26 Dessember 2007
2008, Investasi Saham Masih Menjanjikan

JAKARTA-Investasi saham pada 2008 diyakini masih menjanjikan seiring maraknya IPO. Pada 2007, rata-rata gain yang dihasilkan investasi saham secara keseluruhan mencapai 93,90%, sementara saham LQ 45 sebesar 87,50%.

Perolehan gain dari investasi saham jauh lebih tinggi dibanding portofolio lainnya. Berdasarkan data Investor Daily, pada periode 28 Desember 2006 19 Desember 2007, gain yang "diberikan reksa dana saham rata-rata 36,4%, menempati urutan kedua. Sementara itu, gain reksa dana campuran ratarata sebesar 25,1%, dan reksa dana tetap sebesar 7,26%.

Sedangkan investasi obligasi pada surat utang negara rata-rata memberikan gain 9-10%, Sertifikat Bank Indonesia (SBI) 8-9%, dan deposito 7-8%. Sejumlah analis mengatakan, investasi saham memberikan gain cukup besar karena risikonya juga tinggi.

Namun, jika pemodal rajin membeli saham-saham baru lewat penawaran saham perdana (IPO), umumnya perolehan gain cukup lumayan, namun investor tetap harus mencermati prospek perusahaan tersebut.

Hal itu diungkapkan Fund Manager PT Mega Capital Indonesia Ukie Jaya Mahendra, Equity Capital Market Strategist PT Trimegah Securities Satrio Utomo, Head of Research UBS Securities Joshua Tanja, analis PT Nusantara Investindo Sekuritas Arief Budisatria, pengamat pasar modal Muhammad Karim, praktisi pasar modal David Cornelis, dan Presiden Direktur PT Fitch Ratings Indonesia Baradita Katoppo di Jakarta, belum lama ini.

Pa,da 2008, sekitar 14 BUMlt akan meramaikan pasar saham, antara lain PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III, IV, dan VII, PT Pembangunan Perumahan, PT Waskita Karya, PT Krakatau Steel! dan PT Sucofindo, dan PT Jakarta Industry Real Estate, Kawasan Industri Medan, Semarang, Makassar, dan Surabaya.

Menneg BUMN Sofyan Djalil sebelumnya mengatakan, privatisasi BUMN ditargetkan terlaksana mulai Maret 2008, minimal satu BUMN setiap bulan.
Selain BUMN, sejumlah korporasi juga berencana menawarkan sahamnya melalui mekanisme IPO.

Hadirnya emiten-emiten baru di Bursa Efek Indonesia (BEI) diyakini mampu mengangkat indeks harga saham gabungan (IHSG) cukup signifikan. Menurut catatan Investor Daily, dari 45 saham blue chips yang masuk LQ 45, sebanyak 13 saham memberikan gain di atas 100%, dihitung pada periode penutupan transaksi Desember 2006 hingga 19 Desember 2007. 7bpgainer2007 adalah saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang mampu memberikan gain 538,9%, disusul PT Timah Tbk (TINS) sebesar 484,2%, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) sebesar 325,8%, PT Tambang Batubara Tbk (PTBA) sebesar 226,2%, dan Bakrieland Development (ELTY) sebesar 212,8%.

Primadona Kalangan analis meyakini, saham sektor energi, perkebunan, dan pertambangan masih menjadi primadona pada 2008 karena tren kenaikan harga minyak mentah dunia.

Meningkatnya konsumsi minyak yang tidak dibarengi kenaikan produksi secara signifikan menyebabkan harga minyak sangat sensitif terhadap berbagai isu.

Menurut data Energy Information Administration, pada semester 1-2007 produksi minyak mentah dunia mencapai 84,41 juta barel per hari, sedangkan konsumsi 84,38 juta barel per hari.

Baradita Katoppo mengatakan, sektor yang akan booming pada 2008 adalah sumber daya alam seperti perkebunan, pertambangan, dan energi. Selain itu, sektor telekomunikasi juga berpotensi tumbuh signifikan.

Pasar internasional pada semester 1-2008, kata dia, masih terpengaruh dampak krisis subprime mortgage, namun pasar nasional masih tetap kuat. Sebaliknya di semester IP2008, pasar nasional justru tidak seaktif semester I karena menjelang pemilu dan pasar internasional akan membaik.

"Ekonomi Indonesia tahun depan akan berada di outlook positif," ungkapnya. Head of Research UBS Securities Joshua Tanja memperkirakan pasar modal pada 2008 masih bullish, terutama didukung industri konsumsi. Analisis UBS Securities menyebutkan, pertumbuhan pasar modal akan didukung oleh lima sektor, yakni otomotif, semen, perbankan, barang konsumsi, dan pertambangan, khususnya batubara.

Sementara itu, David Cornelis dan Ukie menyarankan agar investor tetap mencermati pasar global terkait ancaman perlambatan ekonomi dan inflasi. "Sekali lagi, kunci penggerak pasar finansial 2008 adalah harga minyak, krisis kredit, laju inflasi, dan tingkat suku bunga," kata David. Ia memprediksi, IHSG pada 2008 bakal menembus kisaran 3.500 dengan catatan prospek ekonomi 2008 masih memberikan harapan.

Menurut Ukie, saham masih menjadi instrumen investasi yang menjanjikan tahun depan. Masyarakat, kata dia, semakin sadar bahwa investasi di pasar modal berpotensi memberikan gain lebih baik sehingga IPO 2008 diprediksi bakal sukses.

Muhammad Karim memprediksi, tahun depan investasi saham tumbuh di atas 50%. Hal itu dipicu masuknya investor Amerika Serikat (AS) dan Eropa ke emerging market, termasuk Indonesia.

Sementara itu, Satrio Utomo mengatakan, meski saham berpeluang memberikan gain signifikan, pemodal diharapkan lebih pandai .mengelola investasi. "Harga minyak dunia yang masih bertahan di kisaran US$ 90 per barel bisa memicu kenaikan harga BBM di dalam negeri," jelasnya. Selain itu, inflasi pada 2008 diperkirakan sulit dikendalikan.

Menurut dia, selama beberapa tahun terakhir, penopang pertumbuhan indeks dikontribusi saham pertambangan. Namun, kenaikan harga minyak saat ini dikhawatirkan dapat memangkas laba perusahaan di sektor itu. Meski demikian, dia mengaku, dibanding deposito dan obligasi, instrumen saham masih lebih menarik.

Reksa Dana Menurut Ukie, selain saham, instrumen reksa dana juga memberikan imbal hasil yang cukup tinggi, khususnya reksa dana saham. "Sepertinya, pada 2008 reksa dana akan mencatatkan rekor baru dalam total dana kelolaan, seperti pada 2005 sebelum terjadinya krisis," jelasnya.

Sedangkan obligasi, kata Ukie, tren penurunan suku bunga akan menurunkan minat investor berinvestasi pada portofolio obligasi mengingat imbal hasil yang diperoleh bakal turun.

Turunnya yield obligasi, kata dia, akan dimanfaatkan perusahaan-perusahaan untuk menerbitkan bond pada tahun depan. Portofolio deposito dan pasar uang, ujar Ukie, juga akan bernasib serupa dengan pasar obligasi karena imbal hasilnya kurang atraktif.

Sumber :  Investor Daily Indonesia, Page : 1 

 Dilihat : 3121 kali