10 Dessember 2007
Gunung Garuda Bangun Pabrik Rp100 miliar - Produksi 4 Jenis Baja Diprediksi Anjlok

JAKARTA: Produksi empat jenis baja sepanjang 2007 melorot. Bahkan, produksi pelat baja dan pipa baja (pipa lurus dan spiral) anjlok signifikan masing-masing 14,5% dan 21,2%.Produksi besi beton/profil ringan dan baja canai panas (hot rolled coik/HRC), hingga akhir tahun juga bakal mengalami nasib serupa, meskipun tidak sebesar yang dialami kedua jenis baja tadi.

Berdasarkan data Gabungan Asosiasi Produsen Besi dan Baja Indonesia (Gapbesi), penurunan volume produksi tersebut disebabkan oleh tidak beroperasinya beberapa unit pengolahan HRC milik PT Krakatau Steel yang sedang dalam perbaikan (overhaul), sehingga berpengaruh pada produksi HRC pada kuartal III/2007.Selain itu, distorsi yang terjadi di pasar dalam negeri akibat peredaran produkproduk pipa impor murah asal China telah menekan penjualan pipa nasional dan produk baja lainnya.

Data terkini yang dirilis Departemen Perindustrian mengungkapkan produksi HRC sepanjang 2007 diprediksi turun tipis 0,06% dari 1,658 juta ton menjadi cuma 1,657 ton. Dengan perkiraan Depperin tersebut, analisis internal yang dikeluarkan PT KS tentang konsumsi HRC yang pada tahun ini diproyeksikan bisa mencapai 2,91 juta ton, dipastikan melesat jauh.Secara rinci, data Gapbesi menunjukkan produksi pipa lurus/spiral merosot 21,2% dari 779.181 ton menjadi hanya 642.832 ton. Demikian halnya produksi pelat baja yang anjlok 14,5% dari 835.493 ton menjadi 729.673 ton, sedangkan produksi besi beton/profil ringan turun 4,4% dari 1,821 juta ton menjadi 1,744 juta ton.
Di tengah defisit pasok beberapa jenis baja tersebut, konsumsi baja pada tahun ini justru meningkat 5% hingga 8% terhadap capaian 2006. Akibatnya, aktivitas impor baja pada 2007 meningkat dibandingkan dengan 2006 yakni dari US$3,74 miliar menjadi US$3,78 miliar.
"Produksi baja yang tidak mencapai target itu salah satunya disebabkan oleh banjir impor HRC pada 2005-2006. Untuk tahun ini produsen baja domestik tak mampu mencukupi konsumsi karena terjadinya injuries," kata Fazwar Bujang Dirut PT KS saat dikonfirmasi, kemarin.
Meskipun empat jenis jenis baja tadi mengalami penurunan, produksi slab baja (komoditas hulu) diprediksi meningkat dari 1,29 juta ton menjadi 1,34 juta ton. Hal yang sama juga terjadi pada produk batang kawat baja yang naik dari 834.070 ton menjadi 919.562 ton.
Sementara itu, produksi pelat kaleng dari PT Pelat Timah Nusantara (Latinusa)juga naik dari 83.500 ton menjadi 86.423 ton.

Dia menambahkan harga HRC di pasar domestik dipastikan naik hingga US$700 per ton pada tahun depan, menyusul lonjakan harga minyak mentah dunia yang bakal menembus hingga US$120 per barel.Investasi Rp 100 miliar Secara terpisah, Direktur Industri Logam Ditjen ILMTA Departemen Perindustrian I Putu Suryawirawan mengungkapkan PT Semeru Surya Steel, anak usaha Gunung Garuda Group, telah melakukan ground breaking (peletakan batu pertama) untuk membangun pabrik baja kasar (pig iron) berkapasitas 120.000 ton di Tanah Laut, Kalimantan Selatan.
"Ground breaking-nya akan dilakukan pada Senin [hari ini]. Pabrik tersebut nilainya diperkirakan mencapai Rp 100 miliar dan dibangun mulai pertengahan Desember 2007. Pabrik itu dijadwalkan beroperasi dalam 2 tahun mendatang," papar Putu, akhir pekan lalu.

Sumber : Yusuf waluyo Bisnis Indonesia Page : T8 

 Dilihat : 2915 kali