11 Dessember 2007
Proyek KS dan Antam Amankan Pasokan

JAKARTA. Proyek pembangunan pabrik pengolahan bijih besi, yang merupakan kerjasama PT Krakatau Steel (KS) dengan PT Aneka Tambang, naga-naganya berjalan mulus. Pabrik yang berlokasi di Kalimantan Selatan itu telah mendapat kepastian pasokan bijih besi dari dua produsen domestik.

Direktur Utama KS Fazwar Bujang mengatakan, proyek pengolahan bijih besi di Kalsel akan mendapatkan pasokan bijih besi sebanyak 450.000 ton per tahun untuk memproduksi baja kasar sebanyak 300.000 ton. Masa kontrak tersebut direncanakan akan berlaku selama 15 tahun dengan total pasok sekitar 6,75 juta ton.

"Pada intinya, kami sudah siap menandatangani kontrak jaminan pasokan bijih besi dengan dua produsen bijih besi lokal (di Kalsel). Dengan demikian, sekarang relatif sudah tidak ada hambatan lagi dalam proyek pembangunan pabrik pengolahan bijih besi di Kalimantan Selatan itu," kata Fazwar di Jakarta, Senin (10/12).

Periode 15 tahun merupakan jangka waktu minimum yang diminta KS. Dua produsen bijih besi yang akan memasok bahan baku untuk keperluan produksi pabrik patungan KS dan Antam itu adalah PT Silo dan PT Yiwan.Keduanya berkomitmen memasok kebutuhan KS sebesar 450.000 ton.

Saat ini, menurut Fazwar, KS dan Antam masih terus bernegosiasi untuk menentukan nilai kontrak pasokan byih besi selama 15 tahun tersebut. Yang jelas, harga kontrak akan disesuaikan dengan harga pasar.

Untuk diketahui, harga bijih besi domestik per November diperkirakan sekitar US$ 30US$ 33 per ton. Jika nilai kontrak tersebut mengacu pada ketentuan harga pada November, maka total nilai kontrak PT KS dengan dua perusahaan bijih besi itu diperkirakan antara US$ 202,5 juta-US$ 222,7 juta. "Tapi saya tidak bisa menyatakan segiulah," ucap Fazwar.

Yang jelas, menurut Fazwar, kesepakatan harga kontrak tidak termasuk biaya transportasi dan asuransi. "Kalau dibandingkan dengan ongkos angkut impor dari Amerika Latin ke pabrik pengolahan KS di Cilegon sekarang sudah US$ 60 per ton. Nah, kalau dari Kalimantan ke Cilegon tidak sampai US$ 8-US$ 10 per ton," ungkapnya.Jika pabrik pengolahan bijih besi telah beroperasi, KS berharap impor baja pada 2009 akan berkurang.
Havid Vebri

Sumber :  Havid Vebri Harian Kontan, Page : 18 

 

 Dilihat : 3986 kali