14 Dessember 2007
Kapitalisasi Pasar BUMN di BEI Rp 654,36 Triliun

Manado-Nilai kapitalisasi pasar Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berstatus perusahaan terbuka (sahamnya tercatat di bursa) mencapai Rp654,36 triliun atau 35,36 persen dari total kapitalisasi pasar Bursa Efek Jakarta (BEJ) per 26 Oktober 2007.

"Kapitalisasi tersebut dari 12 BUMN terbuka dan dua perusahaan dengan kepemilikan minoritas oleh negara," kata Kepala Biro Hukum dan Humas Kementerian Negara BUMN, Herman Hidayat seperti beritakan Antara pada saat sosialisasi kebijakan Kementerian Negara BUMN di Manado, Kamis.
BUMN tersebut diantaranya PT Telkom Persero Tbk Rp 239,90 triliun atau market capital 12,96 persen, Bank BRI Rp 92,66 triliun atau 5,01 persen dan 12 BUMN lainnya Rp321,8 triliun atau 17,39 persen, ujar Herman.

Sementara data keuangan pokok BUMN tahun 2007 (data RKAP) terdiri total aset Rp807,02 triliun, total kewajiban Rp 410,51 triliun, total pendapatan Rp 652,59 triliun, laba setelah pajak Rp 37,76 triliun dan capex atau investasi Rp 150 triliun.

Untuk kontribusi BUMN lima tahun terakhir, yakni tahun 2002 Rp 41 triliun, tahun 2003 Rp47,6 triliun, tahun 2004 Rp 52,30 triliun, tahun, 2005 Rp56 triliun dan tahun 2006 Rp68,80 triliun.

Sementara itu,dividen yang dihasilkan oleh ratusan BUMN pada 2007 mencapai Rp22 triliun, melebihi target yang ditetapkan sebesar Rp19,1 triliun. Sekretaris Meneg BUMN M Said Didu, beberapa waktu lalu, mengatakan optimisnya bahwa dalam waktu tiga tahun (20072009), dividen BUMN diperkirakan akan mencapai Rp70 triliun.

Jumlah BUMN tahun 2007 ini sebanyak 139 buah, terdiri atas 14 Perum, 111 Persero, 14 Persero Tbk, dari jumlah tersebut jumlah sektor BUMN 35 buah dan Kepemilikan minoritas 21 buah.

"BUMN yang bertambah tahun ini, Perum LKBN Antara, BUMN Persero Tbk yang terdiri PT Jasa Marga Tbk dan PT Wijaya Karya Tbk, sedangkan likuidasi dilakukan terhadap PT Industri Soda Indonesia/'kata Herman.

Dr Agus Tony Poputra, SE,Ak,MM,MA, pengamat BUMN di Sulut, dalam pemaparan materi "BUMN Indonesia di Persimpangan Jalan" mengungkapkan kinerja BUMN di Indonesia saat ini secara umum masih lemah merupakan fenomena di negara berkembang.

Alasan kinerja lemah, kata Poputra, bukan karena BUMN milik negara melainkan diberikan banyak hak istimewa yang meninabobokan dan mencegah iklim persaingan sehat, serta terlalu banyak tugas pemerintah yang dibebankan ke BUMN.

Sebelumnya, beberapa waktu lalu, setelah tiga perusahaan negara, BNI, Jasa Marga, dan Wijaya Karya, Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil mengatakan tahun depan giliran 20 BUMN lagi segera menyusul diprivatisasi lewat mekanisme initial public offering (IPO).

BUMN tersebut, antara lain, PT Jasindo, PT Garuda Indonesia, PT Krakatau Steel, PT Bank Tabungan Negara, PT Merpati, PT Industri Soda Indonesia, PT Iglas, PT Cambrics Primisima, PT Jakarta International Hotel & development, PT Atmindo, PT Intirub PT Prasadha Pamunah Limbah Industri, PT Kertas Blabak, PT Kertas Basuki Rahmat, PT Garuda Maintenance, PT KHI Pipes, dan PT Bank Bukopin.

Sumber :  Harian Ekonomi Neraca, Page : 2

 Dilihat : 2651 kali