24 Dessember 2007
BAJA

Harga seng baja (Baja Lapis Seng/BjLS) berukuran 0,2 mm semakin meroket hingga 42,8% atau mendekati Rp35.000/lembar akibat kenaikan harga BBM industri. Sebelum kenaikan harga BBM industri, harga BjLS ukuran 0,2 mm masih di kisaran Rp24.500/lembar. Menurut produsen seng baja yang tergabung dalam Gabungan Pabrik Seng Indonesia (Gapsi) menyatakan kenaikan harga jual di industri seng baja akibat lonjakan harga BBM industri terbukti membawa efek multidimensional yang merugikan, antara lain peredaran seng non standar yang lebih murah.

Kinerja produksi BjLS pada kuartal III/2007 anjlok hingga 30% akibat melemahnya daya beli konsumen, efek kenaikan BBM, pemberlakuan Bea Masuk (BM) HRC, dan kian membanjirnya produk produk BjLS di bawah 2 mm. Berdasarkan data Gapsi, produksi seng baja ukuran 2 mm pada kuartal III/2007 menjadi 77.000 ton dibandingkan periode yang sama tahun 2006 yang masih bisa mencapai 110.000 ton.

Menurut Ketua Umum Gapsi Ruddy Syamsuddin, penurunan ini masih akan berlanjut pada kuartal IV/2007 dengan total penjualan paling tinggi 80.000 ton. Pada kuartal IV/2006 konsumsinya tercatat 85.000 ton. Menurutnya, total produksi BjLS hingga akhir tahun 2007 diperkirakan hanya akan mencapai 394.455 ton, atau 34,3% dari total kapasitas terpasang nasional yang mencapai 1,15 juta ton. Realisasi produksi tahun 2007 ini masih lebih buruk dibanding tahun 2006 yang masih mencapai sekitar 410.000 ton.

Sementara itu, berdasarkan analisis internal yang dikeluarkan PT Krakatau Steel (KS), konsumsi HRC pada tahun 2007 ini akan mencapai sekitar 2,91 juta ton. Dengan asumsi peningkatan 10%,. pada tahun 2008 konsumsi baja domestik akan menyentuh 3,25 juta ton. Pada tahun 2008, peningkatan konsumsi HRC di pasar domestik terutama didorong oleh kian bergairahnya pembangunan infrastruktur dan realisasi ekspansi sejumlah produsen hilir baja berbasis CRC, antara lain industri tabung baja.

Meski diperkirakan meningkat, penyerapan konsumsi pada 3-4 bulan pertama semester 1/2008 masih akan melambat seiring penyesuaian daya beli konsumen akibat lonjakan biaya transportasi yang mempengaruhi harga baja domestik. Kenaikan ongkos angkut ini berpengaruh sangat vital bagi kinerja perseroan karena KS masih mengimpor bahan baku bijih besi dari Brasil, Chili, dan India. Penyesuaian biaya transportasi tersebut dipicu oleh kenaikan harga minyak dunia. Hai ini secara langsung akan meningkatkan harga baja di dalam negeri.

Di sisi lain, pemerintah menyatakan serbuan investasi China di sektor baja nasional tidak akan mengganggu pasar komoditas tersebut karena investasi tersebut hanya mengisi kekurangan kebutuhan baja domestik, bukan mengambil pasar yang sudah eksis. Menurut Dirjen Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka Depperin Ansari Bukhari, maraknya serbuan investasi asal China di sektor industri baja nasional hanya akan mengisi kekurangan produk di sektor hulu.

Saat ini satu-satunya produsen baja hulu hanya KS, namun produksi KS sekitar 2 juta ton/tahun belum dapat memenuhi seluruh kebutuhan dalam negeri yang mencapai 4 juta ton. Apalagi pasokan baja dart dalam negeri masih terbatas pada produk baja untuk konstruksi (low medium grade) dan belum memproduksi baja untuk kebutuhan mesin peralatan produksi dan otomotif (high grade).

Untuk itu, defisit kebutuhan baja di dalam negeri diharapkan dipenuhi oleh kalangan investor China. Justru dengan adanya investasi baru di sektor hulu diharapkan dapat berdampak pada pertumbuhan industri baja nasional, sehingga dapat memenuhi konsumsi baja nasional yang diperkirakan meningkat menjadi 10 juta ton per tahun pada tahun 2010.

Data Depperin menyebutkan saat ini sudah ada sejumlah perusahaan baja skala besar China yang berancang-ancang ekspansi dalam proyek pengolahan baja (steel making), antara lain Nanjing Steel dan China Nickel Resources dengan total investasi mendekati USD1 miliar. Sedangkan beberapa perusahaan baja China skala menengah yang telah eksis terus menambah kapasitasnya, antara lain PT Vacation International Indonesia di Sukabumi, Jabar, PT Oriental Pratama Indonesia di Banten, PT Fine Wealthy Indonesia di Bengkulu, PT Hoi Cheong Indonesia di Bangka Belitung, dan PT Sinar Nusantara Mitra Selaras di Kalsel.

Namun demikian, sejumlah pengusaha hilir baja mendesak pemerintah menaikkan tarif BM produk baja hilir antara lain pipa baja, profil, hingga BjLS untuk mengendalikan banjir produk impor. Wakil Ketua Umum Gabungan Industri Pipa Baja (Gapipa) Untung Yusuf mengatakan rencana kemungkinan pengenaan BM antidumping pada produk hulu, yakni HRC. Jika produk HRC impor terkena BMAD tentu akan memicu kenaikan impor secara besar-besaran untuk produk baja yang lebih hilir.

Jika terjadi serbuan produk-produk jadi, industri pengolah produk-produk hilir baja domestik dikhawatirkan bakal kolaps. Oleh karena itu, pengenaan BMAD produk HRC harus disinergikan dengan kenaikan tarif BM di sisi hilirnya sehingga keputusan itu membawa efek positif bagi industri baja nasional.

Sementara itu International Iron and Steel Institute (IISI) perusahaan pembiayaan terbesar untuk industri pengolahan baja menaikkan prediksi permintaan baja global penode 2008 menjadi 6,8/o. hal ini akan mendorong tingginya harga bahan logam tersebut. Sebelumnya, IISI mencatat secara global permintaan baja pada tahun 2007 naik 5% menjadi 1.179 miliar ton dari posisi tahun 2006 sebesar 1.121 ton.

Meningkatnya prediksi permintaan baja global ini dipicu aksi borong dari negara pasar berkembang. China dan Asia masih mendominasi pasar baja dunia. Permintaan baja China terutama untuk pembangunan infrastruktur dan konstruksi. Hingga akhir tahun 2007 akan naik 11,4% dan pada tahun 2008 naik lagi hingga 11,5%, atau 35% dari total permintaan global.

Demikian halnya dengan Rusia yang akan menambah konsumsi bajanya sebesar 25% hingga akhir tahun 2007 dan 9,5% pada tahun 2008 setelah adanya proyek konstruksi sumber energi baru. Brasil juga akan mencatat kenaikan permintaan baja 15,7% pada tahun 2007 dan 5,21% pada tahun 2008. Sedangkan AS, Kanada, dan Meksiko yang sempat mencatat penurunan permintaan baja sebesar 4,9% tahun 2007 ini, pada tahun 2008 akan mencatat pertumbuhan 4%. IISI mematok permintaan naik 6,8% pada periode 2008, atau lebih tinggi 0,7% dari prediksi sebelumnya. Permintaan untuk tahun 2007 juga meningkat 6,8% atau 0,9% lebih tinggi dari prediksi sebelumnya.(AI)

Sumber : Business News, Page : 21 

 

 Dilihat : 2890 kali