tahun 2007 yang ditunjukkan oleh kenaikan tingkat investasi fisik 8,8 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Meski masih rendah, tetapi sumbangan investasi terhadap pertumbuhan ekonomi memang menggambarkan relatif masih rendahnya minat investasi secara keseluruhan.

Sektor konstruksi memberi kontribusi 74,9 persen dalam investasi. Pada triwulan III tahun 2007, pertumbuhan investasi untuk mesin dan perlengkapan dalam dan luar negeri menunjukkan peningkatan masing-masing 20,9 persen dan 24,2 persen. Dari sisi produksi, kenaikan tertinggi terjadi pada sektor pengangkutan dan komunikasi yang bertumbuh 12,2 persen. Kenaikan tertinggi berikutnya adalah pada sektor listrik, gas, dan air bersih yang mencapai kenaikan 10,3 persen, terutama terjadi selama triwulan II tahun 2007.

Sampai triwulan I tahun 2007, realisasi PMDN sektor industri mencapai Rp9,6 triliun, sementara realisasi PMA sektor industri mencapai USD2,27 miliar. Dari 100 projek PMA, tiga terbesarnya yaitu industri tekstil tercatat 20 perusahaan; industri makanan 20 perusahaan; serta industri logam, mesin, dan elektronika 16 perusahaan. Survei tenaga kerja BPS tahun 2007 selama bulan Agustus 2006 s/d Februari 2007 tercatat tambahan tenaga kerja 200 ribu orang, dan diperkirakan akan ada tambahan serapan tenaga kerja di sektor industri sekitar 400 ribu orang tahun ini.

Beberapa program Deperin yang telah terealisasi tahun ini di antaranya restrukturisasi TPT yang baru disetujui pada bulan Mei 2007 oleh Departemen Keuangan Rp255 miliar atau 71,42 persen dari alokasi anggaran yang diajukan Dirjen Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka (ILMTA) Deperin; kegiatan pembangunan pabrik biodiesel beserta peralatannya Rp69 miliar atau 36,5 persen dari alokasi anggaran Ditjen Industri Agro dan Kimia Deperin; pengembangan kawasan industri khusus masing-masing kawasan Industri rotan terpadu di Palu, dan fasilitas pengembangan kawasan usaha agro terpadu di Lampung Barat.

Tahun Ini Deperin juga telah memulai kegiatan pengembangan Pusat Desain dan Rekayasa Kapal Nasional yang dilaksanakan di Technology Park ITS Surabaya. Selain itu Deperin pada tahun ini juga telah memulai kegiatan fasilitasi pengembangan pusat desain mebel di Jawa Tengah dan Jawa Barat, bekerjasama dengan pemda setempat.

Tahun 2008, Departemen Perindustrian memprojeksikan pertumbuhan industri akan mencapai 8,4 persen sehingga diharapkan mampu menyerap tenaga kerja 500 ribu orang.
[ Mi ]

Sumber : Business News, Page : 15 

 Dilihat : 4348 kali