28 Agustus 2007
Impor Baja Ditataniagakan

JAKARTA: Pemerintah akan mengendalikan dan mengatur impor hot rolled coils (HRC/baja canai panas) lewat kebijakan tataniaga untuk mencegah terjadinya monopoli perdagangan bahan baku di industri seng baja domestik. Tataniaga impor baja tersebut juga.dimaksudkan untuk, menghindari kelangkaan pasokan bahan baku HRC di dalam negeri.

Rencana pengaturan itu ditetapkan menyusul penerbitan Peraturan Menkeu No. 85/PMK.011/2007 yang berisi keputusan penghapusan tarif bea masuk BM impor atas produk HRC.

Lewat kebijakan itu, Departemen Perindustrian akan memonitor aktivitas empat perusahaan baja nasional yang akan memasok HRC ke industri lokal lewat impor di samping menugaskan keempatnya untuk memperlancar pasokan CRC (baja canai dingin/cold rolled coils).

Keempat perusahaan baja yang ditunjuk itu adalah PT Krakatau Steel (KS), PT Essar Indonesia (Essar), PT Gunung Garuda, dan PT Little Giant di Semarang, Jateng. Keempatnya merupakan pabrik yang memproses HRC menjadi CRC. Dirjen Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka Depperin Ansari Bukhari menjelaskan keempat pabrik baja itu dianggap yang paling memanfaatkan keuntungan dari penghapusan BM tersebut.

"Karena itu, pemerintah akan mengatur mekanisme pasar yang adil [melalui empat perusahaan itu] agar tidak menguntungkan sebagian pihak saja. Selain itu industri pengguna CRC juga tidak kesulitan mendapatkan bahan baku. Pengaturan pasar ini langsung di bawah koordinasi Depperin," kata Ansari, kemarin.

Kuota
Skema pengaturan itu, papar dia, mencakup kendali jumlah pasokan HRC di dalam negeri yang disesuaikan dengan alokasi kuota impor bagi masing-masing perusahaan itu.

Menurut dia, kendali pemerintah tersebut hanya sebatas pengaturan kuota impor HRC yang selama ini tercatat sebanyak 400.000 ton.

"Nah, misalkan nanti ada [salah satu dari keempat perusahaan tersebut] mengimpor HRC melebihi kapasitas, ya pemerintah tidak memberikan izin,"
tegas dia.

Sayangnya Ansari tidak memerinci lebih lanjut volume kuota impor bagi masing-masing perusahaan. "Yang pasti keempat perusahaan tadi wajib melaporkan kegiatan importasinya kepada Depperin."

Kebijakan tataniaga impor baja tersebut, kata Ansari, sekaligus untuk menepis kekhawatiran Gabungan Produsen Seng Indonesia (Gapsi) yang beranggapan bahwa insentif penghapusan tarif bea masuk HRC dengan ketebalan maksimal 2 milimeter akan mendistorsi pasar domestik karena diduga hanya menguntungkan PT Essar yang memiliki pabrik terintegrasi."

Berdasarkan data Gabungan Asosiasi Perusahaan Besi dan Baja Indonesia (Gapbesi) total kebutuhan HRC nasional mencapai 1,4 juta ton per tahun, sementara total produksi per tahun rerata mencapai 1 juta ton sehingga terjadi defisit HRC per tahun mencapai 400.000 ton.

Sementara itu, alokasi konsumsi CRC terbesar atau sekitar 41% digunakan industri seng baja (baja lapis seng/BLS), 22% lainnya untuk sektor pengolahan gulungan baja, 9% untuk industri pipa baja, industri aluminium seng (8%), peralatan rumah tangga (2%), otomotif (2%), dan aplikasi lainnya hingga 100%.

Sumber : Bisnis Indonesia, 28 August 2007

 Dilihat : 3614 kali