29 Agustus 2007
Lima Perusahaan Pipa Baja Terpuruk

JAKARTA - Sebanyak lima perusahaan pipa baja nasional terancam kolaps dan menjadi importir menyusul derasnya serbuan produk murah ilegal asal Tiongkok. Kondisi itu diperparah dengan permintaan pipa baja domestik yang anjlok 20% akibat tertundanya proyek-proyek infrastruktur serta minyak dan gas pada semester pertama tahun ini.

Kalangan produsen pipa baja menilai, pemerintah gagal menciptakan iklim usaha yang sehat di sektor ini sehingga tidak mampu mencegah pengurangan tenaga kerja sekitar 8.000 orang. Atas dasar itu, Gabungan Produsen Pipa Baja Indonesia (Gapipa) meminta pemerintah memberlakukan kuota impor pipa baja dari Tiongkok secepatnya.

Wakil Ketua Umum Gapipa Untung Yusuf menerangkan, kelima perusahaan pipa baja nasional yang terancam kolaps pada akhir tahun ini merupakan produsen skala mene ngah kecil. Mereka tak mampu bertahan karena kesulitan bersaing dengan produk murah asal Tiongkok yang berkualitas tinggi. ."Harga jual produk pipa Tiongkok saat ini hanya US$625 dolar per ton. Sementara harga bahan baku berupa baja canai panas (hot rolled coils/HRC) US$6oo per ton. Tentu saja industri pipa baja skala menengah kecil memilih jadi importir," paparnya, usai seminar internasional Wire, Cable, Tube, and Pipe Trade Fair for Southeast Asia, di Jakarta, Selasa (28/8).

Menurut dia, dari total 14 perusahaan pipa baja nasional yang menjadi anggota Gapipa, produsen skala kecil menengah antara lain PT Aneka Jakarta, PT Super Tata, hingga PT Sri Rejeki terhantam dampak langsung serbuan produk murah Tiongkok. Mereka hanya mampu jual rugi karena tak mampu lagi menutupi biaya produksi akibat tingginya harga ba han baku dan energi. "Fenomena produsen menjadi pedagang mulai terlihat dari 5 perusahaan pipa baja yang hampir kolaps karena tak mampu bertahan," jelasnya.

Sedangkan perusahaan-perusahaan pipa skala besar, lanjut dia, seperti PT Bakrie Pipe, PT KHI Pipe Industries (anak usaha PT Krakatau Steel), PT Bumi Kaya, PT Spindo, PT Indal, dan PT Seapi tak luput dari guncangan. Dengan kondisi seperti itu, Gapipa menilai menilai pada tahun depan seluruh industri pipa baja domestik akan mengalami injury berat. "Pada semester pertama tahun ini sektor ini hanya mampu berproduksi 250 ribu ton atau 25% dari total kapasitas terpasang nasional," tuturnya. Total kapasitas terpasang dari 14 perusahaan pipa yang tergabung dalam Gapipa mencapai 1,25 juta ton per tahun.

Kuota Impor Untuk mencegah kondisi industri pipa baja semakin buruk, dia menerangkan, pemerintah diminta menerapkan kuota impor pipa baja murah asal Tiongkok. Penerapan pengamanan perdagangan (safeguard) maupun bea masuk antidumping (BMAD) dianggap tidak efektif menahan keterpurukan industri pipa. "Kalau hanya safeguard, pelaksanaannya sering lolos. Amerika Serikat saja pernah membatasi impor pipa baja asal Tiongkok," ujarnya.

Saat ini, menurut Untung, Gapipa dan Komite Pengamanan Perdagangan Indonesia (KPPI) terus mengumpulkan data guna mendukung penerapan kuota impor itu. Advokasi penerapan kuota impor pun sedang diproses dan dilakukan lobi internasional. "Tapi kami masih butuh ketegasan pemerintah guna mendukung kebijakan ini," tuturnya.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian (Menperin) Fahmi Idris mengatakan, pemerintah akan mempertimbangkan usulan Gapipa mengenai skema kuota impor yang diterapkan terhadap produk pipa baja impor jika terbukti secara nyata telah mengganggu kinerja industri nasional. Karena itu, Fahmi meminta Gapipa menyiapkan seluruh data yang diperlukan untuk disampaikan kepada pemerintah. "Itu ada aturan mainnya,," kata Fahmi belum lama ini.

Sumber : Investor Daily Indonesia, Page : 22, Wednesday, 29 August 2007

 Dilihat : 3052 kali